DetikNews
Jumat 11 Dec 2015, 10:52 WIB

Wawancara

Thomas Djamaluddin: Pesawat N219 Sederhana Tapi Sesuai Kebutuhan Indonesia

Nur Khafifah - detikNews
Thomas Djamaluddin: Pesawat N219 Sederhana Tapi Sesuai Kebutuhan Indonesia Foto: Grandyos Zafna
Bandung - PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bekerjasama untuk membuat pesawat N219. Pesawat yang baru saja dimunculkan ke publik ini sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia.

detikcom mendapat kesempatan wawancara dengan Kepala Lapan Thomas Djamaluddin terkait pesawat N219 yang baru ditampilkan perdana di hanggar PTDI, Jl Pajajaran, Bandung, Kamis (10/12/2015) kemarin. Thomas menjelaskan mengenai awal mula konsep pesawat tersebut hingga berbagai keunggulannya.

Berikut petikan lengkap wawancaranya:

Sejak kapan N219 mulai dikembangkan?

Tahun 2000an. Mulai seminar dan beberapa pengujian sekitar 2006-2007. Sudah ada pengujian-pengujian di (lokasi) fasilitasnya PTDI dan BPPT. Lebih mengerucut lagi sekitar 2009-2011. Kemudian baru diputuskan program bisa dijalankan 2012. Dipastikan siap anggarannya untuk dilaksanakan 2014.

Hanya setahun?

2 Tahun. 2014-2015 menghasilkan pesawat ini. 2016 Menyelesaikan sertifikasi dan uji terbang. 2017 Baru siap.

Foto: dok. detikcom


Kenapa pesawat tipe ini?

Pertama, SDM kita yang buat N250 sudah banyak yang memasuki masa pensiun. Perlu ada regenerasi. Nah regenerasi ini hrs diberi proyek yang nyata bukan sekedar konsep. Itu adalah dari pembuatan pesawat yang relatif sederhana tidak terlalu rumit tetapi sesuai dengan kebutuhan Indonesia, maka dipilih pesawat N219. Pesawat 2 mesin dengan 19 penumpang.

Dan dengan N219 yang kecil dan dari segi struktur relatif sederhana, ini bisa diselesaikan dengan baik sepenuhnya oleh engineer Indonesia. Tidak ada konsultan asing sama sekali. Sistem pembuatannya tergolong modern. Sudah menggunakan digital. Digambarnya sudah sepenuhnya dengan komputer. Akurasi lebih terjamin. Proses lebih cepat. Kemudian juga untuk proses nanti ke arah produksi juga sudah digunakan cetakan-cetakan bukan prototype, tetapi sudah langsung cetakan produksi.

Kendala apa yang akan dihadapi PTDI nanti, misalnya saat terbang perdana seperti apa?

Lebih banyak kampanye SDM. Karena nanti kalau sudah produksi tentu akan menyedot banyak tenaga terampil yang menguasai. Oleh karena itu saat ini dipacu supaya SDM yang handal bisa direkrut.

Pengerjaan sudah berapa persen?

Dari segi fisik, kita sudah lihat bentuk. Mei tahun depan uji terbang. Kemudian semua sertifikasi bisa diperoleh di 2016 atau awal 2017. 2017 Mulai produksi.

Yang perlu dilengkapi di pesawat ini apa aja?

Pertama proses sertifikasinya. Kemudian masih ada beberapa yang harus uji terowongan angin lagi. Kemudian nanti Mei 2016 sudah mulai bisa terbang. Kalau sudah terbang, artinya fungsi aerodinamiknya sudah bisa dilakukan dengan fungsi-fungsi yang lain. Kemudian dilengkapi sampai seluruhnya kita penuhi sertifikasi yang dibutuhkan.

Finansialnya bagaimana, Pak?

Pembagian tugas Lapan dan PTDI, Lapan bergerak pada litbangnya kemudian PTDI manufaktur. Ini adalah sebagai bentuk dukungan pemerintah. Kalau biaya litbang dibebankan pada industri akan menjadi terlalu berat. Sehingga memang dengan strategi seperti ini, litbangnya atau perancang bahu oleh pemerintah dalam hal ini oleh Lapan. Kemudian setelah jadi, diserahkan ke PTDI untuk diproduksi dan akan relatif bisa membantu industri penerbangan.

Berapa biaya?

Total secara garis besar dana Lapan dan PTDI Rp 500 miliar (sampai 2017).

Mau komersil? Dijual ke mana?

Sudah ada permintaan dari negara tetangga. Dari Filipina, Thailand, Laos dan beberapa lagi. Tapi fokus pertama kebutuhan dalam negeri.

Mereka sudah liat?

Dari konsepnya dulu. Mereka sudah tertarik dan ini mereka butuhkan.

Optimis pesawat ini akan berkembang sukses?

Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau mau tidak mau memerlukan konektifitas dengan moda penerbangan. Kalau mengandalkan kapal lama. Jadi terkait distribusi barang, mobilitas penduduk, lama. Nanti pesawat terbang seperti halnya mobil. Makin lama makin padat karena semakin dibutuhkan. Untuk Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau ini sangat dibutuhkan. Tidak harus besar-besar karena pulau-pulau kan umumnya kecil-kecil. Sehingga pesawat kecil ini sangat cocok.

SDM yang masih kurang ini apa saja?

Semua teknisi terkait. Termasuk pilot.

Produksi langsung PT DI?

Iya. Produksi PT DI dengan didukung oleh industri lokal. Kementerian perindustrian juga menyiapkan program untuk membina industri lokal.

Desainer orang Indonesia?

Iya. Dari PT DI

Kerjasama Lapan dan PT DI berakhir di N219?

Tidak. N219 pun nanti masih ada variasi-variasinya. Masih terus berjalan. Kemudian generasi berikutnya N245 untuk 50 penumpang sudah mulai disiapkan. Kemudian generasi berikutnya nanti ada N270 untuk 70 penumpang. Jadi terus berlanjut.

Sudah mulai jalan?

Mulai dari konsep, desain awal beberapa sudah mulai.

Sudah masuk ke pembiayaan?

Masih yang kecil-kecilnya. Nanti biaya besarnya ini harus ada pengajuan khusus.

Tahun berapa?

Diharapkan 2017 sudah mulai ada.

Berapa biaya?

Belum ada taksiran. Yang pasti lebih mahal dari N219 karena lebih besar.

Kalau sama R80 buatan negara tetangga?

Lebih canggih lagi. R80 Itu lebih dari N270.

Jadi nggak bakal jadi pesaing?

Enggak. Beda target ini.

Keunggulan N219?

Pesawat ini berpeluang besar akan laku di pasaran karena jumlah armada pesawat perintis sudah memasuki 25 tahun dengan batasan usia 30 tahun. Diharapkan tahun 2017 N219 bisa menggantikan pesawat-pesawat lama itu. Pesawat N219 ditenagai sepasang engine PT6-420. Kemampuan jelajah 1580 nautical mile dengan kecepatan maksimum 213 knots.

Thomas kemudian menjelaskan keunggulan N219:

1. Harga lebih murah. Biaya operasi dan pemeliharaan rendah
2. Memiliki kemampuan short take of landing dan mudah dioperasikan di daerah terpencil
3. Bisa self starting tanpa bantuan ground support unit
4. Menggunakan teknologibaerodinamik yang lebih modern.
5. Memiliki kabin terluas di kelasnya.
6. Multihop capability fuel tank, teknologi yang memungkinkan pesawat tidak perlu mengisi ulang bahan bakar untuk melanjutkan penerbangan ke rute berikutnya.
7. Kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan kompetitor, yakni sampai 210 knot maksimum speednya.
8. Stall speednya di angka 59 knot, artinya cukup rendah tapi pesawat bisa bagus terkontrol, ini sangat penting kalau masuk ke wilayah yang bertebing-tebing, di antara pegunungan-pegunungan yang membutuhkan pesawat dengan kemampuan manuver dan kecepatan rendah.
9. Wilayah dengan ketinggian 5.000-6.000 feet meskipun tidak membawa penumpang penuh, tapi N219 masih bisa membawa orang maksimal sebanyak 12 penumpang pada ketinggian tersebut. Jumlah tersebut lebih banyak dari pesaing.
10. Dilengkapi terrain alerting and warning system, jadi alat bisa mendeteksi bahwa pesawat ini sedang menuju kepada atau mendeteksi perbukitan. Kalau dulu menggunakan GPWS (ground proximity warning system) kalau pesawat ini mendekati daratan atau pegunungan, pesawat ini sistemnya akan memberikan tanda, visualisasinya 3D sehingga pilot bisa melihat secara langsung kondisi perbukitan.
(kff/mad)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed