drh. H. Didi Aswadi
Mengonsumsi Daging Ayam dan Telur, Aman
Minggu, 24 Jul 2005 09:50 WIB
- - Dokter hewan satu ini, penuh dengan suka dan duka bergaul dengan "pasien". Ia harus berani "bergaul" dengan hewan dari yang jinak sampai yang ganas. Tangannya masih berbekas luka gigitan anjing. Peristiwa itu dialaminya ketika mengawali kariernya di Kabupaten Kuningan Jawa Barat awal 1982. Ketika itu, ia harus melakukan vaksin untuk mencegah rabies."Anjing yang mau divaksin menggigit. Ini bekasnya masih ada," kata drh. H. Didi Aswadi sambil memperlihatkan bekas luka gigitan anjing di tangan kirinya itu. Itu terjadi, pada saat vaksinasi dilakukan, anjingnya meronta dan pemiliknya melepaskannya.Pengalaman itu tidak bisa terlupakan. Belum lagi pengalamannya ketika melakukan pemeriksaan penyakit kuku pada kerbau. Jarum yang digunakan pendek dan tidak diikat. Ketika kerbaunya mau disuntik, berontak dan menendang. Akibatnya, jarum lepas. "Jarum yang lepas itu sempat menempel ke sini (sambil menunjung dekat hidungnya). Meski jarum tidak menempel, tetapi sempat berdarah. Jadi, dokter hewannya malah yang "tersuntik". Karena pengalaman itulah, ia selalu menyarankan kepada dokter hewan yang ingin menyuntik binatang besar agar jarumnya diikat pakai benang," kata Didi, salah seorang penggagas dan penemu vaksin flu burung ini.Menurut suami dari Nining Suwarni (guru SMP Negeri 13 Tangerang), pengalaman bergaul dengan hewan ini sangat sulit dilupakan. Termasuk harus mengobati singa, harimau, dan gajah. Meski tiga hewan ini merupakan hewan sirkus yang relatif jinak, tetapi tentu sangat menakutkan. Peristiwa ini terjadi ketika ia masih mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor. Pria kelahiran Jakarta, 16 September 1956 yang kini menjabat Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang, menjadi incaran wartawan. Ia menjadi "bintang" di sejumlah stasiun televisi, terlebih karena kasus kematian beruntun Iwan Siswara Rafei (38) dan dua putrinya akibat flu burung. Namun, ia merendah ketika disebut sebagai penemu flu burung. "Saya bukan penemu. Saya hanya penggagas dan mengkoordinasikan. Hanya saja, ketika itu saya pasang badan kalau terjadi kegagalan dalam vaksin itu," ujar ayah dari tiga anak ini, yaitu Siti Hutami Aswadi (mahasiswa), Andi Mulyawan dan Wirayanto Natanegara (pelajar). Ayahnya, H. Carsim yang seorang guru SMP adalah berasal dari Indramayu. Sedangkan ibunya Hj. Sukemi berasal dari Jakarta. Lahir di Jakarta dan sempat mengaku hidup lama di dua kota, yaitu Indramayu (hingga tampat SMA) dan juga di Kota Serang-Banten.Ada satu pesan ayahnya yang selalu terngiang di telinganya. "Kalau mencangkul di sawah, jadilah benar-benar mencangkul. Kalau ditemukan belut, ambillah dan jangan makan sendiri. Jangan bermaksud mencangkul untuk mendapatkan belut. Kalau seperti itu, nantinya ya, akan terus mencari belut sampai ke tempat yang seharusnya tidak perlu dicangkul," ujar Didi penggemar bridge dan sempat meraih hadiah perunggu pada Porda Jabar tahun 1986.Berikut petikan wawancara Wartawan Pikiran Rakyat H. Mangarahon Dongoran dengan pria yang suka humor ini:Bagaimana Anda melihat kasus flu burung ini?Saya berpikir positif saja. Anggaplah kasus ini sebagai anugerah dari Allah. Mengapa anugerah? Karena di balik itu biasanya ada pemecahannya dan punya sesuatu yang baik buat manusia. Untuk kasus flu burung ini terakhir di kita (Kab. Tangerang) terjadi akhir tahun 2003. Namun, pada Februari 2005, pengamatan diperluas. Dulu diamati pada unggas, diperluas pengamatannya pada babi (b2). Ternyata di b2 ada. Karena itu, kita di lapangan berpikir harus ada penanganan terhadap masalah ini. Kasus ini seolah-olah menyalahkan ayam piaraan atau burung. Bagaimana menurut Anda?Saya kurang sreg dengan pendapat yang demikian itu. Kita tidak boleh menyalahkan hewan, karena hewan itu juga ciptaan Allah. Jika menyalahkan ciptaan-Nya berarti sama juga menyalahkan pencipta-Nya. Saya sangat melarang staf saya untuk menyalahkan ciptaan Allah.Saya kembali pada Allah yang pada dasarnya menciptakan lima di alam ini. Yang pertama benda. Allah hanya memberikan satu hukum pada benda ini, yaitu hukum sebab akibat. Kedua nabati, diciptakan mulai dari sel satu sampai sempurna, beri dua hukum, yaitu hukum sebab akibat dan hukum tumbuh. Ketiga hewani. Pada hewani sama dengan nabati, mulai sel satu sampai sempurna. Hanya pada hewani hukumnya makin sempurna, mulai dari hukum sebab akibat, tumbuh dan hukum dipindah/bergerak, termasuk instink. Keempat, malaikat dan setan. Itu tidak banyak dibahas karena menyangkut alam gaib atau beda alam dengan kita. Kelima, manusia. Semua hukum diberikan kepada manusia. Ada satu hukum yang paling tinggi yang diberikan kepada manusia, yaitu hukum memilih. Di situlah (hukum memilih- red) tingkatan kesempurnaan manusia dibanding empat ciptaan lainnya. Dengan hukum memilih tadi, manusia akan menggunakan akal, hati, dan dasar-dasar yang diberikan pencipta-Nya berupa Alquran dan hadis. Allah sudah menyebutkan dalam Alquran bahwa suatu saat manusia itu akan sama dan berada di bawah hewan. Artinya, dalam memilih tadi manusia tidak lagi menggunakan dasar-dasar hukum manusia yang maha sempurna. Dari kasus flu burung ini, apa yang bisa diambil hikmahnya?Ada tiga pesan yang bisa diambil dari kasus flu burung ini. Pertama, pesan untuk pemerintah, pesan untuk masyarakat, dan pesan untuk pelaku bisnisnya. Saya kira, dari ketiga pesan itu, ada satu pesan universal (umum) yang juga telah digariskan oleh Allah. Yaitu, kita harus memelihara, harus memanfaatkan, dilarang merusak, dan dilarang berlebihan. Melalui kasus ini, diharapkan akan timbul pemikiran baik itu pada pemerintah maupun pelaku bisnis di bidang peternakan, betapa pentingnya revitalisasi kehewanan.Bagi masyarakat, melalui kasus ini diharapkan ada penyadaran bahwa ciptaan Allah itu harus diurus betul. Jangan hanya mengambil manfaatnya saja. Kita melupakan apa yang harus dikembalikan kepada alam dan kepada orang lain. Kepada orang lain, barangkali para pemilik ternak Muslim -- mungkin selama ini belum mengeluarkan zakatnya. Mungkin mengurusnya belum sesuai dengan harapan. Saya berharap dengan kasus flu burung ini, masyarakat akan semakin tergugah dan kembali berpikir bahwa hewan juga adalah ciptaan Allah. Pelaku bisnis diharapkan ada kesadaran bahwa ke depan masih banyak hal yang harus diperhatikan dalam usaha mengamankan manusia agar mendapatkan hewan-hewan yang sifatnya aman, layak dikonsumsi, dan halal. Selama ini, mungkin masih ada yang menjualnya kurang sehat, malah menjual yang sudah bangkai. Mungkin, menjual hewan yang kurang sehat memang tidak tampak pada orang awam, tetapi Allah akan tetap melihatnya. Bagaimana dengan keraguan masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam dan telur?Saya sudah sampaikan lewat media. Pagi ini (Rabu 20/7), saya juga sampaikan melalui stasiun radio bahwa mengonsumsi daging ayam dan telur, aman. Cuma, ayam harus dimasak. Menurut ilmunya dan sudah dipraktikkan di lapangan, dengan pemanasan 70 derajat Celcius, virus avian influenza (AI) akan mati dalam tempo dua menit. Kalau dengan 80 derajat, kurang dari satu menit sudah mati. Apalagi panasnya mencapai 100 derajat, saya kira baru masuk saja sudah mati. Jadi, tak usah takut. Demikian juga mengonsumsi telur, termasuk telur mentah. Hanya saja, terhadap mereka yang suka makan telur mentah diminta disiram dulu dengan air panas. Yang disiram, telurnya. Sebab, di dalam telurnya tidak ada virus itu. Yang ada di luarnya (kulitnya). Itu pun kalau tercemari. Kalau tidak tercemari, tidak apa-apa. Kalau mau makan telur mentah, siram dulu luarnya dengan air panas. Bagaimana tinjauan dari segi teknologi kehewanan?Saya kembali ke tahun 2003. Ketika ditemukan kasus matinya ratusan ribu ayam. Tidak diketahui kasusnya apa. Semua panik, termasuk petugas kesehatan dan peternaknya. Saya mengajak teman-teman di peternakan untuk mengolah kasus tersebut yang positif ke depan. Semua yakin, matinya ternak ayam ketika itu bukan karena bakteri dan parasit, tetapi virus. Kalau virus, maka kita diyakini tidak ada obatnya. Yang bisa dilakukan adalah vaksinasi. Ketika itu saya menawarkan kepada teman-teman untuk membuat vaksin autoimun (vaksin kekebalan pada hewan). Kalau vaksinya bagus, kita kasih ke pemerintah, atau ke pabrik mana. Dibuat vaksin yang bagus. Para peternak menanggapi positif gagasan tersebut dan mereka siap membiayainya. Ketimbang habis-habisan, misalnya, ternak mati ribuan, kerugian puluhan juta, maka dengan vaksin akan terhindar. Pengusaha siap dana dan siap menggunakannya.Anda penemu vaksin flu burung?Waktu itu saya mengoordinasikan. Kemudian saya mencari orang yang bisa membuat vaksin itu. Saya sendiri, walaupun bidangnya dan bisa, tetapi sudah lama tak menekuni itu (vaksin). Kemudian, saya pun menawarkan kepada Dr. Nur Rahardjo. Waktu itu, bulan Ramadan tahun 2003, menawarkan agar bertemu dulu pada pukul 19.00 WIB. Tetapi, ditunggu sampai pukul 21.00 WIB, tidak muncul. Padahal, pertemuan dimaksud untuk membicarakan pembuatan vaksin. Ternyata, ketidakhadirannya itu, karena takut. Artinya, takut kalau-kalau vaksinnya itu tidak berhasil. Sebagai PNS, Pak Nur takut, kalau vaksin nantinya justru mematikan banyak ternak. Saya minta malam itu juga hadir karena sudah ditunggu para peternak. Untuk meyakinkanya, saya berikan jaminan. "Kalau terjadi apa-apa, Pak Nur tak usah ngomong. Saya yang tampil ke depan. Kalau sukses, Pak Nur akan saya sebutkan. Saya mengamankan kalau terjadi apa-apa. Saya yang tampil ke depan, kalau vaksin itu tidak berhasil."Waktu itu, saya beri deadline agar sebelum Idulfitri (2003), ayam-ayam sudah divaksin semua, sehingga Idulfitri tenang. Para peternak pun dalam pertemuan itu sudah menyampaikan siap menerima jika seandainya ayam yang divaksin mati. Empat hari sebelum Idulfitri, vaksinnya sudah jadi. Selesai hari Sabtu, dan malam Minggu 200.000 ayam langsung divaksin di tujuh peternak. Setelah divaksin, semuanya penyakitnya langsung menurun. Kemudian, dibuat lagi dalam jumlah yang sama dan juga turun. Ketika tahun 2004 kembali ribut akibat kematian ayam yang besar-besaran di daerah lain, kita di Tangerang aman.Perkembangan vaksin itu sekarang bagaimana?Sekarang sudah diambil perusahaan swasta. Pemerintah juga mendorong pengembangan vaksin itu. Saya tidak berpikir mendapatkan royalti atas temuan vaksin itu. Yang penting, bisa dinikmati masyarakat. Kita bekerja dalam bentuk tim (tujuh orang) untuk menemukan vaksin itu. Saya hanya penggagas, mengoordinasikan untuk itu, termasuk mencari sumber pendanaan. Saya bertanggung jawab, karena semua takut. Saya tidak berpikir negatif, setelah vaksin yang kami temukan itu diambil swasta. Saya ambil positifnya. Saya senang, karena peternak Indonesia terselamatkan dengan vaksin itu.Ada pengalaman menarik selama "bergaul" dengan hewan?Ya, tahun 1980. Pengalaman dengan hewan banyak. Alhamdulillah, Allah ciptakan saya agar bisa "bergaul" dengan hewan, mulai dari yang berkaki dua sampai yang tergalak. Orang takut pada singa, harimau, gajah, tetapi saya sudah pegang dan tangani semua. Saya pernah masuk ke kandang singa, harimau, dan gajah. Pengalaman ketika mengobati singa di Bogor. Meskipun singa sirkus, tetapi teman-teman saya takut. Ketika itu saya masih koas. Saya sudah sarjana kedokteran, tetapi masih koas. Dari sekian ekor singa sirkus, satu tidak bergerak. Minta diobati. Temannya tak ada yang berani. Apalagi, rata-rata teman-temannya pacaran sesama angkatan. Ketika cowoknya mau, maka ceweknya melarang jangan. Saya kan jomlo dan saya masuk. Sebelum masuk, ia bertanya apakah singa itu sudah lama dipelihara. Ternyata sudah lama. Teorinya, lidah hewan karnifora kasar. Ternyata ketika masuk tiga ekor yang sehat langsung menyerbu. Oleh pawangnya diminta agar ia tidak bergerak. Saya kaget juga ketika diserbu. Tetapi, yang saya rasakan, kok lemas. Ternyata setelah saya perhatikan, singa itu menempelkan hidungnya ke pipinya, belum lidahnya. Setelah itu, maka kemudian singa yang sakit diperiksa. Caranya, meraba bagian-bagian yang diduga sakit. Periksa matanya, hidungnya, gigi, dan lalu diperiksa temperaturnya. Kemudian, singa yang sakit itu diraba dadanya, perutnya. Ketika meraba pinggangnya, singa langsung meraung. Disimpulkan sakit ginjal dan diobati, ternyata sembuh.Baru sehari mengobati singa, kemudian diminta lagi mengobati harimau. Karena berhasil mengobati singa, saya pun diminta dosen kembali untuk mengobati harimau. Padahal, jadwal koasnya sedang libur. Saya masuk kandang harimau. Ternyata harimau itu sakit radang perut. Setelah diobati sembuh. Tiga hari kemudian saya dipanggil lagi mengobati gajah. Ketika mengobati gajah ini, ada pengalaman yang tidak terlupakan. Itu terjadi ketika ekor gajah mengusir lalat, tetapi pukulannya malah ke badannya. Itu terjadi ketika ia diperintah mengambil kotorannya untuk diperiksa. Nah, ketika itu tidak ada yang memegang buntutnya. Rupanya, gajah itu kegatalan karena ada lalat. "Ternyata ekor gajah itu berat dan pukulannya sakit," kenangnya. Ternyata, gajah yang diobati akhirnya mati. Yang lucunya, setelah mati tidak ada yang mau membedah bangkainya. Dan itu saya lakukan lagi.
(/)











































