DetikNews
Rabu 20 Januari 2016, 17:27 WIB

Wawancara

Nazir Foead: 5 Tahun, 2 Juta Hektar Lahan Gambut Terbakar Direstorasi

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Nazir Foead: 5 Tahun, 2 Juta Hektar Lahan Gambut Terbakar Direstorasi Foto: Rusman/Setpres
Jakarta - Presiden Joko Widodo baru melantik Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead. Pemerintah memberi target 2 juta hektar lahan gambut yang terbakar harus direstorasi (dipulihkan) dalam waktu 5 tahun. Mampukah?

"Penegakan hukum harus tegas, nggak boleh setengah-setengah. Kemudian lahan gambut yang sudah terbakar dimiliki perusahaan harus diambil alih negara," demikian tegas Kepala BRG Nazir Foead.

Nazir juga menjelaskan langkah-langkah perbaikan lahan gambut dan potensi ekonominya. Target yang diberikan pemerintah, dalam 5 tahun, harus ada 2 juta lahan gambut terestorasi. Berikut wawancara lengkap dengan Kepala BRG Nazir Foead yang mantan Direktur Konservasi WWF ini di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (20/1/2016):

Ada berapa hektar lahan gambut yang harus direstorasi?

Saya belum bisa sampaikan itu. Kita masih pemetaan data. Data itu tersebar di kementerian dan riset. Data ini yang harus kita koordinasi
Metode juga beragam maka BIG (Badan Informasi Geografi) didukung KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dan BRG dan lembaga donor mengadakan kompetisi pemetaan gambut sudah diluncurkan di Paris, waktu COP21 lagi ditegaskan. Saya kira dalam waktu dekat di Jakarta jadi nanti letak peta yang sudah ada, ada metode yang lebih diterima oleh semua saintis dan semua pihak.

Banyak lahan gambut yang rusak, prioritasnya akan ke yang mana dulu?

Fokus wilayah ada 7 provinsi yang diamanatkan dalam Perpres yang dikeluarkan Bapak Presiden tanggal 6 Januari 2016 lalu, sebaran gambut selama beberapa tahun terakhir.

Kebakaran paling besar di Sumsel, Kalteng, Riau, Jambi, itu prioritas. Dan Papua akhir akhir ini terutama sekitar Merauke, itu tingkat kebakarannya agak mengagetkan, kali ini cukup luas. Bisa jadi Papua juga akan jadi fokus walaupun gambut di Papua tak seperti Sumatera dan Kalimantan. Jangan sampai gambut Papua terdegradasi mengikuti gambut di Sumatera.

Apa tantangan merestorasi lahan gambut?

Saya harus mengakui bahwa butuh kerja sama erat karena banyak kepentingan di lahan gambut, baik itu ekonomi industri besar dan masyarakat sekitar, teman-teman NGO, masyarakat adat, masyarakat sipil dan pemerintah, juga ada kepentingan global.

Lahan gambut kita salah satu yang terluas di dunia, penyimpanan karbon bukan main banyaknya. Impact-nya dirasakan langsung, tak hanya negara tetangga tapi masyarakat global karena karbon yang dirilis sangat besar jumlahnya. Begitu juga bagaimana menyatukan visi bersama dan menerjemahkannya dalam rencana aksi terkoordinir, ini tantangan lumayan.

Tiga tahun pengalaman di lapangan, apa yang akan Anda lakukan di sini?

Kalau di lapangan ini kan gambut ini banyak yang terbuka dan kering karena ada kanal. Untuk mencegah gambut terbakar lagi, gambutnya harus direstorasi agar airnya naik.

Kalau gambutnya basah, nggak akan terbakar. Masyarakat harus dilibatkan langsung dalam kerja restorasi. Membangun DAM atau sekat atau tambat. Masyarakat juga bisa menanam tanaman yang tumbuh dengan subur di dalam gambut, misalnya sagu. Memiliki nilai ekonomi walaupun tak sebesar yang kita ketahui sebesar sawit.

Jadi masyarakat dapat mendapat double bahkan triple benefit yakni mendapatkan restorasi dengan bangun sekat. Jadi itu satu mata pencaharian sendiri, kemudian ada masyarakat yang menanam tanaman yang tumbuh subur di lahan gambut.

Jadi itu sudah manfaat langsung, belum lagi jasa lingkungan yakni gambut menyediakan air, mencegah kebakaran juga ada perikanan air tawar yang umumnya dinikmati masyarakat setempat.

Perusahaan besar banyak terlibat di kebakaran lahan, banyak yang menilai pemerintah tak berani, bagaimana tanggapan Anda?

Kalau kita lihat instruksi presiden ketika beliau memimpin ratas kemudian oleh instruksi Wapres ketika ada kongres gambut internasional di Jakarta juga diikuti langsung oleh perintah dari Menko Polhukam. Dan kemarin kita dengar dalam Rakornas, Bapak Presiden itu sebutkan jelas sekali perintahnya.

Penegakan hukum harus tegas, nggak boleh setengah-setengah. Kemudian lahan gambut yang sudah terbakar dimiliki perusahaan harus diambil alih negara.
Saya 24 tahun kerja di konservasi, saya kagum melihat kemauan dan tekad pemerintah kali ini. Optimisme saya ini besar sekali melihat perintah langsung.

Belasan tahun kebakaran hutan di Indonesia, apa mungkin bisa selesai?

Tahun ini harus siap-siap lagi, kebakaran mungkin saja akan datang karena kerja restorasi gambut di mana dilakukan sekat itu butuh waktu. Kerja sekarang cepat tapi sampai air bisa naik pelan-pelan itu bisa sampai bertahun-tahun.

Kalau gambutnya belum terlalu parah bisa naik dengan cepat (airnya-red). Kalau gambutnya sudah terkeringkan, itu (air) naik sampai gambutnya basah bisa butuh waktu bahkan 10 tahun.

Sembari kita lakukan tindakan fisik, saya kira penting juga kita lakukan aktifitas sosialiasi agar gunakan api dalam buka lahan tak lagi dilakukan. Kalau itu bisa jalan dan industri beri dukungan penuh terhadap penggunaan yang non-api dan membantu masyarakat sekitar dengan cara non-organik dengan bantuan perencanaan matang, saya kira risiko kebakaran bisa minimal. Untuk melihat jelas barangkali 2-3 tahun lagi bisa lihat signifikan.

Pola dengan kanal akan tetap dilakukan?

Kanal yang sudah ada di lahan gambut masih dilakukan. Dan itu cara paling efektif. Selama kanal tak disekat, itu air gambut keluar, terus gambut akan kering dan terjadi kompresi dan akan mampet jadi akan jadi lahan terlantar yang gak punya nilai.

Target waktu restorasi lahan gambut yang diberikan pemerintah?

5 tahun 2 juta hektar terestorasi

Apakah cara yang Anda jelaskan efektif untuk mencapai target?

Karena kan harus tahu dulu di mana dan paling sensitif yang paling susah dipadamkan kalau terbakar. Mana gambut yang setengah-setengah. Kalau sumber dana tak terbatas kita kerjakan semua, tapi kalau terbatas, kita ada prioritas.
(nwk/fdn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed