DetikNews
Rabu 27 April 2016, 07:01 WIB

Wawancara

Menristek Dikti: Kami Desain Kurikulum Agar Sarjana Cepat Terserap Dunia Kerja

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Menristek Dikti: Kami Desain Kurikulum Agar Sarjana Cepat Terserap Dunia Kerja Menristek Dikti M Nasir (Foto: Bagus Prihantoro/detikcom)
Jakarta - Sarjana pengangguran merupakan salah satu masalah sosial yang sering terjadi. Padahal, banyak orang mengejar pendidikan tinggi dengan harapan untuk memudahkan akses ke dunia kerja.

Menristek Dikti Muhammad Nasir kemudian menyebutkan solusi yang tengah disiapkan pemerintah. Salah satunya adalah menggandeng Kemenaker dan dunia industri.

Nasir membeberkan solusi yang disiapkan dalam perbincangan dengan wartawan di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (25/4/2016). Berikut penjelasan Nasir dalam format tanya-jawab:

Dalam Rapat Paripurna, Kamis (7/4) lalu Presiden Jokowi sampaikan agar Kemenristek Dikti, Kemdikbud, Kemenaker, dan Kemenperin bersinergi. Apa arahnya dari perintah itu?

Arahnya sekolah vokasi. Jadi untuk mengentaskan tenaga kerja Indonesia dalam hadapi bonus demografi, jangan sampai tenaga kerja 10-15 tahun ke depan useless, ini harus bisa dimanfaatkan betul. Maka sekolah vokasi sangat penting. Pelatihan di Kemenaker harus penting. Kemristek Dikti itu akan buat model. Nanti kami akan kaitkan dengan industri.

Seringkali mahasiswa berprestasi kesulitan mendapatkan pekerjaan. Apa masalahnya menurut Bapak?

Kalau itu masalahnya kompetensi enggak dimiliki. Ini kompetensi yang harus kita tingkatkan. Banyak lulusan kita baik, tapi enggak punya kompetensi yang dibutuhkan industri atau dunia kerja.

Apakah berarti ada masalah dengan kurikulumnya?

Nanti akan kami sesuaikan khusus politeknik. Paling tidak 70:30, 30% teori, 70% praktik. Ini D3, kalau sarjana kan sudah jalan semua. Cuma problem di profesi kan.

Ada kewajiban dunia industri untuk ikut susun kurikulum kah?

Ini dari industri sangat penting sekali, justru kalau pendidikan dikaitkan dengan industri ini jadi masalah.

Sudahkah ada kerja sama antara dunia industri dengan pendidikan tinggi?

PT Astra sudah kerja sama. Juga ada di (perusahaan) sawit, industri terkait Pertamina, kemarin ada Petrokimia minta akademi komunitas untuk kimia analis. Jadi industri harus buka semua. Pertamina membuka Universitas Pertamina, ini kita dorong. PLN sudah buka, Telkom sudah buka. Barusan kemarin juga swasta, vokasional juga nanti dia kembangkan ke S1 dan profesional silakan. Swasta kemarin juga sama, Sinar Mas yang di Serpong itu namanya Universitas Prasetya Mulya.

Kalau untuk universitas negeri bagaimana, akan kerja sama dengan siapa?

Kalau negeri sudah jelas. Kerja sama untuk universitas berbagai dunia. Sekarang untuk vokasi ada Jerman, Swiss, dan Belanda. Yang sudah ada Poli Marine ini 100 persen terserap industri.

Nanti akan kami rumuskan formulasinya, apakah bentuknya regulasi atau perintah langsung. Kalau regulasi biasanya lama, saya lebih suka perintah langsung.

Bagaimana dengan standar sertifikasi untuk sekolah vokasi?

Sambil nanti bisa diserap dunia kerja. Itu yang penting. Jadi nanti politeknik harus buat SKKNI, Standar Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia yang berbasis kompetensi yang nanti bisa disertifikasi oleh Badan Standar Nasional Indonesia.

Lalu, apa pendapat Bapak tentang banyak sarjana menganggur? Apa solusinya?

Solusi ini adalah karena ini masalah kompetensi. Karena kompetensi kurang, maka perguruan tinggi harus tingkatkan kompetensi. Saya lihat banyak masalah yang terjadi di masyarakat lulusan sarjana banyak tak sesuai kompetensi. Banyak proses enggak benar, misal ijazah palsu. Proses belajar tidak benar langsung saya tarik. Ini menghilangkan kompetensi.

Tetapi ada juga lulusan universitas bergengsi yang menganggur. Apa jaminannya bisa diterima dunia kerja?

Kalau saya rasa pengangguran selama ini pengangguran sarjana adalah 6 bulan ya. Tapi yang jadi masalah bukan itunya, dia setelah diserap dunia kerja enggak langsung kerja. Dia di-training dulu, mestinya begitu diserap kerja langsung kerja. Ini yang salah. Baru satu semester atau satu tahun baru bisa kerja.

Sehingga, kurikulum akan saya desain 3 tahun kuliah selesai, 1 tahun magang. Ini untuk yang S1. Jadi 3 tahun teori habis, lalu magang. Bukan skripsi, tapi nanti embeded dengan tugas akhir. Contoh saya dari teknik mesin, teori 3 tahun selesai setelah itu praktik. Ijazah didapatkan setelah magang. Wajib ini nanti, karena kalau tidak kualitasnya kita tidak percaya. Jadi nanti tetap ada laporan terhadap magangnya. Sekarang ini tidak semua, ini yang harus kita lakukan.


(bag/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed