Ditemui di Hotel China World Beijing, pertengahan September 2012 lalu, Imron Cotan menjelaskan panjang lebar mengenai hubungan Indonesia dengan China. Menurut Imron, hubungan Indonesia dengan China semakin erat dan volume perdagangan antara kedua negara naik dari tahun ke tahun. Karena itu, ke depan, Indonesia akan terus berupaya bekerja sama dengan China yang merupakan negara ekonomi ke 2 terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat (AS).
Memang, saat ini masih ada saja miskomunikasi atau mispersepsi yang muncul terkait kasus traumatik masa lalu. Namun, KBRI di Beijing terus melakukan sosialisasi tentang Indonesia. Sedangkan China telah berkomitmen untuk berinvestasi di Indonesia dengan memperhatikan local wisdom, antara lain dengan mempekerjakan orang-orang Indonesia dalam proyek-proyek yang mereka menangkan saat tender.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hubungan Indonesia dengan China semakin erat. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan KBRI?
Kita selalu memanfaatkan momentum-momentum nasional untuk mengekspos Indonesia. Rencananya saya ingin ketika saya datang, foot print atau cetak kaki Indonesia di sini. Ketika saya meninggalkan tempat ini, foot print itu bisa lebih besar lagi. Artinya apa? Pengetahuan, pengertian antara Tiongkok dan Indonesia dari waktu ke waktu semakin dalam dan semakin melebar. Jadi kita gak pernah berhenti.
Dalam waktu dekat, akan ada pergantian kepemimpinan China. Seperti apa pengaruhnya nanti terhadap hubungan Indonesia dengan China?
Rencananya, tentatif itu kalau nggak Oktober atau November, akan ada kongres Partai Komunis Tiongkok untuk pergantian pimpinan 10 tahunan. Pergantian kepemimpinan ini akan mempengaruhi pergantian kepala pemerintahan. Siapa pun yang menggantikan sekjen partai, saat ini Hu Jintao, sebagai sekjen dia juga otomatis menjadi presiden. Pergantian ini mencakup presiden, juga Perdana Menteri, dan tentu saja kabinet lain. Rencananya, yang diharapkan nanti yang menggantikan Hu Jintao adalah wakil presiden sekarang ini, Xi Jinping. Prosesnya Oktober hingga November, tapi resminya terjadi bulan Maret tahun depan.
Memang wakil presiden sekarang ini sudah jadi bagian dari kepemimpinan nasional mereka 10 tahun. Jadi, kita juga memang tidak mengharapkan akan ada perubahan besar. Kita harapkan Tiongkok tetap masih memprioritaskan hubungan Indonesia dan Asia secara keseluruhan.
Volume perdagangan Indonesia dengan China naik tajam, bahkan mencapai US$ 62 miliar. Tapi, sebenarnya bagaimana kondisi perdagangan Indonesia ke China, apakah defisit atau surplus?
Ini ada dispute. Kalau pihak Tiongkok mengatakan Indonesia surplus antara US$ 2-5 miliar. Ini berdasarkan catatan statistik mereka. Sedangkan pihak kita mengatakan defisit, jumlahnya juga sama antara US$ 2-5 miliar. Sekarang ini, saat Presiden SBY datang kemari, kita laporkan peningkatan volume perdagangan drastis itu. Mungkin ya ada dugaan, ini juga disampaikan bapak presiden, mungkin ada data perdagangan kita tidak menggambarkan sepenuhnya. Artinya produk itu datang ke China dari pihak ketiga atau negara ketiga. Mereka hanya record produk asal dari indonesia. Padahal bisa jadi barang itu datang dari negara ketiga atau pihak ketiga. Karena itulah ada perbedan pencatatan. Jadi sebenarnya mereka mengatakan Indonesia surplus. Tapi karena catatan kita, barang tidak hanya datang dari kita tapi dari pihak ketiga, sehingga volume kita lebih kecil. Karena itu, Presiden sudah meminta sinkronisasi, sehingga data itu mencerminkan nilai sebenarnya. Tetapi kalau menurut hemat saya, baik catatan kita dan juga catatan mereka tidak ada yang salah, ini mencerminkan data sebenarnya.
Target volume perdagangan China-Indonesia sudah terlampaui. Target Presiden SBY bahwa volume perdagangan mencapai US$ 8 miliar hingga 2015 sudah tercapai. Apakah kemudian dibuat target baru?
Tentu saja target yang diberikan Bapak Presiden dan PM Wen Jiabao merupakan tantangan baru bagi semua pihak, tidak hanya Kedutaan Besar RI, karena ini melibatkan stake holders di Indonesia dan di Tiongkok, yaitu business circle, kemudian departemen dan kementerian terakait di Indonesia dan juga di Tiongkok. Ini merupakan suatu pekerjaan bersama kita. Namun kita sebagai bangsa Indonesia di sini, bersama KJRI di Hong Kong, Guangzhou, dan Shanghai berupaya untuk melakukan kegiatan hampir setiap bulan melakukan pertemuan bisnis mencakup 3 aspek, yaitu trade, tourism, dan investment. Kita berharap melalui kegiatan-kegiatan seperti ini kita menciptakan forum untuk B to B (business to business) bertemu melakukan kegiatan untuk tiga bidang tersebut.
Kita berharap target bisa tercapai. Tentu saja saya yakin siapa pun nanti yang akan jadi penguasa di Indonesia pada 2014, saya yakin hubungan Indonesia dengan Tiongkok akan jadi salah satu prioritas pertama kita. Karena pertimbangannya adalah China merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS, pasarnya juga sangat besar, ada 1,3 miliar penduduk. Sistem politik stabil, tentu saja kita berharap dengan tingginya pertumbuhan ekonomi mereka rata-rata 8 persen per tahun bisa menyerap produk-produk Indonesia lebih besar.
Apa kendala yang ditemui dalam hubungan kerja sama perdagangan antara Indonesia-China atau sebaliknya?
Kendalanya itu, kalau menurut saya, lebih kepada pemahaman untuk kita melakukan bisnis. Kebiasaan yang kita terapkan di Indonesia, dan biasanya yang mereka terapkan itu kadang-kadang ada miskomunikasi, sehingga timbul misunderstanding. Karena itu saya selalu katakan, sebelum Anda melakukan bisnis ke Indonesia atau sebaliknya pebisnis Indonesia ke Tiongkok, manfaatkanlah Kedubes mereka di Jakarta dan Kedutaaan kita di Beijing, sehingga kita bisa menjadi jembatan, agar misunderstanding antara para pebisnis bisa kita hindarkan, dengan demikian mereka mendapatkan kentungan. Dan selalu saya katakan services atau jasa baik yang disiapkan kedutaan besar Tiongkok di Jakarta dan kedutaan kita di sini sama sekali free of charge, tidak ada beban tambahan. Justru kita malah akan membantu mereka agar kegiatan mereka aman di Indonesia, maupun di Tiongkok.
Selama ini ada kesan negatif yang muncul di masyarakat terhadap China terkait masa lalu. Bagaimana cara KBRI mengantisipasi hal ini?
Memang kita punya sejarah yang cukup panjang dengan Tiongkok. Dalam satu dua kesempatan, memang ada kejadian-kejadian yang sebenarnya berlatar belakang konflik yang bisa memberikan mispersepsi di antara kedua bangsa. Tapi selalu kita gunakan setiap kesempatan untuk melakukan kegiatan, misalnya forum trade, tourism, investment, ada pertunjukan budaya, ada seminar-seminar yang terkait dengan hubungan kedua negara tingkat akar rumput, sekaligus kita mendatangi pusat-pusat, yang kita sebut center of excellence, pusat keunggulan mereka, universitas, badan-badan kajian untuk memberikan pengertian ke mereka bahwa Indonesia dan Tiongkok tidak sekadar bersahabat, tapi bersaudara. Karena di Indonesia, kurang lebih ada 23 juta penduduk Indonesia yang berasal dari Tiongkok dan ini merupakan komunitas Tiongkok di luar Tiongkok. Ini adalah modalitas dan selalu kita katakan kita tidak hanya bersahabat, tapi juga bersaudara, sehingga tumbuh pengertian di antara mereka, bahwa bekerja sama di antara dua bangsa yang bersaudara ini, tidak hanya wajib untuk menjaga pertumbuhan ekonomi kita, tapi juga wajib karena bila kita berkelahi sesama saudara, nanti negara-negara lain di kawasan juga akan menderita. Inilah yang kita selalu tekankan kepada mereka arti penting dari kita bekerja sama di semua lini, baik G to G, B to B, atau people to people. Tiga pilar ini yang akan memberikan dorongan bagi dalamnya saling pengertian di antara dua bangsa ini yang sangat berpengaruh pada stabilitas keamanan dan kesejahteraan kawasan kita.
Ada yang mengatakan traumatik Indonesia dengan China akan sulit dihilangkan, salah satu sebabnya adanya jurang pendapatan antara warga pribumi dan keturunan China di Indonesia?
Itulah yang selalu saya katakan arti penting dari keputusan pemerintah dan rakyat Tiongkok untuk berpartisipasi dalam program MP3EI. Kalau meraka berpartisipasi dalam satu atau dua atau tiga mega project yang kita laksanakan, dengan sendirinya mereka tidak hanya membawa modal, membawa teknologi dari Tiongkok, tetapi yang lebih penting mereka menciptakan lapangan kerja bagi rakyat Indonesia di mana proyek-proyek itu berada. Dengan pemberian lapangan kerja, tentu saja mereka juga memberikan penghasilan kepada masyarakat Indonesia secara luas. Itu selalu saya katakan lakukanlah itu, karena kita tahu selama ini bahwa tidak pernah kita menggigit tangan yang memberi makan ke mulut kita. Jadi kalau rakyat kita merasa menarik manfaat dari datangnya investor Tiongkok ke dirinya, tentu dia akan lebih mencintai lagi saudara-saudaranya dari Tiongkok. Ini kita harap akan peran strategis untuk menghilangkan stigma-stigma masa lalu.
Selama ini China sudah banyak investasi ke Indonesia. Apakah mereka sudah menggandeng para pekerja dari Indonesia?
Sudah. Awalnya, local wisdom, ini kalau saya mengatakan, ini dimengerti, tapi kurang mendalam oleh para pebisnis Tiongkok. Tapi akhir-akhir ini, dengan pengalaman mereka di lapangan, engagement dengan kita , mereka mulai mengerti memang ada baiknya melibatkan pekerja-pekerja Indonesia di dalam proyek-proyek yang mereka tangani, dengan harapan kecintaan terhadap Tiongkok semakin hari semakin besar, sehingga seperti yang saya katakan tadi, tidak ada orang yang menggigit kepada tangan yang memberikan makan ke mulut kita.
Saya sangat berterima kasih atas pengertian yang telah tumbuh pada pebisnis Tiongkok bahwa berpartner dengan local partner penting untuk menjamin kelangsungan hubungan bagi proyek-proyek mereka di Indonesia.
Mereka sangat mendukung pelibatan local wisdom ini?
Sangat. Mereka tadinya berpikir mengapa tidak membawa pekerja dari Tiongkok yang cukup banyak itu. Tapi setelah mendapat pengalaman empirik di lapangan, mendengarkan nasihat kita, mendengarkan input kita, mereka sadar sepenuhnya bahwa memang adalah suatu kebaikan bagi mereka sendiri apbila mereka juga membawa local partners dalam mengerjakan proyek-proyek yang mereka tangani.
Apakah ada target investasi China untuk untuk menggarap proyek-proyek MP3EI?
Ada. Ketika Presiden SBY datang ke Beijing di awal tahun ini, momentum itu dimanfaatkan pebisnis dari dua negara Tiongkok dan Indonesia untuk menandatangani 15 proyek mega proyek terkait MP3EI, yang jumlahnya mencapai sekitar US$ 17 miliar. Kita berharap kebijakan pemerintah Indonesia dan Tiongkok bisa mendorong implementasi perjanjian-perjanjian yang ditandatangani. Dan ini, menurut hemat saya, paling penting digarisbawahi, saya sendiri mendengarkan, saya ada di situ ketika bertemu Presiden Hu Jintao, ketika bertemu PM Wen Jiabao, bahwa pemerintah Tiongkok commit dan sepakat memberikan grant bagi feasibility studies di proyek-proyek di mana perusahaan-perusahaan Tiongkok memenangkan tendernya. Dan membiayai feasibility studies tidak kecil, sekitar puluhan juta US dollar juga. Jadi mereka sudah demikian mendukung terhadap program-program yang terkait MP3EI.
Masalahnya bagaimana kita secara konsisten memberikan bantuan kepada mereka, sehingga mereka bisa terlibat di dalam mega-mega proyek yang mereka sudah setujui yang bernilai US$ 17 miliar.
Rencana investasi US$ 17 miliar itu untuk kurun waktu berapa lama?
Dalam waktu dekat.
Membaiknya hubungan Indonesia-China dalam bisnis dan investasi, apakah ini berimbas dengan hubungan politik?
Tentu saja. Kita tidak bisa pungkiri, Tiongkok sekarang ini tidak hanya kekuatan ekonomi, dengan semua potensinya, cadangan sumber devisa US$ 5 triliun, penduduknya 1,3 miliar, pertumbuhan ekonominya tinggi 8% per tahun, inflasi rendah 3-4%, itu merupakan kekuatan ekonomi yang tidak bisa kita abaikan. Apalagi dia memang menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia setelah AS. Jadi, potensinya perlu kita manfaatkan untuk turut membangun atau mendukung program pembangunan ekonomi nasional kita.
Di sisi lain juga, Tiongkok merupakan kekuatan politik yang besar. Harus kita perhitungkan. Karena itu, kita selalu berharap agar Tiongkok ini tetap konsisten terhadap kebijakannya untuk melihat ASEAN plus one, ASEAN plus China merupakan salah satu forum kawasan yang bisa dijadikan sebagai platform membahas isu-isu yang menjadi kepentingan bersama.
Kita juga sangat menghargai posisi Tiongkok yang melihat ASEAN plus One, ASEAN plus China ini merupakan salah satu forum di kawasan ini yang diharapkan menjadi kendaraan utama kita dalam menghadapi isu-isu yang menjadi kepentingan bersama. Kita juga sangat menghargai Tiongkok karena selalu menganggap ASEAN adalah kekuatan penentu di kawasan. Ini yang kita harapkan bisa menjadi modal dasar kita untuk menjadi kekuatan yang menentukan dinamika keamanan, dinamika perdamaian di kawasan kita.
Misal, saat ini China dan Jepang sedang bertikai memperebutkan wilayah. Akankah China meminta dukungan Indonesia terkait hal ini, sementara Jepang juga memiliki volume perdagangan yang besar dengan Indonesia. Atau China sudah mengerti posisi Indonesia?
Bisa saja kita antisipasi. Setidak-tidaknya pemerintah Tiongkok sudah memberi penjelasan kepada kita dari perspektif mereka. Saya sebagai duta besar sudah dipanggil Menlu Tiongkok menjelaskan posisinya. Tentu saja dubes kita di Jepang sudah dipanggil juga oleh Menlu Jepang. Tentu saja, berdasarkan laporan kita, dari Tokyo maupun Beijing, Pemerintah RI setelah mendengarkan pandangan-pandangan menteri-menteri terkait, terutama Menlu, akan menentukan sikap. Yang jelas, ada satu hal yang sepakat, kita ingin agar pertikaian wilayah ini tidak menjurus kepada hal-hal yang bersifat konfrontatif, karena itu akan mengganggu ritme dinamika hubungan pemerintah Tiongkok dengan Jepang, Tiongkok dengan Filipina, Tiongkok dengan Vietman, dengan negara clement state lainnya, sekaligus mengganggu suasana global kawasan yang kita butuhkan untuk membangun eknomi kita. Jadi, konflik di antara mereka itu juga akan mempengaruhi secara signifikan bagi upaya kita melanjutkan kerja sama di kawasan dan pembangunan nasional kita. Karena itulah, saya tahu pemerintah Indonesia ingin sekali masalah ini diselesaikan secara damai.
(asy/nrl)











































