“Ora entuk nggege mongso (tidak boleh mendahului apa yang belum waktunya),” kata Mangkubumi dalam perbincangan dengan majalah detik.
Mangkubumi mengaku yang ia tahu sekarang hanya terjadi perubahan namanya, dari Gusti Kanjeng Ratu Pambayun menjadi Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi. Perubahan nama itu mempunyai konsekuensi, ia akan mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Namun, sampai sekarang, Sultan belum memberinya tambahan tugas baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mangkubumi berpendapat, perempuan sebenarnya adalah pemimpin. “Perempuan itu pemimpin di mana pun dia berada,” katanya.
Berikut ini wawancara Irwan Nugroho dari majalah detik dengan GKR Mangkubumi.
Seperti apa proses penobatan Anda sebagai GKR Mangkubumi?
Tidak ada pembahasan sebelumnya. Pada waktu kami jalan ke lokasi, Ngarso Dalem hanya menyampaikan ke saya, nanti dipanggil. Kemudian setelahnya duduk di kursi yang depan. Kemudian acara berlangsung, saya dipanggil. Kemudian diganti nama.
Saya baru tahu makna itu setelah duduk. Dari diganti nama sampai duduk, saya gemetaran. Sampai tidak lihat Ngarso Dalem sudah jalan turun. Dua hari saya tidak bisa tidur. Suami ada dan adik-adik saya ada. Suami saya juga tidak tahu.
Apa makna dari perubahan nama dan gelar tersebut untuk Anda?
Saya hanya tahu saya berganti nama. Sesuai dawuh (perintah) Raja yang menetapkan saya dengan nama Mangkubumi. Tapi, setelah saya pikir malam-malam, ternyata tanggung jawab yang saya emban semakin berat. Nama yang besar dengan penuh makna tentunya disertai dengan tanggung jawab yang luar biasa juga.
Tidak bisa tidur selama dua hari setelah penobatan, lantas apa saja yang Anda kerjakan?
Tiap malam saya berdoa.
Pengamat menilai Anda sedang dipersiapkan untuk kelak menjadi pengganti Sultan HB X? Apa tanggapan Anda?
Kata orang Jawa: ora entuk nggege mongso (tidak boleh mendahului masanya).
Saking mendadak dan rahasianya prosesi penobatan, Anda kabarnya sampai kerepotan menyiapkan busana?
Kalau pakai kain diri sendiri kan sudah biasa, ya, tidak repot. Yang repot itu menyiapkan pakaian Ngarso Dalem dan Kanjeng Ratu Hemas, karena beliau kan pakai pakaian kebesaran.
Apa yang Anda cita-citakan terhadap Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta?
DIY aman, nyaman, dan masyarakat sejahtera.
Bagaimana pendapat Anda tentang perempuan yang menjadi pemimpin?
Semua perempuan sebenarnya pemimpin. Dalam keluarga, yang mengatur keuangan, anak, dan lain-lain kan perempuan. Perempuan itu pemimpin di mana pun mereka berada.
Seperti apa intensitas Anda bertemu dengan Sultan? Apakah akhir-akhir ini makin sering, berhubung adanya pro-kontra sabda Raja?
Seminggu sekali pasti, karena anak-anaknya semua sibuk. Jadi kita kumpul makan bersama. Ya, kalau saya ke Keraton sore hari, ya sering ketemu. Kan sudah beda rumah.
Apakah ada perintah tertentu dari Sultan kepada Anda dalam menghadapi pihak yang kurang setuju dengan sabda Raja?
Tidak ada dawuh yang spesial.
Kalau dari Kanjeng Ratu Hemas?
Ya, sama.
Sejak lama Anda aktif di berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan, bisa diceritakan awal mula ketertarikan dalam berorganisasi tersebut?
Sejak kecil kami sudah sering diajak oleh bapak dan ibu keliling ke desa untuk mengetahui kehidupan di sana. Jadi, saat saya selesai sekolah dari luar (negeri), saya mengabdikan diri saya kepada masyarakat. Saya menyadari diri saya lebih cocok ke sosial daripada bisnis.
Seperti apa kiprah Anda pada saat memimpin organisasi karang taruna se-provinsi DI Yogyakarta selama 10 tahun?
Organisasi nasional yang saya masuki pertama kali ya karang taruna pada tahun 2002. Saya melihat potensi karang taruna ini yang sangat luar biasa. Karena, posisi ada di tingkat pedesaan. Potensi lokal yang sangat potensial bila digali maksimal. Utamanya adalah budaya.
Contoh, pemuda pelopor yang ada di tingkat desa sampai kecamatan. Para pemuda inilah yang membimbing pemuda yang lain untuk maju bersama. Tidak perlu lagi bekerja di kota. Sampai sekarang saya masih cinta dengan karang taruna, karena memang organisasi yang sangat bagus, membangun karakter untuk sosial, belajar untuk saling membantu, belajar untuk berwirausaha dengan model berkelompok.
Anda kini menjabat Ketua Komite Nasional Pemuda DI Yogyakarta. Seperti apakah kesibukan di KNPI?
Di KNPI saya banyak belajar. Karena, di situlah macam-macam organisasi kepemudaan bersatu dan saling belajar. Di situlah saya ditempa dan diuji mental saya. Di situlah kita sama-sama membangun karakter pemuda untuk jadi pemimpin. Belajar banyak hal, termasuk belajar pola pikir politik. Bukan politik praktis, melainkan belajar untuk mengenal politik.
Kegiatan lapangan tidak sebanyak karang taruna. Di KNPI lebih banyak diskusi untuk menyatukan pikiran dan tujuan untuk membangun bangsa yang dimulai dari membangun DIY.
Anda banyak menaruh perhatian terhadap pengembangan ekonomi masyarakat kecil. Mengapa?
Sejak 2003, saya masuk di organisasi yang dibentuk BKKN. Di situ saya banyak belajar tentang ekonomi keluarga. Potensi para ibu itu luar biasa. Di waktu yang luang, tanpa meninggalkan rumah dan tetap mengurusi anak dan suami, ibu bisa berkarya dan berpenghasilan. Contoh, membuat sirop, emping, dan lain-lain. Itu bisa menjadi tambahan penghasilan keluarga.
Pemberdayaan ekonomi yang kita bentuk dalam kelompok itu bisa maju bersama. Karena, berkelompok tentunya saling memberi informasi dan juga saling mengisi dan dengan itu diharapkan kualitas produk juga semakin baik dan pengembangan bersama. Tujuannya, ya untuk majunya para ibu itu. Organisasi ini namanya AKU (Asosiasi Kelompok UPPKS). Saya menjabat jadi Ketua DIY sejak 2003 sampai sekarang. Tapi, di bulan April kemarin, saya didaulat menjadi ketua di nasional. Jadi saya siap untuk keliling untuk membantu ibu-ibu di luar DIY.
Selain di organisasi sosial dan kemasyarakatan, Anda juga duduk di jajaran direksi lima perusahaan milik Keraton? Masih aktif di kelima-limanya?
Saya lebih senang ke sosial daripada bisnis. Mayoritas, saya tidak begitu aktif. Saya menyerahkan adik-adik saya untuk mengelola. Ya, dari situlah saya bisa menghidupi jalannya organisasi dan kegiatan saya yang banyak itu.
Pascadinobatkan sebagai GKR Mangkubumi, apakah ada perubahan tugas atau tanggung jawab yang lebih besar di Keraton Yogyakarta?
Tugas tambahan belum ada.
Apakah ke depan Anda tertarik untuk terjun di bidang politik mengikuti jejak Sri Sultan dan Kanjeng Ratu Hemas?
Saya tidak tertarik ke politik.
Sultan menaruh perhatian besar terhadap pendidikan putri-putrinya. Seperti apa pengalaman Anda ketika menempuh pendidikan di Amerika dan Australia?
Kami semua diberi kesempatan untuk sekolah di luar negeri. Tujuannya untuk membuka wawasan kami agar pola pikir dan wawasan bisa lebih luas. Setiap tahun, kami tetap harus kembali ke Yogya agar tidak lupa dan tidak melewatkan acara-acara tradisional yang ada di Keraton.
Orang tua kami menerapkan bahwa pendidikan itu tanggung jawab orang tua. Begitu selesai sekolah, ya kita harus bekerja mencari uang karena orang tua kami tidak lagi memberi biaya hidup buat kami. Tugas orang tua hanya sampai sekolah. Maka kami semua harus bekerja. Ya, semua dimulai dari berjualan batik sampai kami punya spa bersama.
*) Wawancara ini sudah dimuat di Majalah Detik Edisi 183, 1 Juni 2015. Tulisan selengkapnya bisa dibaca gratis di edisi terbaru Majalah Detik (Edisi 183, 1 Juni 2015). Edisi ini mengupas tuntas “Sulap Profesor Berkley”. Juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik, seperti rubrik Nasional “Setelah Pil Pahit Ketiga”, Internasional “Kartu Merah untuk FIFA”, Bisnis “Minyak Angola di Indonesia 1”, Gaya Hidup “Lahir Sebelum Waktunya”, rubrik Seni Hiburan dan review Film “Pitch Perfect 2”, serta masih banyak artikel menarik lainnya.
Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi Pdf bisa di-download di www.majalah.detik.com. Gratis, selamat menikmati!!
(irw/nwk)











































