Al Chaidar: Kelompok Seperti M Thorik Sering Gagal Membuat Bom

Al Chaidar: Kelompok Seperti M Thorik Sering Gagal Membuat Bom

- detikNews
Selasa, 11 Sep 2012 11:36 WIB
Jakarta - Bom meledak di Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (8/9) malam. Ditengarai bom yang dibuat oleh kelompok Thorik dkk ini meledak pada saat proses pembuatan. Pengamat terorisme Al Chaidar menyebut kelompok seperti Thorik sering gagal saat membuat bom.

"Mereka belajar dari internet dan mengumpulkan bahan sendiri. Kemudian mereka bereksperimen, lalu meledak sedikit, sering gagal. Sering kali bom yang mereka rakit menjadi senjata makan tuan," kata Al Chaidar.

Menurut dia, kadang tangan putus karena terkena ledakan saat percobaan pembuaatan bom dilakukan, namun bukan masalah bagi kelompok yang ditengarainya merupakan Darul Islam (DI). Malah kadang mereka senang kalau tangannya putus. Pengalaman itu pun diceritakan pada anggota lain untuk meningkatkan heroisme.

Berikut ini wawancara detikcom dengan Al Chaidar, Selasa (11/9/2012):

M Thorik dkk berniat melakukan bom bunuh diri dengan target antara lain komunitas Buddha, Brimob dan Densus. Menurut Anda mengapa yang seperti ini masih muncul?

Terorisme itu memang seperti itu, bisa muncul kapan saja sebagai ekspresi emosional. Bisa muncul sebagai solidaritas saudara yang teraniaya seperti Rohingya, atau teman-teman mereka yang ditangkap Densus. Ini menimbulkan reaksi berupa solidaritas yang lahir dalam bentuk kekerasan.

Setelah M Thorik menyerahkan diri, masih ada beberapa calon pengantin yang belum ditemukan. Ini ancaman serius?

Sangat serius. Sehingga memang harus ada langkah konkret untuk menangani persoalan ini, tidak cukup dengan pernyataan JK sebagai Ketua Palang Merah Indonesia bahwa peristiwa Rohingya itu adalah bukan misalnya kezaliman orang Buddha pada Islam di Myanmar. Harus ada yang lebih daripada itu untuk menentramkan emosi publik Islam.

Dengan potensi yang masih mereka (calon pengantin) miliki, itu ancaman yang bahaya kalau tidak melakukan secepatnya. Mererka akan terus menerus menjadi ancaman di Indonesia. 

Saya lihat pemerintah sudah melakukan banyak hal tapi tidak tepat sasaran. Deradikalisasi tidak tepat sasaran, juga program sertifikasi ulama ini saya tidak mengerti seberapa penting harus dilakukan. Ini hanya menambah risiko. Harusnya program deradikalisasi itu untuk menjinakkan, menenangkan, jangan malah justru membuat orang tambah kesal.

Kelompok Thorik membuktikan bahwa untuk membuat kelompok teroris yang bersiap melakukan bom bunuh diri itu tidak perlu biaya besar?

Cukup dengan dana kecil saja, cukup untuk membuat bom. Dana operasional mereka dikumpulkan dengan dana sendiri. Mereka menggunakan kontrakan mereka sendiri. Saya kira ini lebih ke kelompok swadaya, jadi untuk dana mereka mencari sendiri, kerjakan sendiri. Saya belum melihat kegiatan fa'i, belum melihat kegiatan perampokan dari orang-orang yang mereka anggap kafir. Mereka bergerak swadaya dari kantung sendiri.

Dengan dana yang tidak besar, kekuatan bom yang dihasilkan pun tidak besar?

Kebanyakan memang low explosive. Bahan-bahan pembuatnya bisa didapat dengan mudah di toko bahan kimia. Meski bom bunuh diri, ini hanya untuk mengagetkan saja, bukan untuk menimbulkan korban yang luar biasa banyak dan kerusakan yang sangat fatal dan luas. Tapi teroris tetap teroris yang menggunakan kekerasan. Mereka ini tidak mengerti pluralisme, multikulturalisme, tidak mengerti perasan orang lain.

Ada yang mengatakan kecenderungan teror terjadi di bulan September. Anda setuju dengan ini?

Tidak, karena teror bisa terjadi kapan saja. Pada tahun 2000 ada bom malam natal di 17 kota. Ini dilakukan oleh mereka yang anti pada multikulturalisme. Seharusnya yang dilakukan pemerintah adalah memerangi faham ini.

Apa beda kelompok Thorik dengan kelompok di Solo?

Kalau yang di Solo itu saya kira dilakukan oleh Jamaah Islamiyah (JI). Sedangkan kelompok di Tambora Jakarta Barat dan Depok merupakan satu jaringan yaitu Darul Islam (DI). Mungkin kelompok Oman atau Abu Kholis.

Perbedaannya kalau kelompok Solo itu, mereka menyerang dengan menggunakan senjata organis, hasil rampokan, dan granat. Mereka trauma dengan pelatihan pembuatan peledak di Mindanao sehingga mereka tidak mengandalkan bom yang dibuat sendiri, dan lebih percaya pada produk pabrikan. Karakter teroris JI juga berbeda dengan DI di mana mereka dilatih untuk bertahan dalam berbagai kondisi.

Sedangkan kalau menggunakan bom dan masih dalam tahap belajar itu DI. Mereka tidak pernah punya kesempatan pelatihan di Mindanao dan Afghanistan ketika kelompok pecah pada 1992. Mereka belajar dari internet dan mengumpulkan bahan sendiri. Kemudian mereka bereksperimen, lalu meledak sedikit, sering gagal. Sering kali bom yang mereka rakit menjadi senjata makan tuan. Kadang tangan putus karena kena ledakan percobaan ini, atau kaki putus, tapi bagi mereka itu nggak apa-apa. Malah kadang senang kalau tangannya putus. Pengalaman itu diceritakan pada anggota lain untuk meningkatkan heroisme.

Intelijen menengarai ada simpul teroris yang mirip seperti Thorik di mana mereka sudah melakukan pelatihan hingga 9 angkatan. Ini menunjukkan demikian eksisnya terorisme di Indonesia kendati sudah tidak ada pentolan-pentolan besarnya?

Iya. Ini seperti yang sudah kita bahas tadi. Dan adanya sinyalemen ini seharusnya untuk mengungkapnya bisa lebih mudah meskipun kadang teroris itu one step ahead, selalu selangkah di depan. Mereka bergerak cepat dalam sistem hukum yang lemah.

Dalam perekrutannya, mereka menyasar orang kalangan ekonomi bawah dengan tingkat pendidikan yang tidak tinggi. Mungkin agar lebih mudah dipengaruhi. Disebut sebagai gerakan mustadhafin atau gerakan orang-orang tertindas.

Pemerintah menggagas program kontra radikal terorisme yang merupakan program deradikalisasi. Kalangan masyarakat juga dilibatkan dalam program ini. Apalagi yang harus dilakukan untuk mempersempit ruang bagi terorisme?  

Sebaiknya pemerintah jangan menguasai program untuk proyek sendiri-sendiri. Harus disebarkan kepada masyarakat untuk dilihat mana yang lebih yang lebih tepat sasaran. Juga harus dilihat apakah program yang dilakukan sesuai apa tidak.

Karena selama ini programnya saya lihat banyak yang tidak kreatif, misalnya sertifikasi ulama. Buku-bukunya beberapa bagus, tapi kalau melakukan seminar kok yang diundang orang-orang yang tidak ada kaitannya, atau kalangan yang sudah resisten dengan yang radikal. Orang yang sudah resisten dengan radikal kan nggak perlu dideradikalisasi. Harusnya kelompok radikal seperti alumni Moro, Afghan, jangan malah mengundang NU. Itu seperti menggarami air laut.

Tanggapan Anda terkait anggaran BIN yang akan dinaikkan agar lebih bisa mendeteksi terorisme? 

Saya kira nggak perlu. Yang lebih penting adalah memahami terorisme dengan mendirikan lebih banyak pusat studi terorisme ketimbang menambah anggran ke intelijen. Saya kira intelijen tidak bisa berbuat banyak dengan infiltrasi dan penetrasi ke kelompok teroris, karena mereka punya sistem yang genealogi. 

Teroris dan intelijen sama-sama punya sistem yang genealogi, kalau nggak punya ikatan saudara itu susah masuknya.

(/trw)


Berita Terkait