"Banyak banget yang pesan ratusan tiket. Ada yang pesan 187, 178, 128, tapi yang dibayar itu 3-8 tiket saja. Bahkan ada yang tidak membayar sama sekali. Ini ada ribuan," tutur Direktur Personalia dan Informasi Teknologi PT KAI Kuncoro Wibowo.
Hal itu disampaikan dia dalam jumpa pers PT KAI tentang KA tambahan Lebaran di Gedung Jakarta Railway Center (JRC), Jalan Juanda 1 B, Jakarta Pusat, Senin (12/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PT KAI mengatakan ada yang pesan ratusan tiket saat memesan via online, itu bagaimana penjelasannya?
Banyak banget yang pesan ratusan tiket. Ada yang pesan 187, 178, 128 (tiket) tapi yang dibayar itu 3-8 tiket saja. Bahkan ada yang tidak membayar sama sekali. Ini ada ribuan.
Ada dugaan apa sehingga mereka memesan ratusan tiket itu?
Ini dugaannya ya, tebak sendiri. Makanya saya mohon hati-hati saja kalau ada yang pesan dengan identitas berbeda.
Yang memesan ratusan tiket itu untuk jurusan mana saja?
Begitu itu semua jurusan, banyak ini semua lintas.
Pemesan ratusan tiket ini apakah memang ada mafianya atau calo kelas kakap?
Ini bukan mafia, saya nggak bisa berpikiran negatif, bukan kebobolan karena semua punya hak sama.
Para pembeli ratusan tiket itu memakai akses apa?
Macam-macam. Ada satu orang ini yang lewat tablet, handphone, komputer, laptop saat bersamaan. Banyak sekali, kita nggak tahu kenapa.
Pihak yang memesan ratusan tiket KA itu apakah diduga agen travel?
Kemarin saya baca itu, ada komplain kami menganaktirikan agen, padahal nggak ada. Lalu ada satu keluarga itu ada yang beda tempat duduk, ternyata dia titip di satu tempat dan agen itu dapatnya 2 perjalanan beda, satu tiket untuk kereta pagi, satu tiket untuk sore.
Lantas bagaimana lagi?
Jadi ada yang tipikal kayak begini, mereka (pembeli) di satu tempat stasiun menyiapkan komputer, di luar stasiun dia, di Stasiun Senen ada itu.
Tujuannya online mempermudah masyarakat dan orang nggak capek-capek mengantre. Ini kan gampang sekali, mempermudah orang. Kalau kita dibilang calo, ya ini kita nggak bisa apa-apain, karena ini semua online.
Apakah calon penumpang yang membeli ratusan tiket itu ada yang emailnya diblok?
Banyak yang kita blok, ada ratusan kayak gini, bisa kami telusuri, tapi kita nggak tahu kenapa mereka book 100 kursi tapi cuma bayar 9, kita nggak tahu motifnya.
Apakah ada imbauan bagi para calon pembeli tiket KA Lebaran?
Mohon dengan sangat, hati-hati, nama sama tapi foto lain, tahun lalu begitu. Masyarakat curiga kami main, tapi lihat saja ini bisa habis.
Nanti masyarakat yang sudah book diminta untuk mulai sekarang cetak tiket, harus segera supaya tidak mengantre lagi.
Bagaimana bila penumpang tidak memiliki akses internet?
Untuk penumpang yang tak memiliki akses internet memang bisa beli di minimarket. Tapi bisa juga beli melalui call center PT KAI 121, itu bisa langsung pesan nama kereta dan jurusan. Jadi di PT KAI ada call center 7 x 24 jam, jadi bisa telepon ke call center kita.
Tambahan kapasitas server untuk KA tambahan Lebaran bagaimana?
Hitnya itu 10 juta, biasanya 1,7 juta. Kemarin saat penjualan KA reguler pada musim mudik itu 10 juta hari itu saja. Bagaimana mengantisipasi? Kami berkali-kali, kita sudah tingkatkan bandwidth kita 3 kali lipat, banyak sekali yang kita lakukan.
Tapi pada saat arus balik itu kosong, karena pemudik pada nyebar kemana-mana moda transportasinya. Jadi itu pengaruhnya besar sekali, arus balik itu tidak ada masalah, kemarin sekitar 103 persen (jumlah pengunjung dari jumlah reguler).
Kapasitas (bandwidth) itu 120 GB per second, saya pikir sudah cukup itu kapasitasnya. Arus balik juga 20 persen (jumlah hit pengunjung pembeli tiket arus mudik) itu, karena semua calon pembeli tiket mengakses di mana-mana.
Biasanya kalau mereka buka pukul 00.00 itu langsung nongol semua, keluar, itu beberapa orang bisa ambil, itu harus bayar dalam 3 jam. Setelah 3 jam itu ada yang bayar, ada yang nggak. Jadi belum tentu habis, coba tunggu 3 jam berikutnya,
Jadi ada beberapa kasus ini banyak sekali. Tipikalnya teman-teman kita di luar banyak, ada niatan tidak baik atau baik.
Kalau mau beli tiket ke orang lain jangan sampai salah. Misalnya dia jual tiket plus KTP-nya. Misal namanya sama tapi fotonya beda, itu terjadi.
Kita akan perketat. Harapan saya masyarakat jangan terbujuk tawaran orang-orang tak jelas menjual tiket plus fotonya. Di boarding akan kami perketat sekali.
(nwk/nrl)











































