"Kita harapkan juga di 2014 ini masyarakat akan semakin pintar, semakin jeli, memilih caleg perempuan karena manfaatnya banyak jika bisa menempatkan perempuan yang cukup dalam legislatif," kata Linda di Wisma Antara, Jl Medan Merdeka Selatan No 17, Jakarta Pusat, Jumat (28/2/2014).
Menurut Linda, jika jumlah perempuan makin banyak di lembaga legislatif, maka kepentingan pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender bisa lebih diperjuangkan. Oleh karenanya, dia berharap masyarakat mau memilih caleg perempuan. Berikut wawancara wartawan dengan Linda Gumelar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak kemajuan. Dari 2004 sampai 2009 ada peningkatan. Kita harapkan juga di 2014 ini masyarakat akan semakin pintar dan semakin jeli memilih caleg perempuan. Karena manfaatnya banyak jika bisa menempatkan perempuan yang cukup dalam legislatif untuk kepentingan pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender dan perlindungan anak. Akan lebih banyak manfaatnya.
Apa yang mendasari ketertarikan masyarakat untuk memilih caleg perempuan?
Relatif. Karena ada budaya yang masih menganggap perempuan tugas domestik. Masih ada perempuan yang ikut kata suami. Tapi sekarang sudah banyak perempuan yang bisa menentukan sikapnya. Dilihat dari masalah KDRT, jumlah permpuan yang berani melapor sudah meningkat. Perempuan sudah tahu haknya. Perempuan sudah semakin cerdas. (Masyarakakat) yakin ada perasaan kebersamaan, yang akhirnya dia pilih perempuan.
Bagaimana upaya pemerintah agar caleg perempuan mencapai 30% persen?
Memang itu proses. Dalam UUD dinyatakan 30 persen DCT. Baru DCT. Kita dorong dengan sosialisasi. Itu salah satu cara yang pada saatnya nanti perempuan dipilih oleh semua golongan, bukan hanya perempuan. Juga melakukan sosialisasi dengan caleg yang baru pertama. Sudah menjadi tanggung jawab parpol agar bisa menggerakkan masyarakat atau caleg perempuan ini menyuarakan kepentingan perempuan dan anak.
Dan memang ada beberapa parpol yang caleg perempuan lebih dari 30%. Ini berarti sudah ada kesadaran ya. Tinggal masyarakatnya memiliki cara pandang yang sama. Perlu sosialisasi melalui media, bahwa mari kita pilih perempuan.
Apa cara menilai parpol sudah substansial?
Parpol banyak dan mereka punya cara sendiri menyiapkan kader dengan pelatihan-pelatihan. Mereka punya sayap-sayap partai yang terdiri dari perempuan dan di situ terjadi penggodokan-penggodokan.
(dnu/tor)











































