DetikNews
Selasa 02 Februari 2016, 17:00 WIB

Wawancara

Walkot Tangerang: Dampak Sosial Bandara Soekarno-Hatta Sebanding Peluang

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Walkot Tangerang: Dampak Sosial Bandara Soekarno-Hatta Sebanding Peluang Foto: (Foto: Yudhistira Amran Saleh)
Jakarta - Bandara Internasional Soekarno-Hatta mulai digaungkan berada di Tangerang, Banten dan bukan di Jakarta. Dampak sosial dan peluangnya bagi Kota Tangerang sebanding.

"Ternyata banyak dampak dari keberadaan Bandara yang tak berdampak positif. Seperti contohnya masyarakat kita dapat kebisingannya. Ya bayangin saja per jam itu 72 pesawat take off dan landing. Kan yang mendapat bisingnya masyarakat sekitar kita. Belum lagi sampahnya, dibuang di Tangerang," jelas Wali Kota Tangerang Arief Rachadiono Wismansyah.

Hal itu dikatakan Arief saat ditemui detikcom di kantornya, Jalan Satria-Sudirman, Kota Tangerang, Banten, Selasa (2/2/2016).  

"Macetnya. Jadi macetnya bandara itu bukan cuma di bandara ngantre mau turun, mau take off, di sekitarnya macet. Jadi macetnya di darat dan di udara. Jadi dengan dampak-dampak sosial itu saya pikir ini harus dijadikan peluang penataan kota ke depan," imbuh Arief.

Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Arief Wismansyah di kantornya:

Bisa dijelaskan latar belakang permintaan penyebutan nama Tangerang di Bandara Soekarno-Hatta?

Sebenarnya kita itu meminta kepada pihak AP II agar menyampaikan informasi yang sesuai yang ada di kondisi wilayah. Karena memangkan Bandara Soekarno-Hatta sejak awal berdiri sampai sekarang kan memang berada di wilayah Tangerang. Ada yang mungkin 70% masuk wilayah Kota Tangerang, 30% masuk wilayah Kabupaten Tangerang.

Sehingga buat kepentingan kami di daerah, pertama, kebanggaan masyarakat Kota Tangerang. Ada legitimasi. Dan kemudian ini menjadi peluang buat Kota Tangerang karena selama ini Kota Tangerang dijadikan pintu gerbang dunia terhadap Indonesia.

Karena memang kurang lebih satu tahun itu nggak kurang dari 83 juta penumpang yang pergi datang melalui Bandara Soekarno-Hatta hanya saja sementara ini mereka nggak tahu. Karena mereka tahunya Bandara Soekarno-Hatta adanya di Cengkareng, seperti itu. Nah itulah peluangnya ini akan dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Tangerang khususnya dalam rangka meningkatkan investasi, pariwisata, kunjungan dan lain sebagainya.

Sejak kapan keresahan mengenai Bandara Soekarno-Hatta itu muncul dan kenapa?

Sebenarnya sejak saya jadi masyarakat Tangerang dan pengguna penerbangan. Jadi ketika landing selalu dibilang selamat datang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. Saya sebagai masyarakat juga, "Lho ini Jakartanya di mana? Karena nggak ada wilayah satu meter pun yang masuk wilayah Jakarta".

Apalagi ditambah ketika saya diberikan amanah menjabat sebagai Wakil Wali Kota, Wali Kota, itu ternyata banyak dampak dari keberadaan bandara yang tak berdampak positif. Seperti contohnya masyarakat kita dapat kebisingannya. Ya bayangin saja per jam itu 72 pesawat take off dan landing. Kan yang mendapat bisingnya masyarakat sekitar kita.

Belum lagi sampahnya, dibuang di Tangerang. Macetnya. Jadi macetnya bandara itu bukan cuman di bandara ngantre mau turun, mau take off, di sekitarnya macet. Jadi macetnya di darat dan di udara.

Jadi dengan dampak-dampak sosial itu saya pikir ini harus dijadikan peluang penataan kota ke depan. Maka, di 2014-2015 kita menata Kota Tangerang ke depan menjadi yang tadinya bandara sumber masalah sekarang ini harus dijadikan sumber peluang bagi pengembangan kota. Sehingga pengembangan tata ruang kota ke depan berbasis bandara menjadikan aerotropolis.

Jadi pusat-pusat pengembangan kota mengacu sama pengembangan bandara. Kayak sekarangkan di tahun 2016 ini sedang ada finalisasi pelaksanaan kereta api bandara. Terus ke depan kita juga menggunakan tarikan-tarikan jalur transportasi umum dari Jakarta dan wilayah sekitarnya masuk lewat Kota Tangerang.

Jadi kondisi-kondisi seperti itulah yang mendorong sehingga sudah selayaknya bandara, memang adanya di Tangerang. Apalagi berita negatif dengan keberadaan bandara, kalau ada narkoba, kalau ada penyusupan barang-barang ilegal, pasti beritanya Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Tapi bagian selamat datang yang nyambut seolah-olah orang Jakarta.

Kapan Bapak mengirim surat protes resmi soal Bandara Soekarno-Hatta?

Sebenarnya sudah sangat lama ya. Sejak saya menjabat jadi Wakil Walikota. Bahkan dulu saya sempat ngomong harusnya kode penerbangannya bukan CGK tapi TNG karena emang Tangerang. Dulu saya juga pernah ngomong sama Menteri Perhubungan zaman saya jadi Wakil Wali Kota. Cuman dia bilang kode TNG itu sudah ada bandara lain yang makai kode itu.

Maka wacana itu terus kita gulirkan, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan Kota Tangerang. Sampai akhirnya Direktur Pak Budi Karya (Dirut PT AP II Budi Karya Sumadi-red) memang hubungan kemasyarakatannya sudah cukup baik. Dan komunikasi dengan Pemerintah Kota Tangerang cukup baik akhirnya beliau memfasilitasi untuk menyampaikan kepada industri penerbangan yang menggunakan jasa AP II untuk mencantumkan selamat datang di Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Sebenarnya itu bukan masalah. Di Medankan Kuala Namu (Deliserdang), Surabaya di Sidoarjo.

Apakah menurut Anda dengan adanya penyebutan Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang Banten, dari yang tadinya di Jakarta tidak akan membingungkan penumpang?

Nggaklah. Kan dia datang ke sini mau datang ke Indonesia. Justru dengan begitu dia melihat Indonesia begitu luas. Jadi kalau menurut saya istilah nama, kemarin saya juga ngobrol dengan beberapa penumpang, baru sama-sama landing, saya bilang "Wah sekarang kita sudah mendarat di Tangerang nih".
"Oh iya ya? Emang ini di Tangerang ya?". Justru menurut saya itu bisa membuat pengetahuan dan informasi jelas bahwa wilayahnya masuk Kota Tangerang.

Setelah sekarang penyebutannya sudah berubah di Tangerang Banten, apa dampaknya bagi Tangerang?

Kalau dampak belum terlihat karena memang baru ya. Tapi dari teman-teman pekerja terutama pramugari dan pramugara, itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri buat mereka. Sampai kemarin pas saya baru landing dari Garuda itu "Wah Pak alhamdulillah Pak, sekarang diakui".

Jadi itu mudah-mudahan menambah effort kerja. Artinya ke depan kita harus sama-sama jaga Bandara Soekarno-Hatta, jaga kita Tangerang karena itu bukan aset nasional saja namun aset Tangerang.
(nwk/try)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed