Berakhir Pekan dengan Prof. Dr. Soetardjo A. Wiramihardja
Tsunami, Trauma, dan Luka Psikis
Senin, 07 Feb 2005 18:35 WIB
Bandung - Tsunami yang melanda kota-kota di Aceh niscaya meninggalkan jejak luka yang tak sedikit. Tak hanya bangunan dan seluruh infrastruktur kota yang luluh-lantak, tapi juga puluhan ribu nyawa. Dan seperti jejak-jejak bencana yang lain, jejak yang ditinggalkannya juga akan terus hidup pada mereka yang mengalami peristiwa mengerikan tersebut, berupa kesedihan, kehilangan harta, orang tua, dan para kerabat. Jejak inilah yang akan menjadi luka psikis dalam setiap orang di Aceh.Luka psikis ini berbeda dengan luka fisik yang bisa sembuh dengan peralatan kedokteran. Luka psikis inilah yang akan turut menentukan perkembangan karakter kepribadian dan proses kejiwaan setiap orang, tak terkecuali anak-anak.Depresi adalah satu dari gejala yang tampak pada korban pengungsi bencana tsunami. Efek dari depresi itu bisa bermacam-macam, termasuk gangguan kejiwaan. Pemulihan mental dan kepercayaan diri masyarakat korban tsunami memerlukan penanganan secepat mungkin. Karena itulah, menurut Prof. Dr. Soetardjo A. Wiramihardja, diperlukan metode terapi yang khusus dan efektif. Dan ini tidak akan bisa dilakukan jika para psikolog hanya ditempatkan sebagai subordinat yang membantu para dokter."Mereka hanya diperbantukan pada dokter-dokter yang menangani luka-luka fisik, seperti paramedis," ujar Ketua Jurusan Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Unpad Bandung ini.Lepas dari soal itu, menurut lelaki kelahiran Tasikmalaya tahun 1938 ini, pemulihan luka-luka psikis korban tsunami di Aceh haruslah juga bertujuan mengembalikan tingkat kepercayaan diri mereka. Dan proses ini juga harus seiring dengan pembangunan infrastruktur kehidupan mereka. Satu metode yang harus dilakukan adalah dengan jalan perlahan-lahan mengondisikan ruang hidup mereka seolah-olah seperti semula. Termasuk dengan metode membawa mereka ke dalam kesibukan seperti halnya bekerja dan menerima "upah". Artinya, mereka tidak dibiarkan terus bergantung pada belas kasihan. Upaya ini adalah salah satu cara untuk membantu penderita menemukan kembali diri mereka yang dulu.Namun ini hanya bisa dilakukan setelah dilaluinya proses-proses awal pemulihan, seperti misalnya, meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sendirian. Demikian pula pada depresi yang dihadapi oleh anak-anak, yakni dengan metode bermain.Selanjutnya inilah petikan wawancaranya.Apa sebenarnya pengertian trauma dalam dunia psikologi?Trauma itu adalah suatu luka yang diakibatkan oleh benturan tapi dengan akibat yang demikian "parah" dan sifatnya individual. Hal inilah yang kelak akan menentukan perilaku dan kondisi kejiwaan selanjutnya. Jadi kalau misalnya, jatuh dari pesawat terbang dan ia luka parah tapi tidak menimbulkan kesan dan lukanya itu tidak terbawa, maka itu bukan trauma.Tapi jika kemudian peristiwa itu menimbulkan ketakutan yang luar biasa dan terus terbawa, maka itu telah menjadi trauma. Yang paling terkenal itu ada yang disebut dengan trauma kelahiran yang terjadi pada bayi, sewaktu ia menemukan perbedaan suasana di rahim ibu dan ketika dilahirkan. Ketika ia masih dalam rahim ibunya, suasana serba hangat dengan makanan yang langsung suplai. Tapi ketika sudah dilahirkan suasananya berubah menjadi dingin, dan makanan pun harus mencari. Ini pun adalah trauma.Tapi itu mungkin trauma alamiah, yah?Ya, trauma juga namanya. Yang penting bukan alamiah atau tidak, tapi adanya peristiwa tertentu yang membuat luka. Sebenarnya itu bahasa dari kedokteran, bahasa fisik. Tapi sekarang diambil menjadi bahasa psikologis, dan luka itu menjadi luka psikis, yakni luka pengalaman seperti mengalami perubahan yang berat dari situasi dalam rahim ibu ke situasi ketika dilahirkan. Pengalaman ini bisa bermacam-macam. Dan yang umum serta sering dialami orang adalah luka yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa besar.Tapi menurut saya, tidaklah persis benar mesti seperti itu. Sebab yang penting itu adalah efeknya, efek dari luka psikis. Kalau luka ini terus terbawa sampai kepribadiannya pun ditentukan oleh kejadian tersebut, maka telah terjadi trauma. Misalnya, anak kecil yang secara main-main diancam pakai pisau. Meski hanya main-main itu akan membuat luka perasaannya, karena dia tidak tahu itu main-main. Dan itu akan berefek trauma, karena buat anak kecil itu peristiwa besar.Bagamaimana yang terjadi dengan apa yang dialami oleh anak-anak di Aceh? Bukankah apa yang mereka alami adalah sebuah peristiwa besar, dan apa pengaruhnya atas psikologi perkembangan mereka kelak?Banyak pengaruhnya. Karena hampir semua jenis penyakit bisa saja muncul, sebab integritas kepribadian sangat menentukan efek trauma tersebut. Setiap orang bisa mengalami efek trauma yang bermacam-macam. Traumanya itu adalah tsunami. Nah, sekarang situasi yang terjadi adalah post trauma stress this order, gangguan trauma setelah kejadian. Sebuah situasi psikis yang berat dan menggoncangkan, misalnya saja, korban Perang Vietnam dulu. Banyak tentara Amerika yang mengalami trauma dan terbawa sampai tua, antara lain berbentuk depresi. Hampir semua jenis penyakit jiwa bisa teralami oleh mereka yang mengalami trauma. Dan ini akan sangat bergantung pada kepribadian orang tersebut. Kalau kepribadian memberikan kecenderungan pada sehizofrenia, maka itulah yang akan terjadi, dia bisa gila.Lalu bagaimana dengan anak-anak, bukankah dia belum punya kepribadian?O, sudah. Dia sudah punya kepribadian yang dibentuk oleh gen-nya, pengalaman, pendidikan, dan kulturnya. Justru kejadian itu nanti akan larut dalam pembentukan kepribadiannya.Risiko paling mengerikan dari perkembangan semacam itu?Yah, sampai bisa mengalami sakit jiwa.Apakah risiko semacam itu mungkin bisa terjadi pada anak-anak yang mengalami bencana tsunami di Aceh?Secara kasus per kasus saya belum tahu. Tapi hal itu bisa terjadi. Anak-anak itu akan mengalami macam-macam depresi. Yang sering terjadi itu adalah depresi karena kehilangan. Kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi "kapstok" mereka, tempat mereka bergantung, seperti ibu-bapak. "Kapstok" ini hilang dan ini yang akan menimbulkan reaksi yang berat, seperti halnya orang yang biasa makan dan sekarang makan itu tidak ada. Bagi anak-anak itu kebutuhan terbesar mereka adalah tempat bergantung, karena mereka tidak bisa hidup sendiri.Dan ketika tempat bergantung itu hilang, maka kepribadiannya mengalami guncangan, justru pada bagiannya yang paling penting. misalnya, orang dewasa yang kehilangan pekerjaan sebagai peristiwa yang sangat berat.Dan pada anak-anak hal ini menjadi lebih parah, yah, karena mereka belum memiliki mekanisme pertahanan psikis?Ya, betul. Tapi ada juga hal lain yang sebaliknya, karena mereka masih belum terbentuk sehingga relatif bisa lebih cepat beradaptasi dengan situasinya yang baru. Tapi ya, dalam adaptasi itu tetap ada inti dari kepribadiannya yang hilang, yang biasanya mengarah menjadi gejala depresi.Dan ini tentunya akan tampak dalam perkembangan perilaku mereka?Ya. Artinya mereka tidak punya keinginan. Selalu gampang murung. Atau dalam gejala psikosis yang lebih jauh, biasanya dia akan merasa mendengar suara laut, orang yang berteriak, dan semua situasi bencana yang akan terus hidup dalam memorinya. Nah, inilah yang disebut situasi post trauma this order tersebut. Artinya, trauma itu sudah hilang tapi ingatannya terbawa terus.Tapi ada sedikit optimistik kita, karena dari hasil penelitian terakhir, jika situasi ini ditangani maka 60% bisa diperkirakan sembuh. Kalau orang yang mengalami gangguan trauma ini dibiarkan, maka tingkat kemungkinan kesembuhannya hanya 26%.Artinya dalam konteks pascatsunami ini benar-benar diperlukan sebuah terapi khusus, yah?Yah, diperlukan penanganan khusus.Lantas pada anak-anak, apakah adopsi bisa membantu memulihkan depresi mereka?Adopsi itu bukan terapi, karena hanya mendasar pada logika kehilangan yang digantikan. Artinya tetap diperlukan penanganan khusus dalam bentuk terapi. Yang paling efektif itu disebut kognitif behaviorial therapy. Ada juga yang disebut eye movement.Bisa Anda jelaskan lebih jauh praktik dari terapi tersebut?Ada tahapan-tahapan tertentu. Beberapa hari setelah mereka melewati peristiwa tersebut, yang dipentingkan itu adalah bagaimana agar mereka merasa punya teman, sehingga penderita tidak merasa sendirian. Tahap kedua adalah diberikannya kesempatan padanya untuk mengemukakan apa yang dialaminya, semacam pelampiasan. Dia dapat mengeluarkan ketakutan-ketakutannya. Setelah itu barulah terapi-terapi yang lebih terencana. Mungkin diperlukan juga terapi yang agak "keras" yang disebut flooding.Pada terapi ini, penderita diingatkan kembali pada kejadian itu secara terus-menerus sehingga lama-kelamaan dia akan jenuh sendiri. Tapi itu hanya bisa diberikan setelah orang relatif dalam keadaan normal. Sebelumnya, itu bisa dilakukan dengan cara dissensitivasi, artinya dibuat tidak sensitif. Ada dua cara untuk ini, yang pertama lewat terapi melalui bayangan mengenai pengalaman tersebut untuk diceritakan namun diusahakan menghindari kecemasan lewat relaksasi.Di sini kenyataan hanya diungkapkan bukan sebagai kenyataan, tapi bayang-bayang. Tapi bisa juga sebagai kenyataan, misalnya, dalam kasus korban tsunami, dengan cara langsung membawanya ke pantai. Penderita akan ketakutan dan lemas, juga mual, dan ini harus segera dilakukan relaksasi. Obat-obatan bisa digunakan tapi sifatnya hanya untuk meredusir ketegangan, palitatif.Dalam penanganan pascabencana tsunami ini, terutama dalam konteks rehabilitasi psikis korban, menurut Anda apa yang seharusnya dilakukan pemerintah?Ya, harus bertahap. Yang pertama memang harus memberikan kebutuhan dasar mereka. Lalu juga harus ada masa penenangan atau masa tenang, di mana mereka mulai disisihkan dari situasi yang menyeramkan, misalnya, jalanan yang penuh mayat. Setelah itu adalah memberi pekerjaan, jangan terus-menerus dikasih. Artinya, setelah mayat-mayat dievakuasi, biarkan mereka yang bekerja, jangan relawan. Setiap bekerja, mereka diberi uang. Jadi secara perlahan kita membawa mereka kembali pada kehidupan normal.Meski pun dalam hal ini tidak benar-benar normal karena uang itu berasal dari sumbangan-sumbangan. Mekanisme mereka bekerja dan mendapat uang, itu harus dibangun. Kemudian juga bisa dengan membuka kembali toko-toko. Tapi bukan dengan harga yang berdasarkan hukum dagang seperti yang berlaku sekarang. Harus ada toko-toko tertentu yang diberi pasokan barang dari para donatur dan dijual dengan harga normal. Masyarakat yang akan membelinya pun tidak merasa keberatan. Begitu juga dengan pekerjaan menata kembali kota mereka.Jadi maksud Anda, upaya mengembalikan kepercayaan diri masyarakat Aceh, secara psikis, harus berbarengan dengan perbaikan infrastruktur fisik lingkungan hidup mereka?Betul. Jangan dipisah. Irama hidup mereka harus dikembalikan lagi. Jangan juga mereka terus-menerus merasa dikasih. Sekarang mungkin enak, tapi lama-lama jadi malu.Lalu untuk penderita anak-anak tentu berbeda?Mungkin metodenya hampir sama, hanya bedanya dalam bekerja, tapi sekolah. Hanya mungkin harus melalui screening tertentu, seperti penyesuaian diri. Misalnya saja, sekolah itu lebih merupakan semacam kelompok bermain.Tapi trauma dan depresi pada anak-anak agak sulit penanganannya yah?Ya, tergantung. Tapi pada dasarnya jangan dulu mengajak mereka masuk ke wilayah-wilayah yang nyata, melainkan lebih dulu bermain-main. Seperti metode bekerja itu. Sebenarnya bukan menyuruh mereka bekerja sebagaimana kenyataannya, melainkan lebih pada penciptaan sebuah suasana mendekati kenyataan, bermain-main, seperti bekerja.Kita harus tahu bahwa manusia itu memiliki level atau lapisan-lapisan. Ada lapisan biologis vegetatif, lapisan manusia binatang, dan lapisan human. Dalam kondisi demikian bisa saja banyak orang yang masuk mengembangkan sifat vegetatifnya. pokoknya asal makan saja. Atau sifat binatang seperti merampok dan rebutan. Dan karena itulah policy yang benar sangat menentukan dalam penanganannya.Sebenarnya dari masa trauma hingga lahirnya kembali kepercayaan diri berapa lama penyembuhannya?Tergantung bagaimana penanganannya. Relatif. Trauma yang dialami banyak orang antara lain dalam bentuk bukan hanya karena kehilangan makanan. Tidak makan selama tiga hari itu bisa menjadi trauma, yang menyebabkan dia merasa lapar terus. Takut kehilangan makanan. Akibatnya, meskipun dia sudah punya makanan tapi ia terus mengumpulkan makanan.Berarti penderita semacam ini harus murni ditangani oleh psikolog yah?Saya kira ya. Tapi seperti sekarang yang ada ini, psikologi disamakan dengan para medis, perawat, membantu dokter. Mungkin inilah yang juga terjadi di Aceh, di mana psikolog tidak melaksanakan terapi psikologis, hanya membantu keperluan-keperluan dokter. Padahal yang diharapkan psikolog bergerak dan berperan lebih besar.Korban begitu banyak, lalu bagaimana teknis terapinya?Harus dalam bentuk T-group, terapi kelompok. Karena itu dalam hal ini, diperlukan psikolog yang bukan subordinat dari lini lain. Harus khusus, sehingga dia bisa merancang suatu metode terapi yang disesuaikan dengan situasinya. Jika kita lihat di televisi, komposisinya adalah dokter, paramedis, dan psikolog. Dalam komposisi semacam itu, psikolog tidak leluasa, kecuali hanya membantu dokter menangani luka-luka fisik.Padahal luka fisik dan psikis itu beda yah?Ya, tentu saja beda, begitu juga penanganannya.
(/)











































