Tak Ada Prestasi Menonjol dari SBY

Siswono Yudo Husodo

Tak Ada Prestasi Menonjol dari SBY

- detikNews
Senin, 02 Agu 2004 12:40 WIB
Tak Ada Prestasi Menonjol dari SBY
- - Penuh warna, itulah gambaran pergulatan hidup Siswono Yudo Husodo. Awalnya dikenal sebagai aktivis mahasiswa, kemudian menjadi pengusaha, politisi, menteri, dan belakangan menjadi Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Akhirnya ia didaulat menjadi cawapres berpasangan dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais.Lahir di Long Iram, Kalimantan Timur, 4 Juli 1943 Mas Sis-demikian panggilan populer-merupakan sosok unik dan kontroversial. Paa watu pengganyangan Bung Karno, ia adalah mahasiswa ITB yang menjadi Wakil Komando Laskar Soekarno. Tapi pada era Presiden Soeharto, ia malah diangkat sebagai menteri dalam dua kali kabinet, yakni Menteri Negara Perumahan Rakyat (1988-1993) dan Menteri Transmigrasi dan Permukiman Perambah Hutan (1993-1998).Selama menjabat menteri, pada era Orde Baru yang otoriter dan korup, itu ia teruji mampu tidak terlibat dalam arus deras KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang bermuara pada kesengsaraan rakyat. Ia tidak menggunakan kesempatan itu untuk memperkaya diri sendiri dan kerabatnya.Suami Ratih Gondokusumo (notaris) ini, mampu bertindak bersih dari KKN, minimal di lingkungan yang ia pimpin. Contohnya, sebagai seorang pengusaha yang kemudian dipercaya menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Menteri Transmigrasi dan Permukiman Perambah Hutan, ia melepas diri dari manajemen perusahaannya. Bahkan perusahaannya, PT Bangun Tjipta Sarana da anak-anak perusahannya, dilarang menjadi rekanan di instansi pemerintah yang dipimpinnya.Masa kecil Siswono tak terlepas dengan suasana pertanian. Ia menyelesaikan SD dan SMP di Kendal, sebuah kota kecil di barat Semarang. Daerah itu dikitari sawah yang sangat luas. Teman-temannya anak petani yang sepulang sekolah, lalu menggembalakan kerbau sambil mamandang keindahan alam yang di sebelah selatan tampak Gunung Perahu, Gunung Ungaran, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing. Ia menyaksikan keluarga petani dengan kesederhanaan, keyakinan, ketekunan dan kepasrahannya kepada alam. Lingkungan alam yangdemikian itu membekas kuat di hatinya. Tiga bulan sekali kalau tidak pulang ke kota itu, ia merasa ada kerinduan.Sebagai seorang yang telah menjalani pergulatan hidup dalam berbagai kegiatan, mulai dari merintis usaha lalu jadi pengusaha, menteri, dan mejadi petani, ia melihat dalam hidup ini tidak ada orang yang tahu tentang masa depannya. Tetapi, dalam ketidaktahuan itu yang harus dilakukan setiap orang adalah bekerja sebaik-baiknya dimana pun dia berada. Jadi petani jadilah petani yang baik. Jadi pengusaha jadilah pengusaha yang baik.Tak semua keinginan Siswono terwujud. Pasang surut baginya sudah menjadi hasil biasa dalam dunia usaha. Banyak juga rencana dan usahanya yang gagal. Bedanya orang yang sukses dengan yang gagal adalah orang sukses setiap kali mendapat pukulan dia maju menghadapinya. Orang yang gagal adalah setiap kali menghadapi pukulan dia minggir.Demikian juga ketika Siswono tidak terpilih menjadi cawapres dalam pemilu 5 Juli, ia mengaku telah siap. Senyum mengembang dengan wajah cerah tetap ia perlihatkan. Termasuk saat ditemui detikcom usai memberikan keterangan pers menyikapi hasil pemilu lalu. Berikut petikan wawancaranya, yang dilakukan di Komplek Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu(28/7/2004) pekan lalu. Petikannya:Anda kecewa dengan perolehan suara hasil pemilu kemarin?Ini sudah merupakan hasil kerja maksimal semua pihak. Saya tidak kerja sendirian, ada tim sukses. Apapun hasilnya harus kita terima. Menang kalah sudah risiko.Apakah koalisi dengan Pak Amien akan terus?Kita sepakat kembali ke kesibukan kita masing-masing. Saya akan tetap memimpin grup-grup perusahaan saya yang sudah banyak. Saya juga akan terus bersama HKTI, selain itu saya juga menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila, yang mahasiswanya lebih dari 15 ribu. Banyak hal yang bisa saya kerjakan. Demikian juga Pak Amien akan kembali sibuk dengan kegiatan di MPR,sebagai politisi maupun pengajar. Anda sudah bertekad bulat mendukung Mega?Bukan begitu; setelah pemilihan presiden, praktis dalam tujuh hari terakhir saya bertemu dengan Pak Wiranto, Pak Sholahuddin Wahid, ketemu Bu Mega dan Pak Hasyim Muzadi. Saya dengan mereka melakukan komunikasi politik untuk tahu persis apa yang akan dilakukan oleh masing-masing mereka. Pada waktunya nanti kita akan memutuskan akan mendukung siapa. Ya kita tentunya mengakui sekarang pilihan tinggal dua, Mega-Hasyim atau SBY-Kalla dan kita telah memutuskan tidak akan golput. Yang penting kita tidak perlu terburu-buru, kita perlu mengenal keduanya lebih mendalam, bukan saja apa programnya karena berbeda dengan dulu, program itu tidak disusun oleh MPR dalam bentuk GBHN tapi oleh presiden yang menang. Oleh karena itu kita ingin tahu persis, termasuk soal timnya. Tim itu juga sangat penting. Siapa yang mau jadi jaksa agungnya, siapa menteri keuangan, karena akan menentukan dirjennya, pemberantasan korupsi, penyelundupan, menteri kehutanan- untuk mengatasi illegal logging. Makanya komunikasi politik itu menjadi sangat penting untuk mengenal lebih dalam masing-masing. Waktu berbicara dengan Bu Mega kemarin apa sudah ada komitmen?Tidak ada komitmen apa-apa, hanya menggali informasi sedalam-dalamnya. Saya sebagai warga negara juga bertanggung jawab memberikan masukan.Masukan apa yang diberikan?Salah satu hal yang mendorong saya bersama Pak Amien maju sebagai capres dan cawapres adalah ingin membangun kemandirian bangsa dan kepada siapa pun yang memimpin bangsa ini, harapan itu kami titipkan; juga kepada Bu Mega dan Pak SBY. Jadi kira-kira sikap akhir Anda akan kemana?Nanti akan kita putuskan, kira-kira pada awal September. Jadi tidak usah terburu-buru. Masyarakat juga jangan terlalu silau dengan penampilan di luar,oleh iklan-iklan dan sebagainya. Masalah ini terlalu penting untuk diputuskan terburu-buru. Anda juga melakukan komunikasi politik dengan SBY?Ya, kita lakukan dengan keduanya. Dengan SBY juga sudah bertemu dalam pertemuan yang difasilitasi teman. Dengan timnya juga sudah. Penilaian Anda terhadap SBY?Dia orang yang baik.Tapi tak banyak yang bisa diukur. Dua kali di pemerintahan, ia mundur dari kabinet. Saya tak melihat prestasi menonjol dalam penyelesaiankeamanan di Ambon, Poso, Aceh dan Papua. Ia cerdas, santun dan runtut dalam mengemukakan pikiran. Sebelum pemilu ada penggiringan opini lewat polling yang mengarah ke popularitas SBY. Survey dibiayai NDI dari Washington. William Liddle, professor dari AS giat mengangkat SBY begitu tinggi dan merendahkan calon-calon lain. Bekas Presiden AS Jimmy Carter mengundang SBY. Lalu Menlu Collin Powell juga datang. Saya cuma mengungkap fakta saja.Amerika cenderung menginginkan kandidat tertentu menjadi presiden?Saya melihat bahwa kalau Amerika mempunyai kecenderungan menginginkan seseorang untuk memimpin Indonesia, menurut hemat saya itu sesuatu yang wajar. Itu haknya pemerintah Amerika. Sama saja kalau saya berkeinginan yang menjadi presiden itu John Kerry, bukan George Bush. Nggak ada masalah. Yang nggak saya suka kalau Amerika ikut terlalu jauh. (Swarjono/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads