DetikNews
2016/11/25 17:35:37 WIB

Wawancara

Menaker Hanif Bicara Tenaga Kerja Asing dan Dilema Kompetensi Tenaga Lokal

Nograhany Widhi K - detikNews
Halaman 1 dari 2
Menaker Hanif Bicara Tenaga Kerja Asing dan Dilema Kompetensi Tenaga Lokal Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Investasi dari luar negeri dibarengi dengan konsekuensi juga dengan konsekuensi masuknya tenaga kerja asing (TKA). China pemasok TKA terbanyak di Indonesia. Mencari tenaga lokal, masih ada hambatan dalam kompetensi.

"Tenaga kerja China itu sekitar 16 ribu dari China. Total reratanya (jumlah tenaga asing dari semua negara) naik turun sekitar 70 ribu, 69-68-72 ribu dari semua negara. China memang yang paling besar, rerata tahunannya sekitar 16 ribu," tutur Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri.

Hal itu dipaparkan Menaker Hanif saat berkunjung ke kantor detikcom, Jl Warung Buncit, Jakarta Selatan, Rabu (23/11/2016) lalu.

"Tapi kalau saya bilang kita 'mengepung' China, orang pada marah. Kenapa sih? Faktanya kalau menggunakan data resmi kita, kan 16 ribu (dari China). TKI kita di Hongkong aja 200 ribu, eh di Hong Kong 153 ribu, 200 ribu itu di Taiwan, Singapura 150 ribuan. Lha kalau di Hongkong saja, orang kita yang di sana lebih banyak dong daripada orang China yang di sini," imbuh dia.

Meningkatnya jumlah TKA ini adalah konsekuensi logis dari meningkatnya investasi asing di Indonesia. Sementara itu, tenaga kerja lokal masih menghadapi kendala kompetensi.

"Kaitannya dengan tenaga kerja lokal. Problem di tenaga kerja lokal itu adalah problem di kapasitas dan kompetensi. Di Karawang, ada perda, industri di sana 60 persen harus mempekerjakan orang ber KTP Karawang. Itu kan menghambat investasi juga akhirnya. Ini salah satu persoalan di daerah. Kita ingin warga lokal terserap, di satu sisi less educated dan less trained. Kompetensi nggak ada. Yang jadi hambatan di masyarakat lokal seperti itu," papar dia.

Berikut wawancara detikcom dengan Menaker Hanif Dhakiri mengenai TKA dan investasi asing serta kompetensi tenaga kerja lokal:

Ada beberapa kasus TKA asal China tertangkap ilegal, mulai dari yang bertani di Bogor dan beberapa kasus lainnya. Bagaimana penjelasannya Pak?

Pertama soal jumlah. Banyak tuh berapa sih. Lihat proporsinya dong. Tenaga kerja China itu sekitar 16 ribu dari China. Total reratanya (jumlah tenaga asing dari semua negara) naik turun sekitar 70 ribu, 69-68-72 ribu dari semua negara. China memang yang paling besar, rerata tahunannya sekitar 16 ribu.

Tapi kalau saya bilang kita mengepung China, orang pada marah. Kenapa sih? Faktanya kalau menggunakan data resmi kita, kan 16 ribu (dari China). TKI kita di Hongkong aja 200 ribu, eh di Hong Kong 153 ribu, 200 ribu itu di Taiwan, Singapura 150 ribuan. Lha kalau di Hongkong saja, orang kita yang di sana lebih banyak dong daripada orang China yang di sini.

Itu kalau protes soal jumlah pasti saya paparkan data itu. Di Malaysia TKI kita yang ilegal itu 2 juta. Sementara, di Bogor yang tertangkap (TKA China) 4 orang, (dibilang) banyak. Di sana ada 1 perusahaan 300 TKA, (dibilang) banyak.

Saya itu kalau menghadiri 17 Agustusan di Hong Kong, itu panitianya orang Indonesia, yang mengisi (acara) orang Indonesia juga seperti Inul, TKI semuanya orang Indonesia, itu 30 ribu orang di Victoria Park, ngomongnya bahasa Indonesia, tandanya bahasa Indonesia semua. Lha mbayangin kalau jadi orang Hongkong, rasanya kaya apa? Tapi mereka fine-fine saja.

Ini yang harus kita luruskan dalam penanganan kaya itu bahwa kalau misalnya dia (TKA) ilegal, Pemerintah tegas. Intinya di situ, kalau TKA prinsipnya izin mendahului orang.

Kalau misalnya detikcom mau mendatangkan konsultan media dari Inggris misalnya, izin dulu kan. Detikcom urus izin ke saya, izinnya keluar kemudian baru urus izin ke Imigrasi. Ketika proses izin ini kan ada syaratnya banyak nih, pendidikan sesuai yang disyaratkan. Kalau jabatannya kasar, sudah pasti nggak boleh nih. Nggak mungkin.

Menaker Hanif Bicara Tenaga Kerja Asing dan Dilema Kompetensi Tenaga LokalFoto: Tenaga Kerja Asing (Infografis: Mindra Purnomo/detikcom)


Kalau misalnya izinnya sudah keluar baru orangnya dipanggil kan? Izinnya sudah keluar, masuklah.

Sementara yang diributin orang itu kan, orang asing tak pernah ada perusahaan yang pernah urus izinnya ke saya, tiba-tiba dia bekerja, kan begitu kan? Itu mesti ditanyain ke saya itu, sekali-kali tanyakan ke 'portal'-nya kenapa?

Apa itu berarti kecolongan?

Kok kecolongan sih. Sekarang begini, kalau Anda mengurus izin, Anda jalan-jalan atau duduk di meja? Logika sederhana, ya duduk di meja dong. Kalau Anda urus izin, Anda duduk di meja, orang datang. Kalau detik mau datangkan konsultan media asing kan detikcom yang datang, kan begitu? Bukan saya yang bagian perurusan izin ini mendatangi media-media kan?

Nah, kalau kemudian si orang asing ini melalui perusahaan yang mempekerjakannya tidak pernah mengurus izin ke saya, masa Anda tanya ke saya? Izin kan mendahului orang.

Saya sebenarnya ingin bedakan antara tenaga kerja asing dan WNA yang bekerja. Kalau TKA orang yang masuk ke Indonesia untuk bekerja dan melalui prosedur yang berlaku. Karena di Indonesia ini nggak bisa lho, individu mengurus izin bekerja. Yang mengurus adalah perusahaan penggunanya.

Jadi misalnya ada orang datang, ndablek, tadinya orang pengen liburan ke Bali terus berubah pikiran untuk bekerja, nggak bisa begitu. Perusahaannya harus ngurus dulu.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed