"Fanatisme itu cenderung anarki kalau orang-orangnya sudah kumpul. Menurut psikologi sosial, kecenderungan fanatik adalah anarki, kekerasan," ujar Sekretaris Kemenpora, Yuli Mumpuni.
Berikut ini wawancara detikcom dengan mantan Dubes RI untuk Aljazair ini, Senin (28/5/2012):
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemarin saya melihat anak-anak yang menonton pertandingan itu duduk di atas Metro Mini. Seharusnya ini tidak boleh karena membahayakan keselamatan mereka. Kami prihatin dan menyesalkan.
Kami mengingatkan kepada semua pihak, juga penyelenggara kegiatan untuk mematuhi kesepakatan yang sudah ada. Inisiatif dari kami untuk membuat peraturan yang saat ini masih digodok di Setneg tentang tata laksana event olahraga, termasuk keamanan. Nantinya termasuk juga kita minta agar siapa pun yang masuk memiliki nomor karcis dan nomor kursi.
Dalam peraturan itu melibatkan pihak-pihak lainnya?
Ini kita buat sebagai langkah konstruktif. Jadi siapa pun kalau mau menghadiri event semacam ini harus fair, tidak boleh bawa pentungan atau benda lain yang membahayakan. Selain peraturan kita juga buat draf MoU dengan Polri terkait pengamanan. Ini hanya tinggal finalisasi.
Terkait peristiwa kemarin, kami sangat-sangat menyesalkan. Lagi-lagi, pamit pada yang di rumah mau senang-senang kok akhirnya seperti itu. Semoga tidak lagi terjadi yang seperti ini. Kami turut berduka cita.
Oke, jadi kami akan merampungkan MoU dan peraturan pemerintah. Ini tinggal finalisasi dan ada stake holder yang terlibat mengenai tata laksana event.
Dalam pertandingan sering kali kericuhan terjadi, umumnya antar suporter. Mengapa?
Fanatisme itu cenderung anarki kalau orang-orangnya sudah kumpul. Menurut psikologi sosial, kecenderungan fanatik adalah anarki, kekerasan.
Harus ada peran serta klub?
Iya. Masing-masing klub harus bisa mengedukasi pendukungnya. Fanatik dan kekerasan itu beda. Di Eropa juga ada fanatisme pendukung klub sepakbola. Ada holigan. Memang kalau pas pertandingan itu, polisi benar-benar menjaga semua pintu. Selain itu butuh kontribusi koordinator klub dan fans untuk mengedukasi para pendukung.
3 Orang itu tewas karena dikeroyok, kemungkinan polisi akan kesulitan mengungkap pelaku?
Yang penting harus ada upaya law enforcement. Dalam law enforcement itu kan ada edukasinya. Nanti juga bisa dilihat apakah pengamana sesuai prosedur.
Dan itu makanya kami buat MoU dengan Polri bagaimana pengamanan event olahraga. Nantinya akan ada tahapan sosialisasi dan simulasi. Targetnya secepatnya, sebelum pekan olahraga nasional (PON)-lah (9-21 September 2012 di Riau - red).
(/)










































