DetikNews
Rabu 10 Feb 2016, 16:03 WIB

Wawancara

Aiptu Budiono: 3 Peluru Menembus Tubuh, Merusak Usus dan Paru-paru

Mei Amelia R - detikNews
Aiptu Budiono: 3 Peluru Menembus Tubuh, Merusak Usus dan Paru-paru Foto: Ilustrasi oleh Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Aiptu Budiono tak akan melupakan momen tanggal 14 Januari 2016 lalu. Dia berhadapan muka dengan teroris yang menembaknya dari jarak dekat. Tiga peluru menembus tubuhnya. Namun Budiono masih selamat.

"Saya merasa ditembak dua kali, saya tahu pas dioperasi di RSPAD Gatot Subroto ada 3 lubang di belakang, nembus," kata Budiono.

Bagaimana kisah lengkap Aiptu Budiono selengkapnya? Lalu bagaimana kehidupannya setelah teror? Berikut wawancara lengkap detikcom dengan anggota Provost Polres Jakarta Pusat itu di Gedung Biddokes Polda Metro Jaya, pekan lalu:

Bisa dijelaskan awal mulai kejadian di Thamrin?

Saya saat itu lagi stand by di Balai Kota DKI mau antisipasi demo, saya dengar dari radio HT ada ledakan di pos lalu lintas Sarinah dan saya langsung mau cek ke TKP. Saya pikir sesudah ada ledakan situasi sudah steril. Nah, di tengah-tengah jalan juga ada mobil Metro 4 (Karoops Polda Kombes Martuani Sormin). Saya belum tahu pelaku masih ada di tengah. Saya sampai baru parkir motor, pelakunya mutar mobil Metro 4 dan langsung menembak saya dari jarak satu meter.

Jadi sempat melihat wajah pelaku?

Melihat dan tanpa ekspresi langsung 'deng deng'. Saya kena 'Astaghfirullah' saya nggak langsung jatuh dia juga langsung jalan ke perempatan lagi. Habis nembak saya langsung lanjut jalan gitu.

Pelaku berjalan seperti apa, apakah terburu-buru?

Masih nenteng senjata, jalan aja biasa sambil nenteng senjata. Saya juga sesudah ketembak saya langsung minggir. Saya juga bawa senjata saat itu tapi tidak ada niat untuk membalas atau gimana gitu.

Tidak ada kesempatan untuk menembak?

Ya saya juga baru standarin motor saya, kunci kontak juga masih nempel di motor, baru turun, ketemu pelakunya langsung nembak saya. Jadi secara tiba tiba. Makanya saya pikir anggota. Saya tidak tahu kalau pelakunya masih ada di tengah perempatan itu.

Waktu datang ke TKP sudah ada orang yang tergeletak karena ledakan bom?

Sudah. Saya pikir sudah steril di pos polisi itu. saya pikir anggota semualah yang di tengah itu, tapi rupanya pelakunya semua masih di tengah situ. Situasi jalan sepi, saya sudah pelan-pelan naik motor enggk tahunya pelakunya ada di mobil karoops itu.

Jarak pelaku menembak berapa meter?

Segini Mba, berapa meter nih saya dan Mba jarak dekat sekali. Tidak sampai satu meter mungkin.

Berapa kali pelaku menembak?

Saya merasa ditembak dua kali, saya tahu pas dioperasi di RSPAD Gatot Subroto ada 3 lubang di belakang, nembus. Saya juga nggak tahu dari mana. Saya merasa dia dua kali nembak saya.

Jadi tidak langsung terjatuh saat itu?

Enggak saya juga masih pakai helm, langsung saya minggir ke arah Hotel Sari Pan Pacific.

Saat itu siapa yang menolong bapak??

Belum ada cuma masyarakat yang ada di pinggir pinggir itu 'pak pak minggir dulu pak bapak ketembak' saat itu saya masih jalan, masih sadar, terus saya bersandar ditrotoar itu kan. Mobil pertama yang lewat mobil kapolres saya Pak (Kombes) Hendro Pandowo masyarakat bilang pak (ke Hendro) itu anggotanya ketembak. Oh iya iya itu budi ketembak. Langsung diangkut mobil kapolres.

Ada foto yang menggambarkan pelaku berada di samping bapak saat di trotoar, sempat melihat?

Iya saat itu saya sudah helm itu waktu itu. Langsung helm saya lepas. saya nggak melihat pelakunya (ada di samping) saya cuna fokus luka saya saja aduh ini gimana. Itulah mobil yang pertama lewat itu mobik pak kapolres.

Lalu langsung dievakuasi?

Dibawa mobil kapolres, saya istigfar di mobil. Mungkin beliau bawa saya pertama ke Budi Kemuliaan yang terdekat, baru pake ambulans ke RSPAD Gatot Subroto. Kondisi saya saat itu masih sadar. Mungkin pas pertama kali itu panas karena luka tembak dan saya juga merada kaya ada angin di belakang. Jadi makanya tembus. Kalau bersarang begitu mungkin sakit di dalam, ini panas gitu rasanya dan kaya ada angin karena darah bercucuran. Ada di baju dinas saya, lubangnya memang tembus ke baju. Kondisi saya waktu itu sudah lemas tapi masih sadar, pas masuk ruang UGD baru tidak sadar mungkin saya sudah tidak kuat juga.

(Sambil menunjukkan luka) Yang nyerempet paru kata dokter yang operasi, jadi parunya dijahit sedikit, udah dibuka jahitan (posisi luka di dada kanan). Usus saya dipotong 4 cm, jadi lewat bedah perut buat motong usus saya. Kalau ini kata dokter belum boleh dibuka. Ini 18 jahitan yang operasi di perut ini.

Di RSPAD berapa lama?

Sebelas hari. Waktu kejadian itu kan tanggal 14 Januari, saya pulang dari rumah sakit tanggal 25 Januari hari Senin. Kemarin tanggal 1 Februari baru kontrol pertama.

Hasil kontrol pertama bagaimana?

Alhamdulilah sih cuma belum bisa buka jahitan di siini (perut) karena harus bertahap. Kalau yang lain sudah dibuka semuanya tinggal yang di perut saja.

Makan tidak ada keluhan?

Makan sih saya bukannya mantang, makan ya makan saja. Karena di rumah sakit itu saya cuma dikasih makan bubur sehari tiga kali. Selebihnya nasi tim nasi biasa. Cuma kata dokter kalau mau penyembuhan luka dalam itu sehari makan putih telur minimal 6-10 itu direbus. Kalau ikan itu adanya lele, patin sama gabus cuma gak boleh digoreng, harus dikukus apa di tim atau disayur.

Dengan kejadian kemarin, apa pelajarannya?

Alhamdulilah masih dilindungi Allah SWT. Allah masih sayang saya. Saya juga berterimakasih pada pimpinan pimpinan saya pak kapolri, kapolda, kapolres.

Apakah trauma?

Nggak saya nggak trauma. Mungkin kalau saya trauma saya denger letusan kecil saya udah kaget. Biasalah ini risiko dinas risiko tugas. Cuma kewaspadaan saya saya nggak tahu mana itu lawan mana teman. Karena kan pakaiannya itu kaya serse kayak intel kan pelakunya itu.

Jadi sekarang lebih waspada?

Iya saya hikmahnya saya lebih sabar. Saya syukur Alhamdulillah masih bisa kumpul sama anak istri saya. Saat itu memang yang ada di benak saya cuma anak istri saya. Sambil memikirkan anak istri saya, saya istigfar. karena anak masih kecil. Allah masih sayang saya, saya Alhamdullilah.

Sudah berdinas lagi?

Sementara belum dinass lagi. Dari kantor juga bilang tunggu sampai pulih dulu. Jadi saya belum berani juga pakai pakaian dinas. Pakai celana panjang juga kan pakai sabuk ketekan.

Ada trauma healing setelah perawatan?

Saya didampingi sama psikiater sana ada dua selama beberapa hari. Karena dalam batin saya semangat sembuh untuk segera kembali berkumpul bersama anak istri saya. Saya masih semangat tinggi. Dari pas habis operasi saja saya langsung inget saya ketembak, cuma saya belum tahu berapa hari saya di rumah sakit cuma kata istri saya sudah 4 hari saya di rumah sakit.

Setelah siuman bagaimana?

Iya yang pertama saya lihat itu ya istri saya dengan dokter yang buka selang. Itu saya lihat cantiknya bidadari istri saya sama dokter itu langsung terang mata saya. Saya pikir bidadari dari mana, tahunya istri saya dan dokter. Pas sadar itu saya pengin langsung cerita cuma kata dokter jangan banyak bicara dan gerak dulu. Kalau mau makan saya gerak pakai tangan.

Apa hikmahnya dari kejadian ini?

Saya ambil hikmah dari kejadian ini terutama harus banyak bersyukur, bersabar dan selalu waspada. Dalam hikmah ini juga, saya mau coba sebelum kejadian ini saya perokok berat dan ngopi habis kejadian ini saya mau berenti merokok.

Karena dokter juga bilang paru saya keserempet. Biarpun dokter nggak menyarankan, saya berhenti sendiri. Dulu saya perokok berat, sehari bisa 3 bungkus. Ngopi juga di rumah paling pagi dan malam, tapi kalau di kantor bisa bergelas-gelas. Makanya dengan kejadian ini saya mau coba hidup sehat. Karena saya sayang sama anak istri saya. Nanti kalau saya merokok lagi, kena penyakit lagi paru saya sudah keserempet.
(mad/mad)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed