"Jadi harus diperiksa kondisi sopir dan suratnya. Dua-duanya harus dilakukan. Ini dilakukan juga di AS dan di Inggris. Meski tidak ada kecelakaan, razia kondisi sopir untuk memeriksa kadar alkohol sering dilakukan," kata psikiater kawakan, Prof Dr dr Dadang Hawari.
Berikut ini wawancara detikcom dengan Dadang, Selasa (24/1/2012):
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bisa bahaya. Pengaruhnya itu bisa punya kepercayaan yang sangat tinggi, di luar realistisnya. Kemudian ada euphoria, sangat gembira dan segala sesuatu dianggap enteng. Akibatnya kewaspadaan menurun, ada halusinasi penglihatan. Misal, jarak pandang berubah. Katakanlah sesuatu yang dekat terlihat jauh.
Jika dalam pengaruh ini (methamphetamine), menyetirnya juga santai meski sudah memacu kendaraan hingga 100 km per jam. Padahal ini menyetirnya di jalan biasa, bukan tol, yang banyak tikungan dia hajar saja dan tenang-tenang saja. Ada perubahan alam perasaan dan pikirannya. Pengguna jadi gembira, percaya diri berlebihan, merasa diri hebat, super.
Akibat methamphetamine juga yang menyebabkan pelaku tampak tenang saja meski sudah menabrak beberapa pejalan kaki di satu waktu?
Iya. Aneh juga kan kalau dia tetap tenang-tenang. Kalau orang biasa pasti ketakutan. Sudah nabrak banyak orang begitu pasti ketakutan, tapi ini kan katanya pelaku tetap tenang saja. Sepertinya dia menganggap ini biasa saja.
Kapan pengaruh methamphetamine hilang?
Biasanya menurun setelah 24 jam. Pengaruh ini juga tergantung banyak sedikitnya yang dikonsumsi. Lalu kalau dia banyak minum dan banyak kencing, maka banyak yang dibuang dan pengaruhnya akan lebih cepat hilang juga.
Untuk meminimalkan tragedi yang sama terulang, apa yang harus dilakukan?
Terutama mereka yang keluar kelab malam atau dugem, dianjurkan tidak pulang dengan kendaraan sendiri alias menyetir. Lebih baik menyewa taksi. Sebab kecelakaan yang diakibatkan orang yang mengkonsumsi miras itu banyak terjadi.
Dan soal ini harus tegas, kalau sesuatu dilarang ya harus benar-benar dilarang. Misal ada seseorang menggelar pesta, ketentuannya tidak boleh ada miras dan narkoba, maka si penyelenggara pesta harus tanggung jawab kalau ada apa-apa. Maksudnya, kalau ada orang yang menggunakan narkoba atau menenggak minuman keras. Seperti waktu suporter Inggris dilarang minum minuman keras, semua penonton mematuhinya. Jadi semua penonton sadar.
Perlu segera digelar razia pengemudi untuk meminimalkan peristiwa itu terjadi lagi?
Razia tengah malam atau dinihari saya kira perlu dilakukan pada pengendara. Dilakukan secara sampling saja. Di lokasi mana saja yang kira-kira harus diperiksa. Ini kan sudah banyak kejadian. Mobil yang kecebur di Bundaran HI padahal nggak ada apa-apa di situ, perlu diwaspadai juga dia mengendalikan kendaraan dengan kecepatan tinggi, ada perubahan persepsi panca indera karena pengaruh minuman keras dan narkoba.
Bukan hanya razia surat kelengkapan mengemudi?
Itu harus, dengan maraknya narkoba dan marak miras. Jadi harus diperiksa kondisi sopir dan suratnya. Dua-duanya harus dilakukan. Ini dilakukan juga di AS dan di Inggris. Meski tidak ada kecelakaan, razia kondisi sopir untuk memeriksa kadar alkohol sering dilakukan.
Jadi sopir yang melintas diberhentikan lalu dipasang masker di mukanya dan diminta bernafas agar bisa kelihatan kadar alkoholnya, meskipun belum mabuk. Ini dikenal sebagai breath test.
Kalau untuk narkoba harus cek urine. Tapi awalnya bisa dilihat cara jalan sopirnya bagaimana, sempoyongan atau tidak. Atau ketika dia disuruh menunjuk dengan jari, tepat atau tidak.
Ancaman hukuman penabrak 9 orang hingga tewas itu antara lain penjara selama enam tahun. Ini bisa cukup membuat jera nggak? Mengingat sering kali orang yang sedang fly mengendarai mobil.
Kalau bisa ya seberat-beratnya. Agar orang lain tidak melakukan hal itu, menyopir dalam keadaan mabuk. Kalau dipenjara juga harus yang sangat ketat. Karena ada yang masih bisa menggunakan HP di penjara, masih bisa hidup seperti saat tidak dipenjara, dan seperti hanya pindah tempat tinggal. Bahkan ada yang menjalankan bisnis narkoba dari penjara. Yang mati juga harus dipikirkan, meskipun hukuman seperti apapun juga tidak bisa mengembalikan yang sudah mati.
Ini harus ada pemberatan. Minum minuman keras dan mengkonsumsi narkoba saja sudah melanggar. Mau minum itu kan keadaannya sadar. Nah, saat sadar itu dia juga harus tahu akibatnya apa.
Masih adanya orang yang menyetir kendaraan dalam keadaan 'fly' ini karena minimnya kesadaran atau longgarnya aturan?
Bisa jadi karena akibat belum ada. Sebelum ada akibat fatal atau merasakan sendiri akibatnya belum kapok. Selain itu juga aparat belum ada aturan tegas untuk melarang miras. Padahal di negara lain, yang boleh beli adalah yang berusia 21 tahun ke atas. Pembelian juga dilakukan di tempat tertentu.Selain itu kalau mau minum lagi padahal sudah mabuk maka tidak dikasih lagi sama bartender. Lalu pulang ke rumahnya mereka naik taksi agar tidak kecelakaan.
Sedangkan di sini semua boleh. Di sini boleh dibawa pulang. Di Eropa ada ketentunya, misalnya di Stockholm, Swedia, setiap penjualan miras hanya boleh dilakukan seminggu sekali pada setiap hari Kamis. 1 Orang beli 1 liter. Yang beli hanya yang usianya 21 tahun ke atas. Itu keras. Di kita, beli satu gerobak juga boleh. Hukum masih belum jalan sehingga wajar jika memunculkan pertanyaan apa pejabat pada minum miras juga, sehingga kalau ditindak bagaimana nasib mereka.
Pengetatan aturan mendesak dilakukan?
Tentu. Kalau tidak nanti banyak yang mati kecelakaan karena mengemudi dalam keadaan 'fly'. Yang baru dari kelab malam, jangan mengendarai mobil sendiri. Lalu kalau ada pesta, harus tegas tanpa narkoba dan miras. Lalu ada petugas yang berjaga di pesta itu.
Jangan sampai ada peristiwa begini baru ribut-ribut. Mencegah itu lebih baik. Kalau tidak salah, miras sudah termasuk narkoba sejak 2003. Polisi sudah memusnahkan banyak narkoba. Yang digilas pakai mesin banyak, tapi yang selundupan juga banyak. Penegakan hukum masih sangat lemah. Ini harus segera dan cepat.
(vit/nwk)










































