DetikNews
Jumat 30 Desember 2016, 17:30 WIB

Wawancara (2-Habis)

Kapolda Metro: Hoax di Medsos Jadi Bisnis, Perlu Ditemukan Pengorder

Mei Amelia R, Nograhany Widhi Koesmawardhani, Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Kapolda Metro: Hoax di Medsos Jadi Bisnis, Perlu Ditemukan Pengorder Foto: Agung Pambudhy
FOKUS BERITA: Bijaklah Gunakan Medsos
Jakarta - Informasi hoax yang provokatif di media sosial (medsos) makin meraja lela di musim Pilgub DKI. Bahkan info hoax di medsos sudah menjadi bisnis.

"Ini medsos sudah bisnis, ada cyber war, tim bully, tim penggiringan, tim fitnah pemutarbalik fakta, ada semua. Dikirim ke sekian ribu nomor.. Ini bisnis semua, senang-senang saja ahli Medsos yang diorder," demikian diungkapkan Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan.

Kapolda Iriawan mengatakan hal itu saat diwawancara detikcom pada Rabu (28/12/2016) lalu yang ditulis Jumat (30/12/2016). Polda Metro Jaya, imbuhnya, pasti akan menelisik siapa saja yang memesan jasa penyebaran informasi bohong yang memecah belah.

"Yang perlu ditemukan kan ketemu siapa pengordernya. Buktinya kan agak sulit. Ahli Medsos tak mungkin bicara "Oh saya diorder ini", kan tak mungkin. Kalaupun mau bayar, mereka juga pintar, tidak mungkin transfer," jelas dia.

Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan tentang media sosial yang makin berisik saat perhelatan Pilkada DKI:

Mengenai ujaran kebencian di medsos di masa Pilgub DKI ini ramai sekali. Kasus Ahok dimulai juga dari medsos. Apakah Polda Metro Jaya sudah mengawasi beberapa akun yang melakukan ujaran kebencian? Dan apa saja antisipasinya?

Ada beberapa yang kami tindak lanjuti, yang kami ambil, yang memutarbalikkan pernyataan Kapolri, dan lainnya kami lakukan. Kami kerja sama dengan Menkominfo, untuk memblokir kan referensi dari kami, kalau memang itu bisa buat situasi jadi panas, kami lakukan patroli itu. Tentu satu-satu kami lakukan.

Orang berpikir berkaitan dengan UU ITE yang baru, bukan saja yang memuat tapi yang meneruskan, menyebarkan juga jadi masalah.

Dari kasus video Pak Ahok bermunculan saling melaporkan terkait SARA. Rizieq Shihab juga dilaporkan balik terkait penistaan agama oleh PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia). Ini sudah menjurus ke konflik sektarian. Bagaimana antisipasi polisi agar ini tak berkembang ke konflik horisontal?

Orang ada yang melapor, silakan saja ke aparat penegak hukum, kami akan proses dengan aturan yang ada. Ada laporan, kami lakukan lidik, pemeriksaan saksi dan sebagainya. Serahkan ke kami saja. Kalau mau turun (melakukan aksi/demo-red) kami akan bersiap menjaganya.

Aksi yang meminta Rizieq Shihab ditangkap karena pelaporan penistaan agama yang dimulai dari Katedral pada 31 Desember 2016, sudah ada pemberitahuan?

Pemberitahuan belum ada, tapi kami siapkan apapun yang terjadi. Kami imbau serahkan pada kami (proses hukum). Pergantian tahun mereka menekan polisi, kalau ada bukti, kami akan proses.

Ada kekhawatiran hal ini menjurus pada konflik nyata seperti di Poso dan Ambon...

Insyallah nggak sampai ke sana. Sidang Pak Ahok juga, kan masing-masing punya visi dan misi berbeda. Kalau turun (demo/aksi), kami kemarin nggak ada masalah massa demikian besar, tentunya kalau turun kami siap menjaga, toh kami sudah komunikasi dengan mereka baik di 411, 212, intel dengan beberapa polres komunikasi dengan teman-teman yang mau turun.

Apakah ada informasi aksi damai lagi pada Januari dan Februari 2017 ini, bagaimana Pak?

Saya belum terima info, tapi selentingan sudah ada. Apalagi kan. Disidangkan sudah. Tuntutannya kan supaya Ahok diproses hukum. Nah ini kan sedang proses.

Bila tuntutannya Ahok mesti dibui bagaimana?

Itu nanti pengadilan yang tentukan, hakim tidak bisa ditekan, hakim otonom, punya keyakinan. Polisi sudah cepat, jaksa sudah cepat luar biasa. Silakan nanti... siapa lagi yang hormati kita negara hukum kalau nggak kita?

Berapa hukuman dan bagaimana hasilnya kami serahkan pengadilan.

Dalam rangkaian kasus Ahok, polisi luar biasa menaruh perhatian perjalanan kasus sampai sidang. Nanti kalau ternyata dalam sidang putusannya ini tak sesuai dengan harapan yang dituntut massa, bagaimana antisipasi polisi, semacam analisa intelijen dan kemungkinan-kemungkinannya?

Pasti ada plan A, plan B. Kalau diputus kena (bersalah) bagaimana, percobaan bagaimana, bebas bagaimana. Kami sudah siapkan kalau kena pengamanan begini, kena pidana, kurungan badan, percobaan yang begitu lakukan lagi langsung masuk, satu lagi bebas, sudah...

Jadi Plan A sampai Z sudah siap?

Pasti. Kami sudah lakukan itu. Termausk waktu kami hadapi 411. Sampai anarkis, sampai selesailah. Termasuk kami prediksi 411 di beberapa tempat akan dihajar, kami sudah tahu. Ada yang merusak sedikit itu wajar, 60 lokasi ada merusak sedikit wajar, kami evaluasi, bagaimana kok bisa begini, polisinya juga sedang patroli, kami sudah bisa prediksi.

Begitu di Penjaringan terjadi (rusuh), di tempat lain sudah siaga.

Ada kekhawatiran pola konfliknya direplikasi di daerah lain untuk Pilkada serentak 2017. Bagaimana sharing dengan Polda-polda lainnya?

Kalau di daerah lain kami belum tahu ya. Masyarakat lain sudah pintar, kami sudah siap dengan pengamanan. Kalau kurang pasukan kami bisa berkoordinasi dengan berbagai Polda, eskalasi pasti ada tahapan, kami memonitor. Kami juga analisa kalau terjadi, apa yang bisa kami lakukan, langkah apa yang kami lakukan.

Bagaimana dengan yang mengaku Dragon TV? (Sebelumnya, Iriawan mengatakan ada yang mengaku Golden TV di Youtube yang menyiarkan berita bahwa TNI AD bakal diserang, bakal berulang tahun 65 seperti Cakrabirawa mengambil para jenderal pada tahun 1965-red).

Tak ada kaitan dengan Dragon TV China, ya youtube saja

Sudah ketahuan siapa di balik yang mengaku-aku Dragon TV itu?

Pekerjaan kami bertubi-tubi. Yang pernting tak terjadi masalahnya (makar), pelan-pelan kami akan ke sana. Antisipasinya bukan Dragon TV-nya kami konfirmasi, tapi dengan Dragon TV di China, tak ada kaitannya. Akan mengarah ke sana, pelan-pelan karena banyak sekali yang kami kerjakan.

Termasuk banyak foto-foto yang diedit seperti foto Kapolri memakai topi Santa, Presiden Jokowi disebut satu keluarga dengan Pak Ahok dan Ibu Mega, banyak sekali.

Sudah diidentifikasi belum, siapa di balik akun-akun penyebar fitnah itu?

Patroli identifikasi sudah kami lakukan, ada foto Kapolri pakai baju sinterklas, orang akan ketawa, nggak mungkin, malah jadi ketahuan nggak benernya, jadi ketahuan bodoh itu.

Jadi apa akun-akun penyebar kebencian itu cyber troops yang melakukan cyber war?

Pastilah. Ini medsos sudah bisnis, ada cyber war, tim bully, tim penggiringan, tim fitnah pemutarbalik fakta, ada semua. Dikirim ke sekian ribu nomor.. Ini bisnis semua, senang-senang saja ahli medsos yang diorder.

Yang perlu ditemukan kan ketemu siapa pengordernya. Buktinya kan agak sulit. Ahli medsos tak mungkin bicara "Oh saya diorder ini", kan tak mungkin. Kalaupun mau bayar, mereka juga pintar, tidak mungkin transfer.

Lama-lama orang kan bisa 'baca' juga. Masyarakat Jakarta sih sudah pintar. Kalau ada orang demo masalah Pak Ahok lagi, akan pada ketawa, kan sudah diproses hukum. Mau apalagi?

Medsos kan tidak menjangkau Jakarta saja, tapi bisa mempengaruhi orang se-Indonesia?

Ya memang betul, berpengaruh ke seluruh Indonesia, tapi buat kami kalau mengarah situasi masalah Jakarta kan buat masyarakat Jakarta saja. Saya tanya ke teman-teman di daerah, ketawa saja, nggak pengaruh juga.

Jokowi dikatakan PKI, ketawa aja, karena orang sana tahu bahwa Pak Jokowi bukan PKI. Kan ketahuan dicari keluarganya, ke rumahnya sana, siapa dia, dia juga akan bicara, gampang, dicari kartu keluarga, bapak-ibunya siapa. Kan luar biasa sekarang, terlalu jahat medsos tak bertanggung jawab, bilang Pak Jokowi anak dan ibunya beda 8 tahun, nggak ada, silakan tanya ke sana, ke rumahnya.

Lama-lama orang akan mengerti juga, kami akan tindak lanjuti. Tapi Pak Jokowi ini orangnya santun sekali, dia tak mau lapor dia itu.

Ini ada isu perang berbau SARA di medsos terkait pelaporan PMKRI atas Rizieq Shihab?

Itu kembali orang yang memprovokasi dan memecah belah itu, orang kita sudah pintar. Umat Islam kemarin tujuannya satu, bukan ke China tapi ke saudara Ahok, kebetulan keturunan Chinese, berarti itu perorangan.

Saya imbau tak usah terpengaruh, tak usah diadu domba di medsos, negara kita kan keempat terbesar di dunia (warganya), terbesar umat muslimnya di dunia dan sekarang masih bersatu. Baik Indonesia maupun sesama umat masih satu, tak sepeti di Timur Tengah dengan penduduk yang kecil, terpecah belah tercabik-cabik. Kita masih melihat, kenapa ini. Pasti ada grand design dan kekuatan besar untuk itu (memecah belah).

Di kita kemungkinan itu ada, masyarakat mesti waspada, jangan sampai terpecah belah. Kalau sampai seperti itu, terpecah belah, recoverynya lama. Pengelaman di Poso dan Ambon itu sampai 10 tahun. Ini yang kami sampaikan. Indonesia masih damai-damai saja dengan kebhinnekaan, berapa bahasa, berapa suku kita ini.

Mobilisasi aksi bela Islam juga banyak yang dari luar kota, apakah itu juga berkat kekuatan medsos?

Ya mereka melihat agamanya dinistakan, mereka bersama-sama ingin menyampaikan aspirasinya agar Ahok diproses hukum. Mesti dibuktikan lagi di pengadilan kalau itu.

Begitu informasi 411 sudah sampai ke mana-mana, jadi perhatian dunia. Alhamdulillah semua lancar, bubar nggak ada masalah, bahkan gubernur bilang tak ada satu rantingpun yang patah, tak ada satu rumputpun yang rusak, berapa banyak padahal (massa). Dilihat sendirilah.

Berkat Yang Maha Kuasa, Allah SWT, ini juga momentum menunjukkan "Ini Indonesia" ke dunia luar. Kawan saya kepala polisi Brunei, dia telpon saya "Bagaimana kamu tuh, demo besar tapi aman saja. Itu sama saja dengan penduduk Brunei turun semua". Itu pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa, saya jawab begitu. Menghadapi 411 itu memang saya perintahkan soft, untuk lunak. Batas pagar beton 100 meter saya taruh, supaya anggota saya tak boleh lewati sana.
(nwk/erd)
FOKUS BERITA: Bijaklah Gunakan Medsos
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed