DetikNews
Jumat 11 Mar 2016, 15:08 WIB

Wawancara

Pakar Hipnotis Forensik Bicara Soal Wawancara Jessica dan Asumsi Motifnya

Nograhany Widhi K - detikNews
Pakar Hipnotis Forensik Bicara Soal Wawancara Jessica dan Asumsi Motifnya Foto: Kirdi Putra (via kirdiputra.com)
Jakarta - Pakar hipnotis forensik dan analisa ekspresi mikro wajah Kirdi Putra diminta membantu polisi mewawancarai Jessica Kumala Wongso, tersangka penaruh racun sianida di gelas kopi yang diminum Wayan Mirna Salihin hingga tewas. Kirdi menjawab soal asumsi motif dan ekspresi wajah Jessica.

Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Kirdi Putra pada Kamis (10/3/2016) malam:

Kapan Anda mewawancara Jessica?

Itu sekitar awal Januari (2016). Waktu itu Jessica belum ditetapkan jadi tersangka.

Anda mewawancara Jessica menggunakan metode hipnotis, membaca ekspresi mikro wajah atau keduanya?

Keduanya. Hipnotis forensik.

Bila menggunakan metode hipnotis, apakah itu berarti Jessica diwawancara dalam keadaan tidak sadar?

Hipnotis itu menurut siapa? Kalau menurut awam memang di bawah sadar. Tapi sebenarnya sadar, itu alter state of focus, kondisi fokus ditingkatkan sehingga otak seseorang bisa ambil data-data lama.

Matanya terpejam, orang berasumsi itu nggak sadar. Ditambah missleading lagi di acara-acara hiburan nggak keruan. Waktu itu dibawa oleh pengacaranya Jessica yang dengan ngawur membandingkan dengan acaranya Uya Kuya. Berbeda itu.

Hasil dari wawancara Jessica itu apa saja?

Sifatnya masih ada faktor defensif atau melawan. Beberapa kondisi ditanyakan pada Jessica, sinkron.

Apa saja yang ditanyakan pada Jessica?

Apa saja yang dilakukan Jessica. Apa saja yang dilakukan Jessica datang ke GI, cari barang-barang yang diberikan, jam datang, jam pesan.

Kalau pertanyaannya dijawab dengan ragu-ragu, sempurna. Tapi ini terlalu sempurna, exact time. Dia masih ingat. Kalau Anda ditanya jam berapa apa jawabannya? (detikcom menjawab sekitar pukul sekian lebih). Nah orang biasanya menjawab begitu. Ini dia, sampai menit dia exact, terlalu sering, terlalu tepat.

ABC Australia bertanya jika seseorang melakukan sesuatu yang aneh atau sempurna, apakah bisa dikatakan Jessica bersalah? Jawaban saya tidak, tapi meningkatkan kecurigaan.

Saya suka cara ABC Australia bertanya. Jadi dulu ada pasangan suami-istri dan anaknya. Anaknya meninggal ternyata dimakan dingo, anjing liar Australia. Namun sebelumnya, pengadilan Australia mengadili si ibu, karena diduga dibunuh ibunya sendiri. Sejak saat itu Pengadilan Australia sangat hati-hati mengadili kasus seperti ini. Itu kasus sudah lama, sekitar tahun 1980-an. (kasus yang dimaksud adalah kematian bayi Azaria Chamberlain-red)

Jessica adalah PR (Permanent Resident) mereka (Australia), jadi mereka curious (penasaran), kasus sama terjadi. Namun ada bedanya, semua orang yang lihat bukti-bukti di belakang, sulit terima Jessica tak bersalah. Ada CCTV, namun CCTV bukan bukti hidup, dia bukti yang harus dijelaskan.

Memang tidak ada bukti dia menuangkan sesuatu, namun bukti CCTV menaruh tas untuk menghalangi CCTV, itu proses sebelum seseorang mati setelah minum kopi itu mencurigakan.

Polisi kesulitan. Tindakan (tersangka) ini sangat cerdas menurut saya kalau memang benar rencananya seperti itu.

Siapa yang melakukan, memberika kepada yang lain, menuangkan (racun) ke kopi itu? Tak bisa menafikkan memang, bisa saja diracun di awal oleh barista atau waiter. Tapi itu juga ada CCTV yang menunjukkan bagaimana barista mempersiapkan kopinya. Kalau bicara probabilitas, paling besar ketika kopi ditaruh di atas meja dan paling dekat dengan posisi kopi itu di meja.

Dari hasil wawancara dengan Jessica, apa bisa diketahui motifnya?

Ini masih praduga tak bersalah, jadi menganalisa semua kemungkinan. Jessica tak bersalah sampai terbukti di pengadilan, demikian sehingga betapa bodohnya bila di posisi Jessica kalau cerita (motifnya).

Asumsi motif, yang jelas sepertinya masalah LGBT dan cinta segitiga bukan merupakan asumsi motif yang cukup kuat. Jessica punya pacar laki-laki, Mirna menikah dan bahagia meski dulu LDR. Arief dari Melbourne sering mengunjungi Mirna di Sydney. Asumsi motif cinta segitiga bisa singkirkan.

Jadi asumsi motifnya apa?

Kalau motif itu tak bisa disebarluaskan, daripada kita membuat masyarakat bingung, banyak teori konspirasi inilah-itulah.

Di ABC Australia Anda mengatakan bahwa motif Jessica itu "jealous" dan "revenge"....

Kalau kita bicara jealousy, nggak hanya soal pasangan. Bisa hubungannya dengan pertemanan, karier, kebahagiaan seseorang bisa menimbulkan kecemburuan, iri hati.

Sayangnya bahasa Indonesia tak punya padanan kata "jealous" yang positif atau negatif. Iri hati ke arah yang baik, misal karena Anda punya prestasi, itu "envy". "Jealous" hanya digunakan iri atau cemburu ke konotasinya negatif.  Jealousnya di sini sebuah bentuk kecemburuan dalam hal lain, masalah keberhasilan, nilai dan sebagainya.

Kalau revenge atau dendam?

Bisa jadi Mirna tidak pernah merasa berbuat salah pada Jessica. Jessica pernah merasa disakiti Mirna.

Jadi iri dan dendam itu jadi asumsi motif Jessica?

Bisa jadi

Lantas apa lagi detil yang bisa digali dari keterangan Jessica?

Sebetulnya kalau diperhatikan, saat diwawancara TVOne, ada pertanyaan di luar pertanyaan reporter lain yakni "Kenapa Anda bertanya pada sekitar situ ada dokter umum?"

Alasannya perlu vitamin B dan sebagainya. Logikanya, dia (Jessica) Desember awal sampai di Indonesia, tinggal di Sunter, ada banyak dokter umum di situ, Sunter-GI juga jauh. Mengapa menunggu selama itu, tapi juga nggak salah kan?

Dia menyebutkan, punya poin-poin alibi yang sangat jelas, tidak menandakan dia bersalah, tapi terlalu tinggi tingkat keanehannya. Bicara bahasa hukum dia nggak salah. Dari sisi kewajaran, agak sulit mempercayai semua yang disampaikan Jessica seperti itu.

Ada idiom lebih baik melepaskan 100 orang bersalah daripada memasukkan satu orang tak bersalah ke penjara. Ya mau bagaimana lagi. Tolong diingat hukum dibuat oleh manusia, dan hukum tidak selalu bisa mengejar teknologi, sosial budaya, modus yang kian rumit, muncul sebuah bentuk kejahatan yang nggak bisa dihukum. Seperti gendam itu, ditepuk puk, orang lantas memberikan HP dan dompetnya sendiri, siapa yang bisa disalahkan dalam hal ini?

Selain mewawancarai Jessica, Anda mewawancara berapa orang saksi? Apa termasuk saksi kunci yang juga pembantunya Jessica?

3-4 Orang, termasuk yang pembantunya itu.

Hasilnya bagaimana dari keempat saksi itu dengan Jessica?

Sinkron. Bukan menunjukkan benar atau tidak benar. Seperti ada proses sebuah celana dibuang, that is. Kenapa dibuang? Robek. Jessica menjawab robek, sudah sesimpel itu. Pembantunya juga mengatakan, robek ya sudah dibuang saja.

Ndilalah, terjadinya berulang kali pas kejadian itu.

Apa yang terjadinya berulang kali?

Kebetulan. Kebetulan datang duluan, kebetulan tasnya ditaruh di atas meja, kebetulan celananya robek, kebetulan tahu jam-jam tepatnya.

Bagaimana hasil wawancara Jessica yang diwawancara biasa dibandingkan dengan metode hipnotis forensik?

Sinkron. Dia menjawab sesuai ketika mata terbuka normal biasa, bahwa tak ada hubungan kejahatan.

Anda juga melihat lengkap CCTV yang ditunjukkan polisi?

Lengkap

Lantas bagaimana analisa mikro ekspresi wajah Jessica saat itu?

Ada beberapa hal yang aneh. Hasil CCTV yang kita asumsikan bagaimana respons geletak jeder, ini persepsi jadinya, namun kalau jatuhnya melawan persepsi, boleh aja.

Sayangnya CCTV tidak setajam yang diharuskan. Di luar negeri, CCTV diharuskan di ruang terbuka publik, owner mall, dia harus sediakan beberapa CCTV di area outdoor, indoor, ketajamannya harus sekian. Di Indonesia pokoknya ada CCTV ya, sudah, cukup. Jadi analisanya makro aja.

Lantas bagaimana analisa ekspresi wajah Jessica dari keseluruhan CCTV yang Anda lihat?

Seperti nggak ada masalah.
(nwk/nrl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed