Meirika Franolla: Saya Alami Mukjizat

Meirika Franolla: Saya Alami Mukjizat

- detikNews
Kamis, 19 Mar 2015 15:20 WIB
Meirika Franolla: Saya Alami Mukjizat
(Foto: majalah detik)
Jakarta - Meirika Franolla (45) lebih suka menyebut dirinya sosok penyendiri. Bukan galak dan temperamental, apalagi sok berkuasa selama di dalam penjara seperti dicitrakan selama ini. Anggota sindikat narkoba internasional yang baru lolos dari jerat hukuman mati untuk kedua kalinya itu menyebut dirinya mendapatkan mukjizat dari Tuhan. Bukan karena mengeluarkan banyak uang untuk menyogok pihak-pihak terkait.

"Kamu pergi ke rumah saya, lihat harganya berapa. Harta saya cuma anak dua, itu saja," ujar perempuan yang biasa disapa Olla itu.

Kepada Isfari Hikmat dari majalah detik, yang menemuinya di LP Wanita Tangerang, Sabtu (14/3/2015) lalu, Olla bercerita soal perjalanannya sebagai anggota sindikat narkoba internasional, kisah asmara dengan suaminya, Mouza Sulaiman Domala, yang tewas didor polisi 14 tahun lalu. Juga hubungan dengan sepupunya, Rani Andriani, yang dieksekusi mati Januari lalu, hingga perjalanan spiritualnya sebagai seorang yang baru menganut Nasrani. Berikut ini petikannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana Anda bisa terlibat jaringan narkoba internasional?

Suami saya suka bilang, "Si ini sudah bisa sampai ke luar negeri, kok kamu enggak bisa, sih?" Dalam benak saya muncul, "Gua juga bisa kok, siapa bilang gua enggak bisa?" Tanpa berpikir panjang risikonya itu apa. Itu kebodohan dan termotivasi untuk membuktikan saya juga bisa, itu semua karena cinta. Karena, tidak mungkin saya kalau tidak cinta dipukuli atau disiksa tapi masih mau sama dia.

Suami Anda suka menyiksa?

Cemburuan dia, over-protective. Saya, kalau berangkat itu, kalau tidak biru-biru (karena pukulan) itu, tidak akan berangkat.

Benar Anda pernah ikut pelatihan di Thailand?

Di antara kursus atau tidak, saya memang masuk ke situ. (Di sana) ada cewek Thailand, saya, dan ada dari Malaysia. Tapi itu seputar (nonton) film saja. Ada atlas ukuran dua meter dipasang ke komputer. Jadi, karena saya tidak punya kerjaan di rumah, saya utak-atik itu saja. Kalau hijau itu jalur darat. Ini ke mana? Secara tidak langsung kita itu jadi mencari jalur baru.

Kalau film itu menggambarkan soal apa?

Di film itu bagaimana sistem airport itu seperti apa.

Suami Anda ikut memberikan pelatihan?

Secara langsung, tidak. Karena, dia tahu saya tidak boleh ke mana-mana. Jadi mau tidak mau melototin itu terus (film dan peta).

Setelah pelatihan, Anda mendapat tugas ke mana saja?

Saya pernah ke Prancis sendirian. Saya terakhir ke Argentina. Tapi posisinya cuma nganterin uang doang. Serem juga sendirian.

Selama di penjara, Anda dikenal galak dan berkuasa. Benarkah?

Galak kayak gimana sih, mungkin tampangnya saja kali. Saya itu orangnya suka menyendiri. Kalau ada orang datang mau gabung, ya silakan.

Karena dianggap berkuasa maka Anda dijuluki 'Jenderal'?

Ada namanya Mama Fifi. Dia bilang, "Eh anak gua yang paling lama, ya, di sini. Dia jenderal, ya, jangan macam-macam!" Itu maksud dia (adalah) saya. Tapi yang lain tidak memanggil saya jenderal, manggil-nya teteh. Sekarang (saya dipanggil) mami.

Anda pernah dituding mengeluarkan banyak uang untuk mengurus grasi?

Apa ada tampang saya nyogok Pak SBY? Kamu pergi ke rumah saya, lihat harganya berapa. Disembunyikan bagaimanapun harta saya pasti terciumlah. Harta saya cuma anak dua, itu saja.

Dalam kasus narkoba kedua kalinya, Anda diketahui melakukan transfer dana dari penjara. Kok bisa?

Saya memanfaatkan jasa rekening itu untuk mendapatkan keuntungan, bisnis transferan. Kalau saya tahu (transfer dana untuk narkoba), tentu saya tidak mau. Jasa transfer ini saya dapat (komisi) 10-15 persen. Karena saya harus menghidupi dua anak saya. Saya hanya lulusan SMP. Tidak punya warisan rumah atau harta. Saya bilang (ke anak-anak), mungkin pendidikanlah yang (bisa) saya berikan kepada mereka. Tapi dari mana saya dapat uang, kalau bisnis narkoba berbahaya, kan?

Belajar dari mana untuk bisnis jasa transferan?

Saya lihat teman. Terima rekening transferan lumayan juga kayaknya. Saya panggil adik saya, "Sini deh, rekening kamu saya pakai." Saya pikir, mana mungkin bisnis narkoba lewat transferan. Mungkin dari hasil pemeriksaan dari pemilik rekening ada nilai transferan yang masuk ke saya. Pada kenyataannya, saya tidak tahu ini rekening siapa.

Kalau cuma bisnis transferannya, kok sampai ratusan juta?

Itu kan kumulatif dari tahun berapa ke tahun berapa, dijadikan satu (total) Rp 900 juta. Bukan sekali transfer. Misalnya dari 2007 sampai 2011 nomor rekening terus yang saya kirim, kumulatif sekian lama, besar jadinya. Bukan sekali transfer Rp 200 juta, transferan lagi sekian ratus juta, bukan. Jaksa juga tahu isi rekening saya itu nol.

Banyak orang heran Anda kok bisa lolos dua kali dari hukuman mati?

Saya tipikal tidak peduli apa kata orang. Dalam arti kata berserah diri kepada Tuhan bahwa kita cuma punya Dia. Kalau kita berharap kepada manusia, apa sih kemampuan manusia? Selama ini, saya lebih berpasrah kepada Tuhan.

Apa yang berubah dalam diri Anda?

Dulu saya memang muslim, ya. Sekarang saya sedang tulis perjumpaan saya dengan Dia (Olla sejak beberapa waktu lalu menganut Nasrani). Saya lagi menulis buku dibantu editor Bu Kristin (Samah). Baru cari sponsor, katanya Bu Miranda (mantan Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom). Soalnya kan yang mengalami mukjizat (itu) saya. Orang kan bilang saya bisa bayar pengacara. (Padahal) saya bayar Pak Troy (cuma) pakai hati.

Sampai mana menuliskan mukjizat yang Anda alami ini?

Baru sekitar 50 persen. Saya kasih ke editor masih mentah. Belum lagi tambahan mukjizat yang sekarang. Sebenarnya hidup saya itu cuma kasih Tuhan saja. Itu yang belum saya kasih tahu sama orang-orang. Kalau Tuhan sudah menghendaki kita, kita sendiri tidak bisa menolak.

Bagaimana perasaan Anda begitu tahu Rani dieksekusi?

Kalau saya bisa tukeran, ya tukeran. Karena saya dibohongi sama pihak lapas.

Maksudnya?

Saat Rani diambil itu, saya lagi sakit, diinfus. Saya tanya teman-teman, di mana Rani. Tapi tidak ada yang mau ngomong. Ada yang bilang Rani dibawa ke BNN lagi mengurus PK. Saya senang mendengar itu, saya kira bener. Tengah malam saya dengar sayup-sayup ada pemberitaan di televisi tentang eksekusi, ada si Rani.

Saya tanya ke suster, dia bilang, "Jangan mau kamu dibohongin orang. Rani itu mau dieksekusi, kamu harus kuat." Di situ tetap saya tidak percaya. Saya telepon orang rumah, semuanya menangis. Baru saya nangis-senangisnya. Saya ini saudaranya, kenapa tidak ngomong sama saya. Saya bilang, "Ayo tukeran sama saya." Jangan dipikir saya tidak punya beban, orang kan lihat saya dari luarnya doang. Beban saya hidup di sini adalah yang paling berat.

Apa pesan terakhir Rani untuk Anda?

Ada surat terakhir dari Rani, dia kirim ke saya terakhir kali. Dia minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya harus banyak berdoa dan ikhlas.

*) Wawancara ini sudah dimuat di majalah detik Edisi 172, 16-22 Maret 2015

(iy/nwk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads