DetikNews
Rabu 23 Desember 2015, 14:49 WIB

Wawancara

Komjen Buwas: Pengetahuan Bahaya Narkoba Harus Sejak Dini

Idham Kholid - detikNews
Komjen Buwas: Pengetahuan Bahaya Narkoba Harus Sejak Dini Foto: Ilustrasi oleh Basith Subastian
Jakarta - Sejak menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional, Komjen Budi Waseso telah mencetuskan sejumlah ide untuk memberantas dan memerangi permasalahan narkoba di Indonesia. Di antaranya seperti para bandar memakan barang buktinya sendiri dan memasang buaya di penjara tahanan kasus narkoba.

Teranyar, pria yang akrab disapa Buwas itu mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar bahaya penyalahgunaan narkoba dan narkotika masuk dalam kurikulum mata pelajaran di sekolah. Bahaya narkoba harus ditangkal sejak dini.

Menurut Buwas, perang lawan narkoba harus dilakukan dengan berpikir makro. Sebab para mafia barang haram itu menyasar generasi bangsa untuk dirusak cita-cita dan masa depannya.

"Beberapa kasus yang ditangani, ada operasi regenerasi mangsa pasar, mereka (mafia narkoba) serang anak TK, SD," kata mantan Kabareskrim itu.

Berikut petikan wawancara lengkap detikcom dengan Komjen Buwas akhir pekan lalu:

Apa mimpi terbesar Anda dalam pemberantasan narkoba?

Saya tidak pernah bermimpi-mimpi ya, tapi setelah saya tahu akar permasalahannya, maka itu harus saya selesaikan, harus ditangani. Jadi, kita tidak boleh bermimpi tapi harus punya visi ke depan bagiamana kita bisa melakukan perbuatan nyata terhadap permasalahan yang ada. Kalau mimpi itu kan angan-angan. Kita kalau berangan-angan itu berandai-andai. Dalam penegakan hukum, penanganan itu tidak boleh berangan-angan dan berandai-andai, tapi semua pekerjaan itu harus nyata, harus ada hasilnya.

Kalau orang yang bermimpi itu, orang yang terobsesi. Kalau terobsesi, dia punya keinginan. Kalau udah punya keinginan pasti punya kepentingan. Nah kalau sudah ke sana itu nanti tidak obyektivitas lagi, nanti kalau keinginan dan kepentingan tidak tercapai maka dia akan kecewa. Kalau kecewa, dia bisa saja untuk mengejar target, dia bisa saja melakukan penyimpangan.

Dalam beberapa pengungkapan, tidak jarang yang ditangkap itu dari jaringan luar negeri seperti China dan Iran, bagaimana kerjanya?

Ada yang satu sama lain bisa berhubungan,ada yang tidak. Walaupun dari negara yang berbeda. Ada satu ketika mereka merupakan jaringan, karena mereka kan ingin mengedarkan di seluruh negara kalau bisa kan, maka dia bisa berhubungan dengan jaringan negara-negara lain.

Melalui jalur mana masuk ke Indonesia?

Kalau laut melalui jalur-jalur tikus, kalau udara melalui paket-paket (pengiriman) itu.

Soal kondisi pengguna narkoba di Indonesia, pengguna narkoba terbanyak di Jakarta ya?

Oh iya, Jakarta, Medan, Bandung, Jawa Tengah, Yogyakarta.

Yogya yang kota pelajar justru masuk kategori pengguna narkoba terbanyak?

Ya itulah, karena operasi mafia itu memang mau menghancurkan di sentra-sentra potensi generasi bangsa. Makanya saya bilang yang harus kita pahami itu disitu, makanya saya bilang masalah narkotika ini tidak sederhana, kita harus berfikir makro. Bukan hanya tentang bagaimana candu, orang ketergantungan.

Menurut Anda, apakah perlu ada pelajaran tentang bahaya narkoba di kurikulum sekolah?

Perlu. Karena pemahaman itu harus ditanamkan sejak dini di pelajaran. Kalau kita menerima satu materi pelajaran, itu akan melekat ya kan, 'Oh ini dulu saya pernah dapat pelajaran, ini masuk narkotika, nggak boleh'. Paling tidak menangkal sejak dini.

Ada rencana untuk mengusulkan?

Sudah diusulkan, bukunya sudah saya serahkan ke presiden, ke Menteri Pendidikan, PMK. Saya berharap tahun 2016 ini sudah diberlakukan sebagai mata pelajaran sendiri. Supaya pemahaman itu melekat, tidak sepintas.

Bagaimana respons Presiden?

Bagus. Beliau bilang, 'oh bagus ini'.

Untuk tingkat apa saja?

SD, SM, SMA. Sekarang juga lagi buat animasi pelajaran dan pemahaman untuk anak-anak TK, animasi. Anak TK itu kalau sambil diajak bermain, visual, dia akan lebih paham. Karena beberapa kasus yang ditangani, ada operasi regenerasi pasar, mereka (mafia narkoba) menyerang anak TK, SD.

Apakah bandar narkoba itu sekaligus pemakai juga?

Kalau bandar dari WNA dia tidak pakai, tapi kalau bandar dari Indonesia, dia pakai juga. Karena bandar dari WNA itu paham betul bahayanya narkotika.
(idh/mad)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed