DetikNews
Selasa 27 Oktober 2015, 12:14 WIB

Wawancara

Irman Yasin Limpo: Dewie Pasti Tahu Risiko Tindakannya

PASTI LIBERTI MAPPAPA - detikNews
Irman Yasin Limpo: Dewie Pasti Tahu Risiko Tindakannya Foto: majalah detik
Jakarta - Keluarga yakin anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewie Yasin Limpo, tersangka kasus suap dalam proyek pembangkit listrik tenaga mikrohidro di Kabupaten Deiyai, Papua, mengetahui risiko yang dihadapinya. Tindakan Dewie dalam kasus itu, ditegaskan adik Dewie, Irman Yasin Limpo, tidak terkait dengan keluarganya, yang banyak menjadi pejabat di Sulawesi Selatan.

"Proses hukum harus tetap dia jalani sebagai risiko-risiko yang harus dia hadapi karena mengambil tindakan yang dia anggap cocok untuk dia," kata Irman.

Irman tidak bisa menjelaskan seperti apa reaksi Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo atas penangkapan adiknya tersebut.

"Kami masing-masing punya prinsip. Saya tidak tahu dia kesal atau tidak," kata Pelaksana Tugas Bupati Luwu Timur itu.

Meski anggota keluarganya banyak yang menjadi pejabat dan anggota Dewan di Sulawesi Selatan, Irman menegaskan, keluarganya tidak pernah merencanakan membuat dinasti.

Berikut ini wawancara Pasti Liberti Mappapa dari majalah detik dengan Irman.

Kapan Anda mendengar kakak Anda, Dewie Yasin Limpo, ditangkap KPK?

Besoknya setelah dia ditahan.

Bagaimana keluarga Yasin Limpo menyikapi kasus tersebut?

Dewie itu ciptaan Tuhan yang dianugerahkan kepada kami sebagai saudara. Kami sayang dia sebagai saudara. Tapi tentu, sebagai manusia dewasa, dia mengerti dan tahu persis risiko-risiko yang dia hadapi dalam pekerjaannya.

Dicuci satu lautan pun dia tetap saudara kami. Sebagai keluarga, kami tetap sayang apa pun yang terjadi pada dia. Proses hukum harus tetap dia jalani sebagai risiko-risiko yang harus dia hadapi karena mengambil tindakan yang dia anggap cocok untuknya. Kalau menanam padi, pasti ada rumput yang tumbuh. Kami dari keluarga menghormati proses hukum yang berjalan saja.

Apa tanggapan kakak Anda, Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan?

Saya tidak tahu. Kami masing-masing punya prinsip. Saya tidak tahu dia kesal atau tidak. Tapi, sebagai saudara, kami pasti tetap saling menyayangi, baik dia sedang bermasalah maupun tidak bermasalah.

Apakah keluarga sudah menunjuk penasihat hukum?

Yang mengurusi anak-anaknya.

Bagaimana ayah Anda, Yasin Limpo, mendidik anak-anaknya sehingga semua anaknya sukses di jalur politik dan pemerintahan?

Sewaktu Bapak Yasin Limpo masih hidup, setiap tahun, momentum bulan puasa pada satu minggu pertama, saat salat tarawih, dijadikan tempat berkumpul untuk diingatkan dan diskusi keluarga.

Bapak kan basic-nya Pramuka. Bapak selalu mengingatkan soal-soal yang berbau kepedulian atau hal-hal yang menyangkut kehidupan. Dia berpesan, segala sesuatu harus berada di tengah-tengah. Misalnya (kami) dinasihati, "Kamu jangan terlalu miskin, jangan juga terlalu kaya. Jangan terlalu pintar, jangan juga terlalu bodoh. Karena masing-masing ada risikonya."

Apakah memang ayah Anda mengarahkan anak-anaknya untuk menjadi birokrat atau politikus?

Kami sekeluarga makan paginya bukan nasi atau roti. Sarapan pagi kami bersaudara adalah cerita politik dan pemerintahan. Hampir semua tamu Bapak dan Ibu itu orang-orang pemerintahan dan orang politik. Wajar saja kalau kami masuk politik atau pemerintahan karena lingkungan kami seperti itu.

Seandainya dari kecil sarapan paginya pembicaraan usaha, pasti kami jadi pengusaha. Ya, begitu, dari kecil sampai remaja lingkungan kami ya itu. Termasuk Pak JK (Jusuf Kalla) juga orang yang suka berkonsultasi ke bapak kami. Jadi setiap pagi kami dengar itu terus. Alam yang membentuk cara berpikir kami menjadi birokrat atau politikus.

Keluarga Anda dituding membentuk dinasti Yasin Limpo di Sulawesi Selatan. Bagaimana tanggapannya?

Tidak ada niat kami membentuk dinasti Yasin Limpo. Kalau mau membuat dinasti, mengapa kami berbeda-beda. Seharusnya kan kami satu partai saja kalau mau membuat dinasti. Tapi, meskipun beda-beda (partai), tidak ada perseteruan di keluarga kami. Atmosfer itu kami dapatkan sejak masa kecil sampai remaja.

Jadi, saat ada yang berpendapat beda, kami tidak bisa menghambat atau melarang. Kalau kakak saya mengambil keputusan sendiri, yang lain juga mengambil keputusan sendiri. Kami tidak punya hak untuk melarang. Jadi ini harus dilihat sisi positifnya bahwa kami punya kemerdekaan masing-masing meskipun kami bersaudara. Tetapi kami memberikan informasi dan saran kepada saudara yang lain. Itu selalu kami lakukan meski keputusan tetap pada yang bersangkutan dengan risiko masing-masing.
(pal/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed