ANS Kosasih: Fokus Pelayanan Prima TransJ, Kurangi 1 Juta Perjalanan di 2017

ANS Kosasih: Fokus Pelayanan Prima TransJ, Kurangi 1 Juta Perjalanan di 2017

Mulya Nurbilkis, Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Jumat, 22 Agu 2014 12:40 WIB
ANS Kosasih: Fokus Pelayanan Prima TransJ, Kurangi 1 Juta Perjalanan di 2017
Dirut PT Transportasi Jakarta ANS Kosasih (Foto: Mulya Nurbilkis/detikcom)
Jakarta -

PT Transportasi Jakarta baru saja dibentuk pada Maret 2014 lalu. PT Transportasi Jakarta ini masih mengalami masa transisi dari BLU UP TransJakarta. Fokus mereka menggunakan teknologi untuk meningkatkan pelayanan menjadi prima (excellent service), hingga bisa mengurangi 1 juta perjalanan di tahun 2017 nanti.

"Sekarang masih 350 ribu penumpang, bisa naik 3 kali lipat lagi, harus naik 3 kali lipat lagi dong, 1 juta penumpang. Berarti lebih banyak bus, jalur steril, halte oke, fasilitas juga. Targetnya itu di 2019. Itu bisa kejadian di 2017 saja, itu udah keren banget," kata Dirut PT Transportasi Jakarta Antonius Nicholas Stephanus Kosasih, yang lebih suka menuliskan namanya menjadi ANS Kosasih.

"Bisa nggak? Bisa. Tergantung nanti apakah koordinasi dengan Pemprov DKI bisa oke, saya yakin oke," imbuh Kosasih, panggilan akrabnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut wawancara lengkap detikcom dengan ANS Kosasih di Hotel Mandarin Oriental, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat yang ditulis pada Jumat (22/8/2014):

PT Transportasi Jakarta itu sebenarnya, perubahan dari Unit Pelaksana TransJakarta atau bagaimana?

Pemprov DKI waktu bentuk TransJ dulunya, ingin tidak lama, untuk menjadi PT. Persiapannya oleh Pemprov DKI terus jadi PT. Cuma karena belum siap, maka tertunda dari tahun 2004 sampai tahun 2014. Layanan TransJ ada sejak tahun 2004 tapi di bawah Dinas Perhubungan, Pemprov DKI. Namanya sempat berganti-ganti, namanya yang terakhir, Badan Layanan Umum Unit Pelaksana TransJakarta Busway (BLU-UPTJ), panjang ya. Itu badan otonomi di bawah Dishub, karena kepalanya memakai seragam Dishub.

Modal PT Transportasi Jakarta berapa Pak?

Modal dasar belum disetor, beradasarkan Perda (Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pembentukan BUMD PT TransJakarta) Rp 5,19 triliun. Saham Pemprov DKI 99,35% dan 0,65% saham JakPro. Tapi yang disetor cuma Rp 350 miliar, yang lainnya belum disetor, nanti suatu saat akan dipenuhi. Karena kewajiban itu minimal 25% kepada modal dasar yang disetor.

Nanti jika setoran tunainya berubah menjadi Rp 700 miliar, maka komposisi kepemilikan saham Pemprov DKI menjadi 99,47% dan JakPro 0,53%.

Berarti PT Transportasi Jakarta ini akan menggantikan BLU-UPTJ?

Berdasar Perda no 99/2014, namanya Pembentukan Badan Usaha Milik Daerah Perseroan Terbatas TransJakarta, di situ tertulis UP TransJ akan ada hanya sampai akhir tahun 2014. Per 1 Januari, full sama kita. Sekarang sudah ada tapi sampai akhir tahun. Kenapa? Subsidi anggarannya masih di UPTJ. Kalo kita langsung ambil alih sekarang, nggak dibayar operatornya.

Jadi PT Transportasi Jakarta khusus mengelola bus TransJ?

PT Tranportasi Jakarta itu ada untuk mengelola BRT sistem, kami manajer sistem, kita atur sistem BRT di seluruh DKI. Nanti pool bus, halte, itu aset kita. Operasional TransJ kita yang operasikan, kita yang nanti kontrak dengan operator. Begitu juga dengan APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway Transjakarta) dan BKTB (Bus Kota Terintegrasi Busway), nantinya akan bernegosiasi dan berkontrak dengan kita.

Kita akan menngembangkan sistemnya. Contohnya e-ticketing, kita kembangkan, central control kita yang mengembangkan, kita bangun halte yang lebih baru yang lebih besar dan lebih bagus, yang memuat banyak orang dan lebih ramah untuk penyandang disabilitas. Itu kita yang bikin. Deponya kita betulin lebih bagus, kita yang betulin.

Nantinya, PT Transportasi Jakarta ini hanya mengurusi bus TransJ atau transportasi terpadu di Jabodetabek? Termasuk apakah nantinya memayungi Kopaja dan Metro Mini?

Kita punya visi jauh ke depan, itu yang saya dengar dari Pak Jokowi dan Pak Basuki T Purnama. Harusnya kalau Anda tinggal di DKI Jakarta, karena kita miliknya Pemprov DKI, kami berharap bisa sediakan jasa transportasi umum yang terjangkau dari Anda keluar rumah, sampai tempat kerja dan atau tempat wisata dan atau tempat belanja sampai Anda kembali lagi ke rumah setiap harinya. Kami diminta juga oleh Pemprov DKI untuk membuat kajian angkutan umum yang bertrayek di DKI nantinya seperti apa.

Kalau menaungi Metro Mini dan Kopaja, saya belum tahu sampai sejauh itu. Tapi yang pasti begini, keinginan Pemprov DKI semua mengikuti sistem kita. Artinya kami akan usahakan semua bisa terintegrasi dengan sistem e-ticketing kita. Jadinya rapi dong.

Lantas sekarang yang sudah berjalan dalam masa transisi dari UP TransJ ke PT TransJakarta ini?

Yang sekarang ada 2, operasional tahun lewat 2014 yang tangani kami, kami adakan bus tingkat baru, kami adakan bus dengan operator, itu kami yang kontrak. Tapi, untuk kontrak eksisting sampai akhir tahun masih UP TransJakarta. Terus pegawai kami darimana? UP TransJ harus melakukan pemutusan hubungan kerja, baru nanti mereka akan beramai-ramai melamar, dan akan kami terima.

Apakah karyawannya akan diseleksi lagi?

Masuk dulu, kami terima dulu, nanti akan kami lakukan assesment di dalam setelah gabung dengan kita. Yang penting buat kami itu ada the right people on the right place.

Sekarang ada akuntan yang sama sekali kerjaannya bukan keuangan. Mungkin ada ahli mesin atau mekanik barangkali, tapi kerjaannya administratif. Nanti semua itu sudah nggak ada lagi. Semuanya, the right person on the right place.

Memang sekarang belum 'The Right Person on The Right Place'?

Kami belum bisa nilai itu, belum pernah dilakukan penilaian tentang hal itu. Jadi sifatnya lebih pada pelayanan publik. Pegawainya itu ada 6.635.

Apakah setelah masa transisi, pegawainya bisa kurang dari 6.635 orang?

Nggak, kita terima lagi. 6.635 Orang itu, 27 PNS Dishub, 96 pegawai tetap, sisanya pegawai kontrak. Banyak (pegawai kontrak), actually lebih dari 6 ribu. Yang PNS sudah pasti tidak bisa masuk ke TransJakarta, kembali ke kedinasan. Yang pegawai tetap, masuk kita, kita nilai apa sesuai dengan fungsinya. Karena saya lihat ada yang lulusan luar negeri S2 kerjaannya kok kurang sesuai dengan kapasitasnya dan kapabilitasnya, sayang gitu lho.

Bagaimana dengan nasib tenaga kontrak?

Semua yang kontrak layani publik di lapangan, kita lihat dulu kebutuhannya seperti apa. Saya yakin ada bagian yang kelebihan orang, sementara di bagian lain ada bagian yang kurang orang. Itu yang mesti kita nilai, cuma seberapa besar lebihnya, kurangnya, saya belum bisa ngomong sekarang karena belum ada penilaiannya sejak 2012, sejak menjadi UP TransJ. Kalau kemarin-kemarin saya nggak tahu.

Tapi kami berbesar hati. Kenapa? Kadishub sekarang dulu kepala UP TransJ Pak Akbar (M Akbar), dan beliau adalah komisaris kami

Banyak direksi dari PT KAI dimasukkan, peran apa yang akan diharapkan?

Direktur ada 5, semua profesional. Pemprov DKI meminta yang mengelola profesional, saya 12-13 tahun di BUMN, Perhutani itu yang paling terakhir, sebelumnya saya di Bahana (Bahana Securities) sampai 8 tahun. Jadi 12-13 tahun terakhir saya ada di BUMN, saya tangani keuangan serta poengembangan bisnis. Direktur Keuangan, Direktur Operasi dan Teknis, serta Direktur Fasilitas dan Umum dari PT KAI. Mereka adalah high rank officer dr PT KAI yang sudah terbiasa menangani transportasi publik.

Kalau ditanya Anda punya pengalaman tangani transportasi publik tidak? Pertanyaannya itu kan? Emirsyah Satar menangani transportasi publik, Ignasius Jonan menangani transportasi publik, dua-duanya orang keuangan kan. Dari Citibank, saya juga pernah di Citibank, mereka berdua adalah senior saya.

PT KAI baru untung setelah dipegang Jonan. Garuda dapatkan penghargaan Sky Trax, setelah dipegang Emirsyah Satar, sebelumnya adalah Direktur Keuangan. Pak Jonan, nggak pernah jadi Direktur Keuangan PT KAI langsung Dirut.

Jadi ya, kalo ditanya, bisa nggak tangani transportasi? Saya yakin, Pak Jonan sebelum di Kereta Api tidak pernah sedetikpun tangani transportasi. Semua bisnis itu ujungnya duit, kalo kita tangani sesuatu keuangannya harus benar, maka mau tidak mau bisnisnya harus benar.

Jadi proses yang dilakukan PT TransJakarta dari Maret sejak diresmikan hingga Agustus ini apa?

Maret diresmikan Pak Gubernur dan JakPro (Jakarta Propertindo, pemegang saham minoritas-red). Setelah direksi lengkap, kita mulai bekerja tanggal 15 April. 15 April-20 Mei itu kita mengurus perizinan, segala macam, berhubungan dengan pegawai, mulai pekerjaan administratif itu mulai tanggal 20 April sampai 20 Mei, kenapa? Tanggal 15 April SK Kemenkum HAM keluar, bahwa PT ini berdiri. Jadi kami nunggu SK keluar, 15 April 20 Mei, kami persiapan perizinan dan lain-lain, tanggal 20 April itu RUPS pertama kami.

Kenapa RUPS pertama, berdasarkan UU PT, direksi ditetapkan lewat RUPS kan. Jadi semua tahapan dilalui. Hari ini persis 3 bulan setelah RUPS pertama (20 Agustus). 3 Bulan beroperasi setelah RUPS poertama

Transisi yang dilakukan setelah 3 bulan?

Kita ada 3 jenis transisi kita lakukan. Pertama, Transisi keuangan. Kedua, transisi hak dan kewajiban, termasuk transisi operasi bisnis ya.
Dan ketiga, transisi aset, asetnya itu. Depo ke halte, investarisasi, penilaian, seperti disebutkan Perda No 99/2014,

Bulan Oktober, 148 bus baru masuk ke kita, bus gandeng. Kemudian ada 100 bus tingkat gratis dari Pemprov DKI yang akan menerapkan ERP (Electronic Road Pricing). Kendaraan yang lewat jalan protokol kena biaya, saya nggak tahu berapa (tarif ERP-nya) tapi mestinya tinggi, biar Pemprov punya uang merawat jalannya. Itu benar-benar pengguna jalan bayar jalan yang dia pakai. Itu adil sekali. Kalau selama ini Anda bayar pajak, Anda belum tentu memakai jalan kan.

Jadi sebenarnya bus tingkat itu berfungsi sebagai shuttle bus buat yang tak mau kena ERP?

Iya, shuttle. Selain ERP mobil mesti bayar, motor nggak boleh masuk di jalan protokol yang nanti ada ERP-nya. Itu info yang saya dengar dari Pemprov DKI. Kalau benar demikian, ini (bus tingkat) akan menjadi sarana pengganti untuk itu.

Jadi Anda parkir, parkir udah bayar kan. Abis itu bisa naik bus TransJ, tapi kan nggak nyampe depan kantornya kan? Kalo bus bertingkat di jalur umum, gratis. Misalnya rutenya Harmoni-Bundaran HI-Harmoni, atau Bundaran HI-Semanggi-Bundaran HI, atau Bundaran Senayan-Semanggi-Bundaran Senayan.

Menurut Anda, kondisi TransJ sekarang seperti apa?

Semua servis transportasi hukumnya hanya menyediakan 3 jenis servis. Servis yang bagus, servis yang cepat, servis yang murah. Hukum bisnisnya, Anda boleh pilih dua yang mana saja. Kalau bagus dan cepat, nggak mungkin murah. Kalau bagus dan murah, nggak mungkin cepat.

Contoh, bus tingkat gratis, bagus, murah tapi nggak cepat. Kalau cepat dan murah, pasti nggak bagus. Karena nggak ada perawatannya kan, cepet murah nih.

TransJ harusnya bisa tiga-tiganya, bagus-cepat-murah, karena ada bantuan dari Pemprov DKI untuk masyarakat. Sekarang ini belum optimal itu saja. Buktinya ini salah satu alternatif terbaik. Kita ini adalah sistem BRT terpanjang di dunia, 426 km lho. Katanya, katanya Guangzhou nanti suatu hari atau sekarang sudah mau mengalahkan kita BRT-nya. Jadi kita mau tambah koridor 13, 14,15, kita lagi yang terpanjang.

Mimpi Anda tentang bus TransJ ke depan?

Kita punya information system yang kita mau buat. Kita bisa tahu, oh ini perlu kepastian penumpang bisa nunggu berapa lama nih.
Penumpang nunggu 40 menit dia tahu dia nggak marah. Tapi kalau berharap 5 menit ternyata datangnya 20 menit, dia marah. Dia juga bisa ambil keputusan, kalau menunggu 40 menit, dia tahu, 'saya naik ojek aja deh' atau 'oh busnya macet tapi ada bus lain ke sini'.

Jadi fokusnya mendorong penggunaan teknologi ya, untuk memberikan informasi?

Udah pasti main ke teknologi dong. Yang penting penumpangnya bisa tahu. Sekarang fokusnya bikin information system yang baik. Bus akan datang, berapa menit, jurusan mana, jaraknya 3 menit kena macet, bisa 30 menit. Apa sistem kita sudah akomodir, macet atau nggak.

Saya mimpinya punya aplikasi TransJ waze atau apa gitu aplikasi TransJ, atau JakTransport System atau apa. Informasi, control sistem, memonitor para penumpang, itu bisa pakai teknologi, tulisan di LCD paling nggak, tapi belum nyambung (sistemnya).

Bagaimana tentang tarif bus TransJ ke depan dan Public Service Obligation (PSO) alias subsidinya?

Pasti ada PSO, ya sudah benar itu. Namun kita mengelola sedemikian rupa, PSO-nya seefisien mungkin. Sekarang tiket kita ditentukan Pemprov DKI, kita tidak tentukan tarif sendiri, Pemprov yang menentukan. Jadi nanti Pemprov mau tentukan tiketnya berapa, PSO-nya ya berapa, itu saja.

Kita ngomong sama Pemprov ini BEP (Break Event Point/impas) pada harga tiket segini. Anda mau kita jual berapa tiketnya? Kira-kira BEP pada harga Rp 10 ribuanlah. Misalnya begitu ya, Pemprov memutuskan sudah Rp 3.500 saja tiketnya, kalo gitu sisanya subsidi dong.

Ada kemungkinan tiket bus TransJ naik?

Belum ada dalam jangka kami. Target kami bukan menaikkan tarif bus TransJ, tapi menaikkan pelayanan supaya lebih baik.

Fokusnya servis dulu nih?

Iya dong, Anda kalau saya naikin tiketnya, pertama kali Anda bakal nanya, 'lo naikin tiketnya gw dapet apa?'. Paling nggak busnya banyakan, headway dipendekkan, haltenya kita renovasi. Sekarang lihat tuh halte kita, udah gede yang di Koridor I sebagian, dulu kan kecil-kecil tuh.

Sekarang sudah servis kita fokusnya. Salah satunya e-ticket itu, kami yang membantu melobi pada banknya. Yang besar launching e-ticketing, kan melakukan itu harus koordinasi dengan UP TransJakarta, kan operasional dari dia. Cuma kami yang berdiskusi dengan semua bank bersama dengan UPT.

Anda berani memberi target untuk servis yang excellent, berani berapa lama?

Akan bagus sekali dari 53 juta perjalanan di Jabodetabek; 25,7 juta ada di Jakarta, itu data tahun 2012. Nah, 25 juta perjalanan ada yang naik mobil pribadi sepeda motor dan segala macem. 25,7 juta orang bisa jadi orang lebih sedikit karena bolak balik, bisa jadi lebih banyak karena 1 mobil 4 orang. Saya nggak tahu jumlah perjalanannya.

Tapi, target kita mengakomodir untuk mengurangi 1 juta perjalanan. 1 Juta orang naik busway tiap hari. Jadi kalau 1 juta orang naik bus TransJ itu-itu doang, 500 ribu pagi naik, sore naik lagi, itu sudah mengurangi banyak kemacetan.

Sekarang mau 350 ribu, bisa naik 3 kali lipat lagi, harus naik 3 kali lipat lagi dong, 1 juta penumpang. Berarti lebih banyak bus, jalur steril, halte oke, fasilitas juga, targetnya itu di 2019. Itu bisa kejadian di 2017 aja, itu udah keren banget. Bisa nggak? Bisa, tergantung nanti apakah koordinasi dengan Pemprov bisa oke, saya yakin oke.

Terakhir Pak, harapan Anda ke depan?

Pak Jokowi dan Pak Ahok punya satu kesamaan yang menurut saya membantu kami. Mereka berdua, sangat concern sama transportasi publik. Jadi buat saya, oke-oke saja, baik itu Pak Jokowi atau Pak Ahok, mereka pasti perhatian ke transportasi publik.

Buat saya, pribadi sebagai dirut dan saya pribadi, negara yang makmur dan kota yang makmur itu bukan orang miskinnya punya mobil, tapi yang orang kayanya mau naik kendaraan umum, dan mereka naik kendaraan umumnya dengan aman dan nyaman.

(nwk/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads