"Sayangnya ini bukan pertama kalinya pekerja MSF diserang. Tiga staf MSF tewas pada tahun 2008 di kota Kismayo, yang menyebabkan perubahan dalam cara kita menjalankan operasi di Somalia. Pada tanggal 13 Oktober 2011, dua staf MSF diculik di kamp pengungsi Dadaab, Kenya," kata kata Direktur Eksekutif Medecins Sans Frontieres (MSF) Hong Kong, Remi Carrier, kepada detikcom.
Berikut ini wawancara detikcom dengan Remi, Minggu (1/1/2012):
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kami telah bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk memfasilitasi pemulangan jenazah dr Kace. Namun kami masih belum dapat mengkonfirmasi detailnya sekarang. Kami berharap jenazahnya dapat dipulangkan dalam pekan ini.
Apakah benar yang menembak dr Kace adalah mantan pekerja MSF yang sudah dipecat?
Menurut informasi kami, penembak sekarang dalam penahanan. Dia telah bekerja untuk kami selama bertahun-tahun, kontraknya dipertanyakan tetapi belum dihentikan. Kita tidak bisa mengkonfirmasi pada titik ini bahwa ia telah mencuri barang atau material, tetapi hal ini sedang dalam pemeriksaan.
Apakah MSF melengkapi staf dengan pistol atau senjata lain?
Keamanan staf kami sangat penting untuk MSF. Prioritas utama dari setiap proyek adalah juga memastikan bahwa pasien kami dan semua kelompok berbeda di daerah itu memahami bahwa kita adalah agen kemanusiaan independen. Kami memberikan pelayanan kesehatan tanpa agenda politik kepada mereka yang membutuhkan. Pengetahuan akan netralitas dan independensi, serta ketidakberpihakan kami sangat penting. Pengakuan ini, di samping pekerjaan medis yang kami lakukan, adalah strategi terkuat untuk meminimalkan ancaman.
Dan kami terus-menerus mengembangkan aturan keamanan dan strategi untuk dapat bekerja seaman mungkin. Anggota staf kami diberitahu secara penuh sebelum keberangkatan dan di-up date sepanjang misi mereka. Mereka memiliki hak untuk menolak tugas jika merasa tidak nyaman. Dan protokol keamanan MSF secara kontinyu disesuaikan dengan kondisi yang sedang terjadi dalam konteks umum.
Somalia adalah satu-satunya tempat di mana MSF secara rutin menggunakan penjaga bersenjata. Dalam sebagian besar situasi, MSF melindungi dirinya sendiri dengan membuktikan kenetralan dan tidak memihak dalam memberikan bantuan darurat kemanusiaan. Tapi di Somalia, analisis yang dilakukan telah memuat kami untuk mengadopsi pendekatan yang berbeda. Tapi kami menjamin hidup anggota staf dan lingkungan kerja yang bebas senjata.
Apakah MSF memberikan apresiasi kepada keluarga dr Kace? Dalam bentuk apa?
Pada hari ketika tragedi ini terjadi, MSF sudah memberi tahu keluarga dr Kace. Dan kami telah mengirim rekan ke Indonesia untuk membantu keluarga terkait semua proses yang harus dilakukan. Presiden MSF Internasional, dr Unni Karunakara, juga dalam perjalanan ke Indonesia untuk bertemu dengan keluarga dr Kace dan memberikan apresiasi atas dr Kace.
Dapatkah Anda menjelaskan bagaimana peran dr Kace selama bergabung dengan MSF?
MSF telah bekerja secara kontinyu di Somalia sejak tahun 1991 dan saat ini menjalankan 13 proyek di negara tersebut. Proyek itu antara lain kegiatan medis yang berkaitan dengan kedaruratan, kampanye vaksinasi, serta pemberian makanan bergizi. MSF juga membantu pengungsi Somalia di kamp-kamp di Dadaab, Kenya dan Dolo Ado, Ethiopia.
Pada periode Mei sampai Desember 2011 MSF menangani lebih dari 95 ribu pasien malnutrisi, merawat lebih dari 6 ribu pasien campak dan memvaksinasi hampir 235 ribu anak-anak. MSF juga membantu pengiriman lebih dari 5.500 bantuan medis dan menyediakan lebih dari 450.000 konsultasi.
Di Mogadishu, tim MSF menjalankan program pemberian terapi makanan untuk anak-anak kurang gizi, dan memberikan pengobatan untuk penderita campak dan kolera. MSF juga mendistribusikan barang bantuan dasar untuk para pengungsi dan penduduk lokal.
Dr Kace bergabung MSF pada tahun 1998. Dia adalah seorang dokter medis dan bertanggung jawab dalam program terapi pemberian makanan di Mogadishu.
Apakah itu pertama kalinya staf Anda menjadi korban kekerasan saat bekerja?
Sayangnya, ini bukan pertama kalinya pekerja MSF diserang. Tiga staf MSF tewas pada tahun 2008 di kota Kismayo, yang menyebabkan perubahan dalam cara kita menjalankan operasi kami di Somalia. Pada tanggal 13 Oktober 2011, dua staf MSF diculik di kamp pengungsi Dadaab, Kenya.
Berapa banyak dokter Indonesia bergabung dengan MSF?
Pekerja lapangan Indonesia terutama direkrut oleh kantor MSF di Hong Kong. Dalam catatan kami, sekitar 70 orang Indonesia (tenaga medis dan non-medis profesional termasuk logistik dan staf administrasi, dll) berada di lapangan.
Ke depannya apa yang akan MSF dilakukan untuk melindungi para pekerja?
Tragedi ini dan juga penculikan dua staf MSF di kamp pengungsian Dadaab, Kenya, pada 13 Oktober membuat MSF berada dalam dilema: risiko staf kami dan peluang hidup sejumlah orang Somalia jika mereka tidak mendapat bantuan kami. Dengan kata lain, menghentikan pemberian pertolongan pada sekelompok masyarakat yang mengalami penderitaan ekstrem atau melanjutkan program dengan berbagai risiko.
MSF telah merelokasi beberapa staf karena alasan keamanan dan sekarang meninjau upaya operasional di Somalia.
MSF tetap memberikan pelayanan kesehatan di tempat-tempat yang paling membutuhkan di seluruh dunia. Kebanyakan yang membutuhkan bantuan itu berada di lingkungan yang tidak stabil sebagai akibat konflik atau kekerasan. Dalam situasi semacam ini kami secara konstan mempertimbangkan risiko staf kami dan kesempatan hidup sekelompok orang jika tidak mendapatkan bantuan kami. Dan kami secara konstan mengembangkan aturan dan strategi keamanan agar bisa bekerja seaman mungkin.
(vit/rdf)











































