"Saya melihatnya karena kewibawaan polisi sudah lemah akibatnya orang mengambil tindakan sendiri-sendiri. Anggota TNI yang meninggal itu memunculkan rasa semangat korps. Polisi tidak tegas, tidak tuntas kawan-kawan korban jadi gregetan," jelas pengajar ilmu kepolisian Universitas Indonesia (UI) Bambang Widodo Umar.
Berikut wawancara lengkap Harian Detik dengan Bambang Widodo Umar, Senin (16/4/2012) malam:
Kata sejumlah saksi, kawanan bermotor pakai pita kuning dan memakai bahasa komando?
Kalau ada sebutan itu artinya diduga gerombolan berpita kuning ini terorganisir. Memiliki struktur bawahan dan atasan. Sekarang Kapolda dengan Polisi Militer sudah ada kerjasama sehingga tidak terlalu sulit untuk meneruskan langkah-langkah penyelidikan.
Kalau penyidikan karena TNI mempunyai sistem peradilan sendiri maka prosesnya tentunya melalui Polisi Militer (POM) dan kemudian Peradilan Militer. Lebih baik polisi mendukung melalui bukti dan saksi-saksi.
Saksi-saksi ini kan dari umum bukan militer. Ini yang diperkuat. Kerjasama dengan penyidik dari POM itu untuk menemukan tersangka. Siapa yang diduga sebagai pimpinan atau sebagai anggota dari gerombolan bermotor.
Ada keseganan dari polisi?
Sebetulnya tidak perlu ada tabir atau keseganan lagi. Polisi harus menunjukkan eksistensi dan kewibawaannya. Bahwa berani bertindak meskipun terhadap militer. Siapa pun yang melanggar hukum harus ditindak.
Penyelesaiaan di peradilan militer serahkan ke POM masing-masing angkatan. Apalagi kalau sudah ada kerjasama dengan pihak TNI. Sehingga langkah-langkah dalam penyidikan POM kan juga punya penyidik.
Untuk ke dalam TNI karena ada kata-kata seperti ”siap ndan” tadi saksi itu perlu diperiksa oleh polisi. Itu diserahkan berita acara kesaksiannya pada POM. Untuk memudahkan mereka untuk mengungkap siapa yang mengkoordinir.
Kasus ini harus tuntas dengan kerjasama Polri dan TNI. Kalau sudah ada penangkapan itu pengusutan lebih lanjut di POM TNI. Penyidikannya di situ. POM juga harus terbuka kepada publik penanganan kasus ini. Karena ini sifatnya tindak pidana umum.
Penusuk Kelasi Arifin juga belum terungkap, mengapa?
Kejadian ini sebagai titik awal berkembangnya kasus ini. Penting untuk mengusut tuntas kelasi itu terbunuh oleh geng motor atau siapa. Kalau itu masih kabur ini menjadi dugaan yang tidak-tidak. Polisi harus bisa menangkap pelaku utamanya. Kalau tidak, tanda tanya tidak akan hilang.
Mengapa geng motor tidak terselesaikan?
Ini sebenarnya masalah sosial. Pembinaan masyarakat seharusnya yang berperan itu melalui agen-agen pengendali sosial seperti keluarga dan organisasi hobi sekaligus pemerintah daerah.
Supaya anak-anak itu tertib. Ini yang tidak tergarap. Kalau upaya penindakan seperti yang dilakukan polisi yang juga melibatkan POM tidak akan menuntaskan. Nantinya sebentar saja turun, besok-besok akan muncul lagi.
Apa karena ada backing dari oknum polisi dan tentara?
Saya melihatnya karena kewibawaan polisi sudah lemah akibatnya orang mengambil tindakan sendiri-sendiri. Anggota TNI yang meninggal itu memunculkan rasa semangat korps. Polisi tidak tegas, tidak tuntas, kawan-kawan korban jadi gregetan.
Teman-teman korban jadinya ambil tindakan sendiri. Ada pengadilan jalanan atau extra judicial crime. Kemudian membesar karena adanya kecemburuan antara TNI dan Polri. Selama ini, Polri dianggap dapat porsi enak tapi kerjanya gitu.
Kecemburuan ini harus dibaca oleh petinggi angkatan. Jangan dibiarkan. Tak menutup kemungkinan yang cemburu itu yang di atas atau jajaran pimpinan. Karena polisi diberi kewenangan mengelola keamanan dalam negeri tapi kenyataannya seperti ini. Pimpinan harus peka, masalah ini harus diselesaikan.
(nwk/nrl)











































