DetikNews
Sabtu 13 Mei 2017, 06:02 WIB

Wawancara

Menteri PPPA: Negara Muslim Jadikan RI Model Pemberdayaan Perempuan

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Menteri PPPA: Negara Muslim Jadikan RI Model Pemberdayaan Perempuan Menteri PPPA Yohana Yembise. Foto: Bagus Prihantoro Nugroho/detikcom
Jayapura - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengklaim kasus kekerasan terhadap perempuan sudah menurun. Wilayah Indonesia timur menjadi fokus dalam pembangunan perempuan.

Rupanya kiprah Yohana membangun pemberdayaan perempuan di Indonesia dilirik oleh negara lain. Banyak negara muslim yang menjadikan Indonesia role model pemberdayaan perempuan dan meminta Yohana menjadi pembicara.

detikcom berbincang dengan Yohana tentang hal tersebut. Berikut wawancara lengkap bersama dengan Yohana saat ditemui di Bandara Sentani, Jayapura, Papua, Selasa (9/5/2017):

Bagaimana menurut Ibu tentang kondisi sosial perempuan dan anak-anak di Papua saat ini?

Kalau kita lihat kondisi sekarang terjadi perubahan yang besar jadi dari bidang saya Kementerian PPPA yang menangani isu perempuan dan anak, kami selalu datang ke Papua karena instruksi presiden perhatian pertama ke Indonesia timur untuk menurunkan angka, artinya ketimpangannya paling banyak Indonesia timur khususbya di Papua, saya datang ke sini dengan tim kami dari kementerian untuk sosialisasi turunkan angka kekerasan perempuan dan anak dan saya lihat seperi di radio tiap pagi bangun pagi diawali lagu kami yaitu akhiri kekerasan anak dan perempuan dan turunkan human trafficking dan ekonomi barrier yang dihadapi perempuan yang masih rentan. Kami sosialisssi terus dan masyarakat semakin sadar peremouan dan anak perlu dilindungi dan itu terlihat banyak tanggapan ke saya bahwa suara saya yang tiap hari muncul menunjukkan negara hadir, terutama dalam hal menurunkan angka kekerasan. Saya pikir kami datang beri sumbangan mesin untuk industri rumahan yang masih rentan dan beri semangat mereka maju membangun apalagi kalau mama-mama Papua merasa minder, merasa percaya diri kurang. Mereka melihat bahwa mereka punya potensi dan harus percaya diri untuk bangun daerah masing-masing dan perempuan mulai percaya diri dan bangkit untuk bersama kami.

Biasanya kekerasan terhadap perempuan di Papua disebabkan oleh apa?

Paling tinggi ya kekerasan biasanya dari minuman keras dan itu budaya patriarki di mana power laki-laki lebih tinggi. Dari sini jadi apa saja mereka lakukan tanpa pikirkan bahwa perempuan harus dilindungi jadi masyarakat belum sadar tapi makin hari makin sadar kalau peran perempuan penting.

Apakah ada adat setempat yang mendiskriminasi perempuan?

Yang mendiskriminasi pasti ada, Papua paling tinggi sangat tinggi sekali, sepeti contohnya gini, saya belum buktikan itu tapi asumsi saya kalau perempuan dibayar maskawin besar sekali itu laki-laki merasa besar, bisa berbuat apa saja dan orang tuanya bilang kalau perempuan sudah dimiliki laki-laki ya terserah itu kamu harus tunduk ya itu yang dilakukan. Jadi peremouan merasa terikat oleh adat ini. Namun setelah saya muncul menunjukkan bahwa perempuan juga bisa, mereka merasa perempuan Papua bisa. Saya sebagai inspirator dan motivator rasanya seperti membuka keran air yang tadinya ini dibuka keluar semua dan perempuan merasa dibuka jalannya untuk tampil.

Apakah Anda memotivasi perempuan Papua untuk bangkit?

Saya pikir Pak Presiden pilih saya memberikan motivasi. Artinya kita tak sangka peremouan Papua jadi menteri, yang jelas laki-laki yang biasanya muncul. Saya juga tak pikir tapi saya dipanggil tapi ya ini sudah kenyataan seperti itu yang penting kita tunjukkan kita bisa buat perubahan dan kerja maksimal. Perempuan di Indonesia kan ada 123 juta jiwa, anak-anak 87 juta jiwa, itu bukan pekerjaan gampang. Beban saya cukup berat di samping perhatikan perempuan Indonesia, di negara-negara muslim juga pakai kami jadi role model. Jadi saya pikirkan di sini yang lain minta
Saya pergi Jeddah, Iran, ini nanti saya ke Afganistan. Yang undang first lady-nya. Saya mau minta izin Pak Presiden, karena mereka bingung mau ganti siapa pembicaranya kalau saya tak pergi.

Mengapa mereka memilih Ibu sebagai pembicara di sana?

Karena Indonesia dipandang negara besar muslim country yang perempuannya dipandang. Terus ini diminta di Suriah juga (jadi pembicara). Tinggal kita siap saja ya, tapi kita bereskan dalam negeri dulu. Kita punya undang-undang kekerasan, angka kekerasan diturunkan sehingga jadi modal kita untuk bisa membagi pengalaman dengan negara-negara muslim yang ada.
(bag/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed