DetikNews
Senin 02 November 2015, 15:09 WIB

Wawancara

Menkes Nila Moeloek Soal Kabut Asap: Ini Darurat Kesehatan

Firdaus Anwar, Isfari Hikmat, Yulida Medistiara - detikNews
Menkes Nila Moeloek Soal Kabut Asap: Ini Darurat Kesehatan Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Akibat kebakaran hutan terdahsyat tahun ini, diperkirakan 50 juta orang terpapar asap, 540 ribu orang terkena infeksi saluran pernapasan akut, dan 19 orang di antaranya meninggal. Belum lagi kerugian ekonomi, yang diperkirakan mencapai Rp 400 triliun. Karena itu, Menteri Kesehatan Nila Moeloek tak berkeberatan bila ada pihak yang menyebut kondisi saat ini di daerah yang terkena dampak kebakaran hutan mengalami darurat kesehatan.
 
Ia bahu-membahu bersama koleganya, seperti dari Kementerian Sosial serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengerahkan semua bantuan yang tersedia. Selain masker dan obat-obatan, dalam dua pekan terakhir disiapkan rumah-rumah singgah dan berbagai alat penjernih udara.
 
"Kami sudah mengeluarkan 33,8 ton obat, masker, dan oksigen. Juga memobilisasi sumber daya manusia kesehatan," kata Nila.
 
Tapi dia tak mau berspekulasi apakah anak-anak balita yang kini terpapar asap ada kemungkinan mengidap endemi kanker paru-paru. Alasannya, kanker terjadi akibat perubahan sel yang memerlukan waktu lama. Untuk menjadi kanker, kata Nila, harus dinilai dari terpaparnya asap beberapa lama dan banyak.  
 
"Saya rasa itu harus kita cari referensinya dulu. Mungkin saja bisa, mungkin juga tidak."
 
Penjelasan lebih lanjut, simak wawancara majalah detik dengan Nila Moeloek di sela kunjungan ke Palangkaraya pada 15 Oktober dan ke Jambi dua pekan kemudian. Materi perbincangan juga dilengkapi dengan penjelasan dalam jumpa pers di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, 22 Oktober lalu. Berikut ini petikannya.
 
Apa saja yang dilakukan dan disiapkan Kementerian Kesehatan dalam menanggulangi bencana asap?  
 
Kami sudah berdiskusi dengan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia untuk membicarakan langkah apa yang dapat kita lakukan, baik dalam dunia akademisi maupun pelayanan kesehatan. Jadi dikatakan, bila ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) di atas 50, tidak direkomendasikan untuk keluar dari rumah. ISPU di atas 200 tidak sehat dan berisiko bagi anak di bawah 12 tahun. Jadi kelompok yang rentan terpapar asap ini adalah bayi, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit kronis.  
 
Sejauh ini, berapa banyak korban jiwa akibat kabut asap?
 
Laporannya beragam. Ada yang karena asap, ada juga yang karena sebab lain. Hal terpenting ke depan adalah jangan sampai hal semacam itu terulang. Jadi ada yang meninggal itu (karena) dia menderita asma, bukan karena asap directly. Dia meninggal karena kurang cepat mendapat pelayanan atau penanganan.
 
Kalau memang kualitas udara buruk, bagaimana dengan aktivitas sekolah?
 
Kami meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meliburkan SD dan SMP. Bila ISPU di atas 300, kami meminta agar SMA dan universitas diliburkan. Jika di atas 400, yang sangat berbahaya, sebaiknya semua warga tidak beraktivitas di luar rumah.  
 
Tentu semua ini sangat memprihatinkan karena tidak beraktivitas di luar rumah sangat mengganggu keadaan di dalam keluarga. Keadaan rumah juga kan beraneka ragam. Ada yang bisa beraktivitas di dalam rumah dengan baik, ada juga yang ventilasi tidak terlalu baik. Kami menganjurkan agar rumah ini ventilasinya ditutup.  
 
Untuk soal asap ini, semua dikoordinasikan Kementerian Kesehatan?
 
Kami dari Kementerian Kesehatan membuat edaran kepada pemerintah daerah untuk membuat langkah-langkah karena (pemerintah) pusat kan tidak bisa memantau terus. Dalam surat edaran ini, kami meminta agar penentuan ISPU setiap 24 jam dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota.  
 
Kami juga membuka rumah singgah serta shelter di lokasi setempat. Ruangannya diatur kondisi udaranya dengan menggunakan AC. Ini bisa dibuka di ruang-ruang pertemuan di kantor pemda atau swasta. Kami juga memberikan pelayanan kesehatan 24 jam, baik di rumah sakit umum daerah dan swasta maupun puskesmas.  
 
Semua dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota membuka posko kesehatan di lokasi umum. Bahkan dokter-dokter dan tenaga medis proaktif keluar mencari orang yang berisiko tinggi.  
 
Untuk menghadapi musibah ini, kami sudah mengeluarkan 33,8 ton berupa obat, masker, dan oksigen. Juga memobilisasi sumber daya manusia kesehatan. Dari Rumah Sakit Fatmawati, RS Persahabatan, dan RSCM sudah pergi ke sana. Karena itu, kami akan memanfaatkan dana operasional kesehatan untuk dimanfaatkan puskesmas. Kami juga meminta rumah sakit di luar daerah-daerah tersebut memberikan bantuan tenaga dan pengobatan dengan mobilisasi.  
 
Kementerian Kesehatan akan mendistribusikan kembali 125 ribu masker per kabupaten/kota bagi 97 kabupaten/kota yang terkena dampak. Tenda isolasi sudah dikirim. Pendistribusian oxygen concentrator juga sangat diperlukan.  
 
Membagikan air purify ke tiap rumah sakit sebanyak 70 unit, kit penanggulangan asap untuk puskesmas sebanyak 500 unit. Kami sudah menggerakkan semua bantuan sejak 14 Agustus ke delapan provinsi dan sudah berulang kali bolak-balik ke sana. Kami punya Pusat Penanggulangan Krisis yang terus melakukan pengawasan.  
 
Sempat ada keluhan soal jenis masker, ada yang minta jenis N95 tapi yang diberikan masker biasa?
 
Kemarin dari WHO menyatakan masker jenis apa saja, karena yang penting fungsinya bisa menahan atau mengurangi partikel masuk rongga pernapasan. Masker itu juga memungkinkan kita tetap bisa bernapas dengan nyaman. Jadi itu yang penting.  
 
Bisa saja kita bikin masker yang tertutup sama sekali tanpa pori-pori. Tapi, kalau seperti itu, bagaimana Anda bisa bernapas? Iya, kan? Jadi masker itu kita gunakan bila kualitas udara buruk sekali. Atau sebaiknya kita masuk rumah. Apakah di dalam rumah harus tetap memakai masker juga, ya itu tergantung. Kalau udara di dalam rumahnya baik, ya tidak perlu.  
 
Ada desakan agar diberlakukan darurat kesehatan?
 
Darurat kesehatan itu betul. Kami selaku tenaga kesehatan melihat ini tidak bisa dibiarkan. Dengan ISPU yang sangat tinggi, bagi kami ini darurat bagi kesehatan. Kami meminta gubernur menyatakan tanggap darurat, sehingga kami bisa mengerjakan dari pusat untuk membantu. Apa pun untuk kemanusiaan, kita harus memberikan pertolongan.
 
Shelter disiapkan di tiap daerah?
 
Shelter ini memang kita perlukan karena tadi ada kaitannya dengan evakuasi. Dibuat bisa dengan tenda isolasi sehingga asap tidak masuk dengan memakai filter dan air purify. Ini tidak bisa kita bangun secara tersebar, tapi kita bangun dekat rumah singgah, seperti di Palangkaraya.  
 
Sehingga, kalau terjadi sesuatu, bisa langsung dibawa ke rumah sakit atau puskesmas yang dokternya siap siaga. Kami harus bekerja sama dengan yang lain karena tenda isolasi ini tidak mudah dan tidak murah. Mungkin lintas kementerian, siapa yang punya.
 
Berapa anggaran yang disiapkan?
 
Untuk bantuan ini, kami punya (dana) cadangan. Kalau terjadi sesuatu, dana bisa dipakai. Angkanya memang agak sulit disebutkan.  
 
Masyarakat bisa membuat air purify sendiri?
 
Yang penting asap tidak masuk. Kalau kebetulan rumahnya baik dengan kondisi tertutup, tidak perlu air purify. Bagi yang ventilasinya terbuka, bisa ditutup dengan kain yang dibasahi agar partikel tidak masuk rumah.
 
Daerah mana yang sudah menyiapkan rumah singgah dan shelter?
 
Kita bisa kerja sama dengan Kementerian Sosial, yang punya rumah singgah. Itu bisa dimanfaatkan. Yang penting ruangan yang tertutup dari asap. Kalau memang diperlukan, rumah sakit bisa dijadikan tempat penampungan agar mereka tidak terpapar.
 
Sudah ada pemetaan evakuasi?
 
Kalau dari kami bisa dilakukan pada orang yang berisiko tinggi, seperti bayi. Bisa dievakuasi ke rumah singgah atau shelter. Bisa juga di GOR asalkan tertutup. Memang masyarakat harus betul-betul diberi pengertian kapan harus dievakuasi. Karena kadang mereka juga terhambat ketika meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Ini yang jadi pertimbangan mereka. Tapi yang berisiko tinggi harus segera ditolong.  
 
Ada kemungkinan anak-anak yang terpapar asap ini bisa terkena kanker paru-paru?
 
Pendapat saya, kanker kan kategorinya perubahan sel yang memerlukan waktu lama. Itu tidak bisa segera. Untuk menjadi kanker, harus dinilai dari terpaparnya asap beberapa lama dan banyak. Saya rasa itu harus kita cari referensinya dulu. Mungkin saja bisa, mungkin juga tidak.  
 
Anda setuju soal bencana asap ini masuk ke dalam materi pendidikan di sekolah?
 
Saya kira itu sudah lama, ya, bukan cuma asap. Kekurangan air, demam berdarah, itu juga bencana. Sejak tsunami 2004, ada pemikiran untuk memberikan pengetahuan dan pelatihan sejak dini agar kita semua senantiasa waspada dan mengerti apa pertolongan pertama yang bisa dilakukan minimal untuk diri sendiri. Kami dari Kementerian Kesehatan akan meminta Unit Kesehatan Sekolah diaktifkan kembali.
 
BIODATA  
 
Nama: Profesor Dr dr Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K)
Tempat/Tanggal Lahir: Jakarta, 11 April 1949  
Suami: Prof Dr dr H Farid Anfasa Moeloek, SpOG (Menteri Kesehatan 16 Maret 1998-21 Mei 1999)
 
Pendidikan:
- S-1 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, lulus 1968
- S-2 Spesialis Mata FKUI, lulus 1974
- Subspesialisasi/International Fellowship di Orbita Centre, University of Amsterdam, Belanda, dan di Kobe University, Jepang
- S-3 Ilmu Kedokteran FKUI dengan disertasi "Model Diagnostik Pemeriksaan Tumor Orbita dalam Upaya Penemuan Tumor Orbita Lebih Dini", lulus 2003
 
Karier:
- Kepala Subdivisi Tumor Mata Departemen Penyakit Mata FKUI-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, 1979-1998
- Ketua Medical Research Unit FKUI, 2007-2009
- Guru Besar FKUI, 2007
- Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Millennium Development Goals, 2009-2014


(nwk/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed