DetikNews
Rabu 07 Desember 2016, 08:00 WIB

Wawancara

Menhub Budi Karya: Kalau ke Papua, Memang Mesti Tergelitik Berbuat Lebih Banyak

Mega Putra Ratya, Nograhany Widhi Koesmawardhani, Dana Aditiasari - detikNews
Menhub Budi Karya: Kalau ke Papua, Memang Mesti Tergelitik Berbuat Lebih Banyak Menhub Budi Karya Sumadi. Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Pemerintah sedang giat membangun infrastruktur di Papua. Papua yang mayoritas hanya bisa dijangkau udara, mulai dibangun moda transportasi laut dan daratnya.

"Kalau ke Papua, memang rasanya mesti tergelitik berbuat lebih banyak untuk Papua. Saudara kita yang di sana itu kasihan, semua logistik mereka tergantung dari udara. Mau beras, minyak segala macam dari udara. Karena kalau dari darat nggak mungkin," tutur Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat diwawancara detikcom.

Salah satu program Kemenhub adalah tol udara. Ada anggaran subsidi yang cukup lumayan untuk menjangkau pelosok Papua yang cuma bisa dirambah dengan pesawat via udara.

"Maka kami alokasikan Rp 300 sampai 400 miliar untuk tol udara dari kota-kota besar di sana, dari Sentani, Wamena, Timika dan Dekai. Banyak persoalan yang harus dilakukan. Tapi paling tidak kalau dengan subsidi, ada ruang tambahan untuk logistik itu," jelas dia.

Selain memberi subsidi, Kemenhub juga akan memperpanjang landasan dan memperbaiki tata kelola. Tak lupa, moda kapal laut dan sungai serta prasarana transportasi darat juga dibangun.

"Angkutan kapal seperti yang saya sampaikan tadi. Di Merauke masuk ke dalam, di Agats masuk ke dalam bisa sampai 500 km. Diikuti dengan jalan. Kalau sudah ada kapal dan darat, kapal terbangnya tinggal yang atas-atas aja kan. Sedangkan (wilayah geografi) yang relatif datar bisa kami substitusi dengan kapal dan jalan," paparnya.

Selain pembangunan sarana dan prasarana perhubungan di Papua, Menhub Budi juga memaparkan pencapaian Kemenhub selama 2016. Berikut wawancara Menhub Budi Karya Sumadi dengan detikcom di ruangannya, Jl Medan Merdeka Barat pada akhir pekan lalu yang ditulis Rabu (7/12/2016):

Target yang telah dicapai Kemenhub 2016?

Target alhamdulillah, sudah menyelesaikan beberapa hal. Pertama kami sudah banyak membangun banyak bandara, baik yang dilakukan Kementerian maupun oleh Angkasa Pura I dan II. Konektivitas Indonesia dengan banyak kepulauan memang salah satunya bisa dijangkau karena itu (bandara).

Kalau dilihat sekarang, seperti di NTT, hampir setiap kabupaten memiliki bandara sehingga bisa dijangkau dengan mudah.

Laut juga begitu, kami sudah banyak membangun di daerah-daerah dan juga kami tugaskan pada Pelindo untuk merevitalisasi pelabuhan yang sudah ada. Tidak saja berkaitan dengan fungsi pelabuhan, tapi juga harus ada peralatan yang memadai.

Yang lain, dari segi darat berhasil menyumbang banyak bus-bus ke daerah-daerah baik bagi para operator maupun pada daerah.

Mulai tahun ini kami berpikir yang penting dalam proses pelayanan darat, layanan itu tercipta dan bisa diadakan, oleh karenanya kami, mulai pada akhir tahun ini, yang tadinya kami kasih bus, kami ganti dengan subsidi. Supaya ada satu kepastian dan fleksibilitas.

Pada satu waktu kami sumbang bus ke daerah, ternyata orangnya nggak ada, atau operatornya kurang, atau tidak ada perawatan. Itu susah sekali buat fleksibel. Sementara, kalau ada subsidi, ya kami subsidi saja. Kalau ada pihak swasta bisa masuk sana, kami subsidi sehingga swasta bisa melakukan installment.

Kereta api bersama PT KAI sedang berjuang, belum selesai, bagaimana KA komuter dan jarak jauh bisa improve pelayanannya, terutama berkaitan dengan volume. Kalau komuter itu sangat diminati, dan kami akui harus kami improve.

KA dan KRL Commuter Line suka antre masuk ke Stasiun Manggarai, solusinya bagaimana?

Sebenarnya masalah utamanya ada overlapping antara angkutan KA jarak jauh dan lokal. Sehingga keluar masuk jarak jauh menggunakan rel yang sama. Makanya kami sedang membangun double-double track dari Jakarta ke Cikarang, sehingga nanti, KA jarak jauh cukup berhenti di Manggarai, dan dari Manggarai bisa didistribusi ke mana-mana. Nah baru pada saat itu mobilitas internal jadi lebih bagus.

Yang kedua, rel-rel yang ada bisa lebih ditingkatkan dengan membangun loopline atau keliling dengan suatu besaran atau keretanya lebih banyak yang bisa kami intensifkan itu. Nah keretanya, ini digabung dengan dua moda kereta yakni MRT dan LRT. Tanpa adanya jaring-jaring seperti LRT maka kereta yang nge-loop ini belum bisa maksimal.

Pada saat itu kami harapkan penumpang lebih banyak menggunakan kereta dan lalu lintas akan menjadi lebih baik.

Target angkutan berbasis rel ini, overall targetnya bisa angkut berapa penumpang dan mengurangi beberapa perjalanan?

Kereta api ini memang, ada 2 tujuan. Antarkota dan dalam kota.

Saya bisa kaitkan dulu yang antarkota, ini movement dari kota ke kota banyak sekali, tapi tidak tertangani dengan terstruktur. Oleh karenanya kami berkeinginan untuk bangun kombinasi kereta cepat dan kereta medium speed. Dengan itu jarak kereta seperti Jakarta-Surabaya dengan jarak yang menyenangkan, katakanlah 6 jam, ke Semarang, 3 jam. Pada saat itu darat bisa disubstitusi.

Selama ini kan sangat mengandalkan darat. Jalur selatan nanti juga demikian. Ini dua opsi, high speed atau medium high speed.

Di perkotaan, kami harus kombinasikan antara kereta api yang tradisional dengan LRT, karena kota, terutama Jakarta, daerahnya sudah relatif terbangun, sehingga tidak mungkin membangun kereta yang di darat dan harus elevated. Dan elevated itu, memang biayanya relatif tinggi, harapan kami penumpang Jakarta 800 ribu sekarang, yang akan datang akan mencapai 5 juta atau 8 juta. Maka, investasi yang dibutuhkan untuk membangun MRT dan LRT itu bisa ke-cover. Karena ditunjang dengan suatu besaran penumpang yang banyak.

Tapi memang mesti masif. Jadi kalau kami taruh, hanya membangun 1 jalur atau berapa jalur di mana penumpangnya hanya 800 ribu atau 1 juta atau 1,5 juta, itu tidak akan menghasilkan income yang masif.

Harus masif sehingga semua orang bisa pindah ke kereta api, pindah ke LRT, MRT, sehingga bisa menyelesaikan angkutan-angkutan di jalan raya. Tapi secara komersial, juga memberikan return yang baik. Itu highlight dari angkutan perkotaan.

Di daerah-daerah, kami harus realistis juga bahwasanya, ada satu proses edukasi untuk menggunakan transportasi berbasis kereta. Yang beruntung itu memang Palembang, Palembang sudah mendapatkan LRT, berarti kota tersebut sebelum macet sudah ada fasilitas. Nah ini yang harus kami kembangkan dengan baik, dikembangkan dengan moda transportasi yang lain. Bisa bus, bisa bus air, bisa kereta biasa. Palembang bisa jadi contoh, bagaimana kotamadya itu dipersiapkan.

Beberapa kota seperti Bandung, Surabaya, Medan, ada 2 yang akan dikembangkan, satu rel utama daripada kereta api yang sudah jadi lintasan darat akan menjadi lintasan utama dari angkutan berbasis kereta. Medan, Bandung dan Surabaya. Dari jaring-jaring yang ada kami akan kombinasikan dengan jenis kereta yang lain. Mau excersise ya.

Surabaya tetap ingin dengan trem. Jadi kita akan bangun trem dengan 1 modul dulu dengan 3 km dulu, di mana kombinasi KA dengan trem, ada kombinasi dari pusat kota keramaian dengan kereta api, kemudian ke daerah pemukiman. Mesti ada satu kolaborasi atau sinergi agar terhubung dengan angkutan yang ada.

Di Bandung, saya sudah bicara dengan Wali Kotanya, itu juga nanti dari Cimahi ke Rancaekek kami efektifkan lagi kereta yang ada itu, sehingga bila mungkin jadi double track dengan prasarana yang ada. Sehingga timur-barat itu dengan kereta api, tapi nanti kami akan buat feeder-feeder. Kemarin yang di Bandung ada kereta kapsul yang dibangun anak bangsa, nah itu suatu awal, kita lihat ya nanti bagaimana kereta kapsul bisa menyelesaikan masalah karena harganya relatif murah, sehingga nanti feeder-feeder itu mengacu atau bermuara pada lintasan kereta yang ada.

Jadi kereta api adalah angkutan masa depan yang harus menjadi angkutan utama di daerah perkotaan.

Balik ke kereta cepat, Jakarta - Surabaya itu kan harus pilot projectnya Jakarta - Bandung? Apakah pilot project KA cepat Jakarta Bandung akan diselesaikan lebih dulu jadi orang bisa melihat contoh kereta cepatnya?

Jadi KA jakarta surabaya sedang akan buat semacam TOR, BPPT sedang persiapkan. Nanti kami akan berikan kesempatan yang sama untuk investor dari luar untuk ikut bangun itu.

Semua kami kasih kesempatan, supaya ini jadi solusi. Karena alternatif yang akan kami lakukan harus selektif supaya jangan jadi bumerang. Karena kalau jakarta-surabaya, medium high speed sudah cukup.

KA cepat Jakarta-Surabaya akan dibuat setelah KA cepat Jakarta-Bandung jadi atau dibuat secara paralel?

Bersamaan.

Tentang penghilangan perlintasan sebidang di Pulau Jawa bagaimana perkembangannya?

Jakarta-Surabaya memang hambatannya perlintasan sebidang. Kami tidak membuat kereta layang namun membuat jembatan di lintasan sebidang.

Foto: Ilustrasi: Mindra Purnomo



Jadi membuat fly over dan underpass? Sudah ada berapa yang dibangun?
Sedang dikerjasamakan dengan PU. Ada ratusan (perlintasan sebidang). Yang sudah kejadian di sekitar Brexit ada 3, di Bandung juga sudah ada satu.

Di Jabodetabek sendiri, target penghilangan perlintasan sebidang berapa dan sudah terwujud berapa?

Kalau di daerah perkotaan itu perlintasan sebidang agak kompleks, karena ada tata ruang, perumahan, yang ada dan fungsi tertentu, jadi mesti hati-hati. Kalau di daerah dibuat fly over tidak mengganggu daerah sekitarnya.

Foto: Ilustrasi: Mindra Purnomo




Jakarta memang ada spesial effort melakukan itu. Bukan saja untuk Jakarta - Surabaya, tapi seperti daerah-daerah seperti BSD itu ada daerah-daerah yang legendaris kecelakaannya.

Bagaimana dengan pelabuhan dan tol laut?

Nah berkaitan dengan pelabuhan, kalau laut ini ada 2 concern saya. Satu yang sifatnya nasional, satu lagi yang internasional.

Kalau yang nasional, saya pikir, tol laut jadi satu guidance, pattern di mana ada suatu pergerakan dari barat sampai ke timur. Menjadi fakta bahwa dari barat ke barat nggak masalah, tapi dari barat ke timur itu masalah.

Tol laut kami jadikan pilot project, laboratorium bagaimana kita menyelesaikan masalah disparitas sosial, disparitas ekonomi, disparitas harga yang terjadi antara timur dan barat. Dari pengamatan kami terjadi suatu perbedaan harga, perbedaan development antara timur-barat.

Apa yang kami lakukan? Selain memberikan subsidi pada swasta dan BUMN, kami ajak semua BUMN totalitas berikan supporting, bukan saja pada angkutan tapi logistik ini bisa terjadi pada tempat tujuan tersebut. Kami akan membuat rumah logistik atau dinamakan Rumah Kita, diharapkan bisa bangun suatu networking, pada saat barang itu datang, itu bisa didistribusikan. Tapi distribusinya harus bertahap.

Sehingga harga bisa tetap terjaga. Rumah Kita juga nanti ditugasi BUMN itu, untuk melakukan collection barang-barang yang ada di Timur. Bahkan inisiasi adanya kegiatan ekonomi di sana. Jadi kapal itu bukan hanya bawa barang ke sana, tapi baliknya juga penuh begitu. Kami ingin tol laut ini pada masa datang justru bisa jadi profit center bagi angkutan ke arah timur, juga jadi pusat kegiatan yang namanya Merauke, ada ke Mimika, Maumere, Bima, Sentani dan sebagainya, jadi pusat pertumbuhan dan pusat ekonomi di sana.

Di NTT, itu banyak sekali potensi rumput laut, peternakan dan sebagainya, ini harus dilakukan, dan tidak mungkin dilakukan sendiri oleh Perhubungan. Kami sudah melakukan kerja sama dengan BUMN, diwajibkan melakukan itu.

Tol laut di ujung sana untuk masuk ke dalam, kami kombinasikan kemampuan Pelni dan ASDP untuk menjangkau hulu-hulu sungai yang ada di Irian. Sudah merintis berapa titik-titik, baik yang masuknya dari Merauke atau ke Agats atau Asmat, itu kami lakukan, harus menjadi satu kewajiban.

Yang signifikan juga laut, kita punya laut gede, dua per tiga wilayah. Laut kan tidak harus membangun, tidak harus benerin, tapi faktanya, logistik lebih senang dengan darat ke darat. Ada catatan bahwa angkutan darat itu mendominasi 94% dari angkutan barang, terutama di Jawa dan beberapa kota.

Oleh karenanya kami akan giatkan kapal roro untuk melayani pulau ke pulau, dari Sumatera sampai ke ujung, NTT. Sehingga roro bisa mengurangi kepadatan jalan, mengurangi kerusakan jalan, mengurangi kepadatan dan kecelakaan lalu lintas. Ini satu PR juga karena selama ini tidak dapat perhatian.

Pada hari Kamis lalu, ASDP sudah membuat percontohan kapal roro dari Surabaya-Lombok, ini saya usahakan kalau bisa sebelum tanggal 25 (Desember) itu Jakarta-Surabaya ada roro yang banyak. Supaya, yang lewat jalan darat berkurang.

Armada kapal roro sekarang berapa unit?

Sekarang yang di Surabaya-Lembar baru satu. Sekarang baru 3 hari sekali, kami maunya tiap hari. Nah, Surabaya itu akan coba dulu, mungkin dua kapal dulu yang kapasitasnya 200 atau 400 (Gross Tonage) begitu. Nah nanti ada satu contoh bahwa sanya itu bisa jadi alternatif, roro harus kami perhatikan, nggak mungkin asal-asal.

Karena lain dengan kapal jarak jauh yang untuk ke China. Memang dengan kapal kontainer yang lain. Tapi dengan kapal roro yang point to point ini akan lebih murah. Nah ini akan kami kombinasikan.

Nah yang internasional, laut ini ada persoalan. Kita hubungannya dengan negara tujuan logistik. Kita ingin jadikan pelabuhan masing-masing punya peran. Tahap awal, Priok harus menjadi hub Indonesia.

Baru nanti jadi hub yang lain. Tapi untuk itu kami harus improve kemampuan kita melayani transhipment, bukan direct call. Dari pelabuhan kecil dipusatkan di Jakarta, baru berangkat ke China, berangkat ke Eropa. Kami sudah bisa menurunkan biaya transhipment dari US$ 85 jadi US$ 35 dengan suatu perhitungan tertentu.

Yang akan kami lakukan adalah menurunkan biaya-biaya lain, biaya tunda, biaya pemanduan, dan yang signifikan bagaimana kemampuan kita mengkonsolidasikan barang agar barang ke luar negeri itu cukup volumenya. Oleh karenanya kami butuh dukungan BUMN lain untuk kami pusatkan di Jakarta untuk dikirim ke luar negeri.

Daya saing Priok meningkat pesat, harus kami tingkatkan dengan baik, harus ada komitmen. Kami koordinasikan dengan Pelindo harus kerjasama dengan international player yang memang punya networking internasional.

Tentang tol laut, tahun depan ada 5 rute yang dibuka (Menhub meralat 3 rute-red). Ditenderkan ke swasta, sudah ada yang tertarik juga?

Sudah, sekarang ini lagi proses tender. Supaya Januari 2017 sudah mulai. Pelni sudah kami kasih beberapa titik, sisanya kami kasih ke swasta. Supaya swasta juga berperan serta. Semuanya dari 5 jadi 8 (pihak swasta yang ikut tender).

Kembali soal armada kapal roro, apakah dalam negeri punya galangan yang sanggup produksi kapal roro dalam jumlah besar tapi cepat? Atau ada solusi lain untuk penambahan armada ini?

Satu, armadanya banyak tapi tidak produktif. Mengumpul di tempat yang gulanya banyak seperti katakanlah Merak-Bakauheni atau penyeberangan Jawa-Bali, numpuk juga. Padahal nggak mesti pendek-pendek gitu juga, kan bisa dari Surabaya ke Lembar.

Industri perkapalan relatif mati suri sekarang. Padahal kalau kami berikan subsidi segala macam itu bisa jadi solusi angkutan itu.

Jadi roro ada, beberapa tahun lalu mati suri. Idle, angkut rebutan dari Bakauheni-Merak. Banyak yang tidak produktif, ya itu yang kami lakukan. Kalau ternyata itu nanti kurang, di dunia roro termasuk banyak. Jadi kami bisa kerja sama short term, tapi long term kami bisa bangun (kapal roro). Sekarang itu kalau di Laut, kita harus memiliki kepedulian, atensi, agar industri perkapalan bisa tumbuh, karena sekarang ini mereka berat.

Bagaimana perkembangan dengan tol udara?

Sama, udara juga begitu. Udara ada yang nasional dan ada yang internasional. Yang nasional kami harus jangkau titik terjauh di Pegunungan Papua, pedalaman Kalimantan, Sulawesi dan sebagainya. Kami ingin dana-dana itu akan kami dedikasikan ke pelabuhan terujung. Dana kami terbatas, makanya beberapa bandara kami berikan kepada AP I dan II supaya uang kami sampai ke sana.

Karena hampir setiap hari, kami menerima bupati minta dibangun bandara, minta ditambah flightnya segala macam, karena mereka mau ke ibukota mesti dua hari, mesti perjalanan sekian jam. Itu yang pertama.

Yang kedua, adalah bagaimana kami efisienkan membuat pola hub and spoke. Ada satu contoh yang sekarang ini penerbangan mengikuti, di situ ada traffic ya semua ke sana. Semua ke Jakarta, dari kota kecil ke Jakarta semuanya. Ini membuat Jakarta penuh tapi tak produktif.

Dari Pangkalan Bun, Muara Bungo, semuanya ke Jakarta. Oleh karena itu bandara yang besar seperti Jambi, Medan, atau di timur, Balikpapan harus jadi, sub hub masing-masing, sehingga nggak semua ke sini. Nah dengan demikian bisa membuat Jakarta lebih longgar dan bisa digunakan untuk internasional.

Dan juga dari Jawa ke Sumatera, atau Sumatera ke Jawa, semua pengennya transitnya Jakarta. Padahal kalau diteliti, ada penumpang yang ingin direct. Dari Kuala Namu ke Yogya, atau dari Palembang ke Bali. Atau ke Solo.

Jadi kami satu sudah bisa bangun Solo sebagai hub di Jawa. Jadi dari Solo itu bisa ke mana-mana, bisa ke Palembang, Pekanbaru, Kuala Namu, Jambi. Semua kota-kota di timur dan barat dia bisa lakukan. Sehingga orang itu naik pesawat kecil atau naik kendaraan dari Jawa Timur-Jawa Barat ke sana (Solo), sehingga tidak perlu ke Jakarta, sehingga waktunya lebih pendek.

Di Palembang mungkin akan calonkan Palembang, sebagai pusat penerbangan tertentu, selain Medan. Kalau Medan kan untuk utara, tapi yang di selatan kan juga butuh, kami buat yang sama. Medan kan sudah mulai ke Bali.

Nah ini bisa membuat lalu lintas dari penerbangan lebih efisien. Sama dengan laut, udara juga punya urusan dengan hub atau sentra penerbangan di Bali dan Jakarta. Kita tahu itu adalah 2 kota yang diminati penerbangan internasional. Nah oleh karenanya dengan cara tadi kami akan kurangi kepadatan Jakarta dan Bali.

Bali sekarang ini, masa ATR mesti parkir di Bali. ATR kalau mau parkir ya di Banyuwangi atau Labuhan Bajo. Supaya di sini ada pesawat lebih besar yang bisa parkir.

Nah yang di Jakarta juga gitu. Kami minta Bombardier jangan di situlah, di tempat lain. Sekarang internasional itu cuma 15 persen (dari keseluruhan rute). Bali meningkat lebih besar, kira-kira 40%.

Nah ini menggambarkan bahwa Jakarta hanya bisa menghubungkan dengan 35 titik (kota di dunia). Ini dampaknya pada turis, pada kebesaran Soekarno-Hatta. Kita upayakan dari Soekarno-Hatta itu bisa ke India, Srilanka atau kota-kota di Eropa itu mesti ditambah, supaya, kemampuan orang jadi turis, bisnis, misalnya orang dari Polandia ingin ke sini, sehingga orang-orang Eropa timur itu punya jangkauan ke tempat kita.

Ini memang tak gampang, sama seperti di Laut. Kami harus mendisiplinkan orang-orang kita, bagaimana mencukupi secara kuantitas tertentu. Oleh karenanya, Soekarno-Hatta, Bali, Surabaya, landasanya kami perbaiki. Terus terminalnya kami perbaiki, supaya bisa memiliki kapasitas dan kemampuan setara seperti yang ada di Jakarta. Kami sangat intensif melakukan improvement di situ.

Selain hub di Solo di Jawa mana lagi?

Juanda sudah riil sudah penuh, otomatis macam Juanda dan Makassar. Sudah terjadi. Kami akan tambah (sub hub). Yang sudah ada kan Medan, Surabaya, Balikpapan, Makassar kan. Kami tambahi Solo dan Palembang, supaya ada direct flight yang tidak lewat Jakarta.

Mengenai tol udara di Papua akan disubsidi kan. Berapa besaran subsidi dan sampai kapan akan disubsidi?

Kalau ke Papua, memang rasanya mesti tergelitik berbuat lebih banyak untuk Papua. Saudara kita yang di sana itu kasihan, semua logistik mereka tergantung dari udara. Mau beras, minyak segala macam dari udara. Karena kalau dari darat nggak mungkin. Maka kami alokasikan Rp 300 sampai 400 miliar untuk tol udara dari kota-kota besar di sana, dari Sentani, Wamena, Timika dan Dekai. Banyak persoalan yang harus dilakukan. Tapi paling tidak kalau dengan subsidi, ada ruang tambahan untuk logistik itu.

Berikutnya, banyak PR. Landasan harus diperbaiki, penerbangan ke sana harus diperbaiki. Tapi minimal dengan subsidi tol udara, bisa mengurangi disparitas di sana dan menambah penerbangan yang menuju ke sana.

Selain memberi subsidi, kami juga akan memberikan ruang dengan memperpanjang landasan dan memperbaiki tata kelola di sana. Karena di Papua sendiri mungkin ada 300 bandara, banyak, setiap kecamatan punya. Tapi kan kita tidak bisa begitu saja kan. Jadi bekerja sama dengan Menteri PUPR kami juga lakukan improvement angkutan kapal dan angkutan darat.

Angkutan kapal seperti yang saya sampaikan tadi. Di Merauke masuk ke dalam, di Agats masuk ke dalam bisa sampai 500 km. Diikuti dengan jalan. Kalau sudah ada kapal dan darat, kapal terbangnya tinggal yang atas-atas aja kan. Sedangkan (wilayah geografi) yang relatif datar bisa kami substitusi dengan kapal dan jalan.

Maskapai mana saja yang sudah tertarik berpartisipasi pada tol udara di Papua?

Karena itu subsidi, banyak yang tertarik ya. Ada Susi Air, Trigana, TransNusa banyak perusahaan yang kami bina. Kami harapkan ini suatu waktu bisa jadi profit center pada saat lapangannya sudah bagus. Kapal terbangnya bagus segala macam, volume terjaga, sehingga nilainya kompetitif.

Dalam waktu dekat ada bandara baru yang sudah dipermak dan sudah jadi dan mau diresmikan?

Bandara ada 2 macam, ada yang dikelola AP dan ada yang dikelola kami. Kalau AP I dan II agresif banget. AP II itu setelah jadi sedang bangun Pangkal Pinang, Silangit, nanti akan bangun Lampung dan sebagainya.

AP I juga gitu, akan bangun Banjarmasin, Yogya dan akan reklamasi di Surabaya, akan memperbaiki bandara yang ada di timur. Bahkan beberapa bandara akan kami berikan ke AP I dan II.

Dukung tol udara di Papua, sudah di Wamena, ada lagi dalam waktu dekat?

Dekai, diperpanjang, kalau dulu logistik dari Sentani dan Wamena. Sekarang kami ingin ada di Selatan, di Timika dan Dekai. Karena penerbangan ke puncak pegunungan Papua hanya berlangsung pagi hari saja. Kalau titik berangkatnya cuma dua kan susah, makanya kami tambah di Dekai sama Timika.

Penambahan runway bagaimana?

Supaya logistik nyampai, nggak perpanjang, Timika dan Dekai kalau banyak (penerbangannya) kan lebih bagus.

Pak Jokowi menyentil Kementerian Perhubungan karena perizinan sudah punya sistem IT tapi di-off-kan, bagaimana tanggapan Bapak?

Justru kami yang memberi tahu. Bukan sering tidak dipakai, jadi OTT (Operasi Tangkap Tangan) itu karena ada IT ada yang nakal, oknum yang melakukan itu. Pasca OTT, dua yang kami lakukan. Eselon I dan II harus turun untuk evaluasi apa yang terjadi di situ.

Yang kedua, akan distribusikan kewenangan itu tidak di pusat, tapi di wilayah. Ketiga, kami akan kurangi bentuk sertifikat yang harus dipenuhi pelaut.

Memang ini kumulasi, maunya canggih, kami sentralisasi, ada oknum yang tak gunakan itu. Waktu kami tahu itu tidak efektif, kami laporkanlah ke polisi. Polisi menemukan itu. Insyaallah sekarang sudah lebih baik.

Tapi itu pun loadnya akan kami kurangi, sebagiannya akan kami distribusikan ke daerah.

Ke Dishub provinsi?

Bukan ke Dishub, penerbitan ke BPSDM, balai pelatihan daerah.

Tentang hasil investigasi KNKT kemarin, paling banyak tahun ini didominasi kecelakaan transportasi udara dibanding dengan darat. Tindakan Kemenhub meningkatkan keselamatan penerbangan bagaimana?

Udara banyak di Papua. Di Papua, ada 2 masalahnya. P[ertama pengawasan. Kedua, satu sisi adalah cuaca yang tidak normal, sehingga penerbang harus governance melakukan itu.

Jadi, sekarang ini dengan mata telanjang, kami akan modernisasi. Tapi di sana banyak human error, karena sudah terbiasa, mereka lakukan satu lintasan, cara penerbangan yang sebenarnya berbahaya. Itu yang 'ditabrak'. Makanya kami akan membuat pengamatan yang lebih intens di sana, jadi nggak case per case ada satu basis yang kami lakukan. Sistem ATC nya harus dibuat lebih canggih, kedua pilot-pilot itu harus senior turut serta dalam syarat yang kami tetapkan. Kalau penerbang asing nggak ada masalah, karena mereka tertib. Jika membanggakan asing, mereka disiplin maka tak terjadi kecelakaan itu.

Ada tambahan rekomendasi dari KNKT?

Iya, jadi KNKT rekomendasi cukup bagus, tapi dengan beberapa hal yang menjadi syarat-syarat mutlak penerbangan kami lengkapi dengan ATC yang berbasis IT tidak visual lagi, lapangan terbang kami perbaiki, orang kami improve, orang kami perbaiki, tata laksana. Mereka orang umum, bukan seneng tapi bikin praktis gitu ya.

Tahun 2016, anggaran pembangunan dan pembangunan infrastruktur perhubungan berapa?

Kami itu disiapin Rp 41 Triliun, tahun ini tercapai 94%, Rp 41 Triliun dikurangi 20 persen, banyak program tersendat. Berusaha lakukan efisiensi dan priroritas bagi daerah kami tuju.

Menhub Budi Karya: Kalau ke Papua, Memang Mesti Tergelitik Berbuat Lebih BanyakFoto: Infografis APBN 2016 di Kemenhub (Sumber data: Kemenhub)

(nwk/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed