Rizal Ramli: Ada yang Keburu Asyik Manasin

Rizal Ramli: Ada yang Keburu Asyik Manasin

Ibad Durohman - detikNews
Rabu, 26 Agu 2015 10:40 WIB
Rizal Ramli: Ada yang Keburu Asyik Manasin
Foto: CNN Indonesia/Safir Makki
Jakarta - Menteri Koordinasi Kemaritiman Rizal Ramli merasa tidak memiliki masalah dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla meskipun terlibat perang pernyataan di media massa. Β 
Β Sebagai menteri, ia melakukan otokritik terhadap program pemerintah dengan tujuan agar pemerintah bersikap realistis sehingga berfokus pada program yang bisa dicapai. Rizal tidak setuju terhadap program yang hanya memberi mimpi kepada rakyat, seperti program pembangkit listrik 35 ribu megawatt.
Β 
"Maksud saya sebetulnya, kita fokus. Tapi ada yang menanggapi, keburu asyik manasin-nya," kata Rizal.
Β 
Berikut ini wawancara dengan Rizal Ramli:
Β 
Kenapa Anda mengkritik proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt?
Β 
Sebetulnya sederhana, lima tahun pemerintahan terakhir SBY, targetnya kan 10 ribu megawatt. Tapi yang tercapai cuma 3.000 megawatt. Jadi mengapa rakyat kita kasih mimpi yang tidak-tidak? Β 
Β 
Yang terjadi sekarang, sudah ditetapkan 35 ribu megawatt. Banyak yang mendapat lisensi-konsesi, tapi tidak mampu mengerjakan, (karena) tidak punya uang, tidak punya pengalaman.
Β 
Masalahnya, konsensi itu kemudian dibagi. Buntutnya, didagangin doang karena tidak punya uang. Tidak punya track record. Nah, itulah kenapa kami sarankan agar kita review dulu semuanya. Mana yang betul-betul bisa kita kerjakan, kita fokus kerjakan.
Β 
Dugaan kami, 15 ribu megawatt bisa kita capai dalam 5 tahun, itu bisa kita capai, realistis. Nah, sisanya boleh saja dilanjutkan pada periode sehabis 2019.
Β 
Pak Jokowi juga cerita sama saya, "Mas Rizal, bagus itu langkah ini." Karena apa? Kita kan punya pengalaman, konsesi jalan tol dibagi-bagi, (tapi) tidak dibangun. (Ruas tol) Semarang-Solo mangkrak puluhan tahun, tidak ada hasilnya. Akhirnya Presiden Jokowi suruh BUMN ambil. Nah, maksud saya sebetulnya, kita fokus. Tapi ada yang menanggapi, keburu asyik manasin-nya, ngomentari.
Β 
Tapi Presiden Jokowi tetap melanjutkan proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt….
Β 
Ya, seperti kami katakan, kita kan ingin terealisasi. Siapa sih yang janji proyek 10 ribu megawatt zaman SBY-JK? Kan, cuma 3.000. Kan lebih baik kita fokus mana yang benar-benar kita inginkan. Kalau kontroversinya, saya tidak tertarik. Ini kan solusi.
Β 
Anda akan me-review kebijakan pembangkit listrik 35 ribu megawatt, kapan akan dilakukan?
Β 
Kita nanti minggu depan akan urus pelabuhan dulu, soal dwell time di Tanjung Priok. Pokoknya nanti pada waktunya akan kami selesaikan.
Β 
Anda kemarin dipanggil oleh Presiden Jokowi. Membicarakan apa?
Β 
Kami kemarin sore (Kamis, 20 Agustus) dipanggil Presiden dan diminta melakukan koordinasi dengan Departemen (Kementerian) Pertanian dan Departemen Pekerjaan Umum.
Β 
Jadi, di bawah koordinasi kami, ada Departemen Maritim dan Kelautan, ada Departemen Perhubungan, Departemen Pariwisata, Departemen ESDM, Departemen Pertanian, dan Departemen Pekerjaan Umum.
Β 
Ini adalah sektor riil karena pada dasarnya memang sektor riil yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Sektor riil yang bisa memberi nilai tambah pada ekonomi kita.
Β 
Betulkah Anda dipanggil Jokowi dan dinasihati agar berdamai dengan JK?
Β 
Tidak ada. Saya tidak ada masalah kok dengan Pak JK. Saya sih, yang penting, kalau kita berbeda pemikiran, yang penting kontennya, isinya, faktanya. Bukan kembang-kembangnya. Kalau kembang-kembangnya, ya kasihan bangsa kita, tidak maju. Jadi, kalau ada perbedaan pendapat, lebih baik fokus pada faktanya dan lain-lain. Gitu aja kok ribet.
Β 
Masalah perubahan nama dan nomenklatur kementerian Anda sampai mana prosesnya?
Β 
Sudah disampaikan dan Presiden sudah setuju.
Β 
Pertemuan dengan Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan membicarakan apa?
Β 
Ngobrol-ngobrol. Hari ini kan Hari Maritim, itu setelah kemerdekaan kita, yaitu Badan Keamanan Rakyat. BKR, waktu itu cikal-bakal ABRI, merebut kapal angkatan laut Jepang. Itulah kenapa disebut Hari Maritim. Mudah-mudahan hari ini bisa menjadi kebangkitan bagi sektor maritim kita. Itu nanti yang akan dirayakan di Pontianak.
Β 
Apa program prioritas Anda?
Β 
Ya, tentu program prioritas utama kami adalah sektor pariwisata. Karena pariwisata yang paling mudah untuk menciptakan lapangan kerja. Pariwisata itu hanya perlu sekitar US$ 3.000, sementara sektor lain perlu US$ 10 ribu, perlu US$ 20 ribu. Β 
Β 
Nah, kalau sektor pariwisata bagus, maka transportasi udara, darat, dan laut akan meningkat. Kemudian juga UKM, produk kreatif akan semakin bagus. Yang berikutnya adalah devisa. Saat ini kita menghasilkan devisa sekitar US$ 10 miliar. Target kami, 5 tahun lagi, harus lebih dari US$ 20 miliar dan itu pasti kita capai.

***

Tulisan selengkapnya bisa dibaca gratis di edisi terbaru Majalah Detik (Edisi 195, 24 Agustus 2015). Edisi ini mengupas tuntas Rizal Ramli, "Si Rajawali Ngepret". Juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik, seperti rubrik Nasional "Di Balik Petaka Trigana", Internasional "Siapa Pria Berkaus Kuning?", Ekonomi "Padamnya Batu Bara", Gaya Hidup "Pria pun Jalani Operasi Dada", rubrik Seni Hiburan dan review Film "Welcome to Me", serta masih banyak artikel menarik lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk aplikasinya bisa di-download diΒ apps.detik.comΒ dan versi Pdf bisa di-download diΒ www.majalah.detik.com. Gratis, selamat menikmati!!

Halaman 2 dari 1
(irw/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads