"Untuk jalur darat lebih ada komplikasinya karena ada Comal. Kalau nggak ada Comal (jembatan ambles) tentu kita lebih siap. Misalnya untuk Cikampek, Jomin, Cikopo dan Pejagan itu kita sudah punya pola koordinasi dari tahun ke tahun yang bisa kita pakai. Comal itu memang kan kita tidak berharap ada kejadian seperti itu," kata Wamenhub Bambang Susantono.
Jadi, Kemenhub yang sudah berkoordinasi dengan Polri dan Kementerian PU akan melakukan rekayasa lalu lintas. "Karena itu putus total harus kita alihkan ke tempat lain. Alternatifnya ada tiga," imbuh Bambang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana perkembangan Jembatan Comal yang ambles?
Kita harapkan pengaturannya sekarang lebih bagus. Dan kita harapkan akan segera berfungsi lagi. Nah kalau itu berfungsi kembali paling tidak lalu lintas dari barat ke timur bisa kita alirkan lewat jembatan dengan kapasitas terbatas. Tapi tentu kendaraan berat tidak bisa melintas.
Bagaimana koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU)?
Yang jelas paling lambat itu H-3. Kemarin waktu kita ke lapangan memang dikerjakan 24 jam. Kita harap bisa lebih cepat. Tapi tentu itu akan menunggu dari sisi kelayakan jembatan itu sendiri. Misalnya, penurunannya sudah tidak ada lagi. Karena mereka juga memantau apa masih ada pergerakan atau tidak dari sisi strukturnya. Saya kira itu yang harus tetap kita kedepankan yaitu safety ya. Jangan sampai tidak safe. Jadi semua harus safe dulu baru bisa dilewati.
Antisipasinya bagaimana?
Yang pertama, kepada semua PU tentu kita mintakan komunikasi dengan semua pelanggannya. Dan kita minta agar mereka atur ulang jadwalnya. Jadwal-jadwal pasti akan terkena dampak dari hal ini. Nah nanti mereka semua mengatur.
Yang kedua, tentu monitoring dari situasi apa yang terjadi di lapangan. Saya kira dengan TV yang coveragenya sudah sedemikian luasnya dan dari social media tentu kita mendapatkan banyak informasi. Itu bisa membantu bagaimana mereka bisa menghindari jalur-jalur yang sudah terlalu macet.
Bagaimana dengan peralihan macet karena Jembatan Comal?
(Jalur) Selatan tentu kita minta lebih koordinatif antara petugas Dishub setempat dan kepolisian. Intinya kalau kapasitas tentu akan terlampau karena selatan tidak seperti utara. Dan biasanya traffic utara itu dua kali lipat daripada selatan.
Nah tetapi dengan pengaturan rekayasa di lapangan diharapkan kemacetan itu tidak parah. Kita harapkan tidak stuck. Jadi macet itu akan terjadi. Tapi kalau bisa macet itu tetap mengalir.
Ada rambu-rambu lokal di sekitar Comal?
Rambu portabel kemarin kita berikan bantuan. Kita kerjasama dengan provinsi. Kemarin waktu apel di Jawa Tengah saya sampaikan pada Pak Gubernur (Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, red). Sudah disebar. Sudah dipakai sebagian di Comal. Di daerah lain juga kita akan lihat. Kalau diperlukan akan kita terjunkan juga.
Target beroperasinya jembatan itu kapan?
Memang satu-satunya jalan, mereka akan lewat jalur alternatif, yang bus besar. Nah ini mungkin antisipasi selanjutnya yang mesti kita pikirkan, setelah Lebaran bagaimana dengan alat berat karena memang H-4 Pantura sudah tidak boleh beroperasi untuk yang kendaraan besar.
Tapi setelah ini kan itu jalur logistik. Nah di situ mungkin kita harus melihat kembali kondisi dari jalur alternatif yang ada. Apabila diperlukan buka tutup satu arah misalnya. Atau bahkan mungkin dipermanenkan untuk satu arah di beberapa tempat.
Kata Kementerian PU, Jembatan Comal kemungkinan akan terganggu selama 1,5 bulan, tanggapannya bagaimana?
Ya itu kita antisipasi. Kemarin dengan ketua ALFI (Asosiasi Logistik dan Freight Forwarder Indonesia), dan Sekjen Organda, mereka lihat langsung di lapangan seperti apa. Hari ini mereka langsung sebar informasi ke anggota masing-masing dengan harapan mereka bisa mengatur pengaturan dan operasinya agar sesuai dengan keadaan di lapangan.
Bagaimana dengan alternatif menggunakan kapal Ro-ro?
Kemarin kita tawarkan kapal Ro-ro, tapi tampaknya untuk masa Lebaran ini kurang dinikmati. Mereka lebih bisa kondisinya untuk jalan-jalan alternatif. Tapi kita sudah coba tawarkan. Kemarin didiskusikan bersama dengan Organda dan ALFI. Kesimpulannya untuk sementara seperti itu.
Apakah ada perbedaan mudik tahun 2014 ini dengan tahun lalu?
Tentu ada. Untuk jalur darat lebih ada komplikasinya karena ada Comal (Jembatan Comal ambles, red). Kalau nggak ada Comal tentu kita lebih siap. Misalnya untuk Cikampek, Jomin, Cikopo dan Pejagan itu kita sudah punya pola koordinasi dari tahun ke tahun yang bisa kita pakai.
Comal itu memang kan kita tidak berharap ada kejadian seperti itu. Jadi kita harus melakukan rekayasa lalu lintas dan mengerahkan petugas di lapangan di titik-titik di mana Comal akan dilalui traffic.
Jangan lupa Comal itu 44.000 kendaraan per hari itu lalu lintasnya. Jadi cukup signifikan. Dan karena itu putus total, jadi lain dengan Cikampek karena itu tidak putus total. Karena itu putus total harus kita alihkan ke tempat lain.
Alternatifnya ada tiga, yang lokal kira-kira 20 km sudah diidentifikasi. Bahkan Pak Gubernur juga langsung turun. Jalan kecil, bukan untuk kendaraan besar. Jalannya cuma 4 meter kemarin saya coba sendiri, untuk kendaraan.
Kedua, yang lokal melalui jalur tengah. Temanggung, Wonosobo. Jadi kendaraan yang agak besar itu bisa lewat jalan tengah. Tapi memang jalurnya agak memutar cukup jauh, 65-70 km.
Ketiga, adalah mengalihkan ke jalur selatan. Kemarin saya dengan Sekjen Organda dengan Ketua Asosiasi Logistik ke lapangan. Kita berunding soal apa yang harus dilakukan dari sisi mereka sebagai pengguna untuk mengantisipasi macet di Comal.
(nwk/nrl)











































