M Yulianto: Hatta Perlu Gebrakan Spektakuler untuk Jadi Capres

M Yulianto: Hatta Perlu Gebrakan Spektakuler untuk Jadi Capres

- detikNews
Kamis, 22 Des 2011 12:08 WIB
M Yulianto: Hatta Perlu Gebrakan Spektakuler untuk Jadi Capres
Jakarta - Pemilihan presiden (pilpres) masih sekitar dua tahun lagi. Namun jauh hari Partai Amanat Nasional (PAN) memutuskan mengusung Hatta Rajasa sebagai capres. Dalam waktu yang tersisa Hatta perlu melakukan gebrakan spektakuler untuk memuluskan langkahnya.

Analis politik, M Yulianto, berpendapat gebrakan spektakuler sangat dibutuhkan bagi calon yang ingin menduduki kursi nomor satu di negeri ini.

"Hatta dalam kepemimpinan di PAN belum menunjukkan ada gebrakan spektakuler. Butuh gebrakan itu agar kapabilitas kepemimpinan dia yang belum terlalu terlihat bisa terlihat. Perfomancenya belum masuk. Apalagi masih ada yang melihat isu Jawa dan luar Jawa. Saya rasa masih jauh," kata Yulianto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini wawancara detikcom dengan akademisi dari UNDIP Semarang ini, Kamis (22/12/2011):

PAN mengindikasikan pencapresan Hatta tidak bisa ditawar. Peluang Hatta bagaimana?

Saya melihat dari perfomance, Hatta dalam kepemimpinan di PAN belum menunjukkan ada gebrakan spektakuler. Butuh gebrakan itu agar kapabilitas kepimpinan dia yang belum terlalu terlihat bisa terlihat. Perfomance-nya belum masuk. Apalagi masih ada yang melihat isu Jawa dan luar Jawa. Saya rasa masih jauh.

Sekarang ini kalau pencapresan Hatta sudah harga mati, PAN punya pekerjaan besar untuk mencitrakan dan melakukan sosialisasi bahwa Hatta punya perfomance yang layak. Jadi ini masih ada PR besar.

Mungkin pencapresan dini Hatta ini adalah untuk lebih mengenalkan sosoknya ke publik?

Bisa jadi. Bisa jadi pula rencana pencapresan Hatta yang harga mati ini merupakan bagian dari deal politik untuk memperkuat bargaining dari capres lain yang lebih layak jual, karena punya karakteristik yang diinginkan publik dan perfomance diakui. Ini bisa jadi untuk membuka deal politik untuk positioning.

PAN berencana merangkul partai koalisi untuk memajukan Hatta. Menurut Anda, Hatta adalah sosok yang bisa diterima koalisi?

Sosok Hatta itu inner circle SBY, karena dulu dia pernah jadi ketua pemenangan SBY. Dengan begitu dia tahu dinamikanya dan tahu rahasianya. Tapi terlepas dari Setgab, Hatta punya pekerjaan besar merangkul suara Nahdliyin yang suaranya cukup besar. Karena selama ini kalangan ini berseberangan secara riil. Mereka lebih memilih bergabung dengan yang merah dan nasionalis ketimbang ke PAN, lantaran kuatnya politik aliran.

Bisa dilihat dulu ketika Amien Rais maju capres. Tampaknya dia bisa memenangkan pemilihan, tapi ternyata gagal. Padahal namanya sudah cukup dikenal.

Saat ini yang sudah terang-terangan akan dimajukan capres adalah Hatta dan Aburizal Bakrie. Head to head mereka bagaimana?

Dibanding Aburizal, jam terbang kepemimpinan Hatta sepertinya belum terlalu menonjol. Namun Ical punya beban sosial karena kaitannya dengan lumpur Lapindo. Belakangan malah saya melihat masyarakat mulai melihat figur Prabowo yang lebih banyak diam, tidak ikut kegaduhan-kegaduhan dan tidak terlibat dalam urusan pemerintah.

Meski begitu, Prabowo ini juga ada catatan dugaan kasus HAM. Tapi karena peristiwanya sudah cukup lama, dan di masyarakat kita terkadang terserang amnesia sosial, catatannya itu tak akan terlalu terlihat. Ketika masyarakat tidak melihat ada calon yang mereka mau, dengan pertimbangan faktor darurat, maka Prabowo bisa dipilih.

Amien Rais mewacanakan agar capres dan cawapres sebaiknya berusia 45-55 tahun, dengan pertimbangan tak terlalu tua dan tak terlalu muda. Pendapat Anda?

Itu usul yang bagus. Karena dengan capres-cawapres muda maka ada regenerasi. Saya kira pemimpin muda sudah menjadi tuntutan global karena banyak negara yang dipimpin oleh orang berusia muda.

Dengan munculnya calon-calon muda maka tidak terjadi gerontokrasi, suatu fenomena di mana struktur banyak didominasi orang yang sudah berusia senja. Sudah saatnya yang tua turun dari gelanggang sehingga ada regenarasi.

Kalau orang tua yang maju dan jadi pemimpin, maka negeri ini akan stagnan. Karena yang tua ini kan dari dulu hingga sekarang sudah banyak mengeluarkan gagasan dan idenya. Saya kira cukuplah, dan beri kesempatan pada yang muda. Kalau tetap dipegang orang tua, kita ini seperti sedang jogging. Sehat memang, tapi tidak pernah maju karena cuma jalan di tempat. Sedangkan negara lain sudah melesat maju.

Kalau melihat kondisi masyarakat Indonesia sekarang, pemimpin seperti apa yang dibutuhkan?

Sebenarnya kita sedang berada dalam titik nadir dari suatu proses hasil demokrasi. Ada berbagai kampanye tapi kita belum beranjak dari penyehatan. Kleptokrasi masih ada di sana-sini, sejumlah area dikuasai cukong dan pemburu uang negara untuk dikorup.

Kondisi ini sudah diketahui masyarakat. Karena itu yang dibutuhkan adalah orang yang bisa jadi antitesis dari keadaan yang buruk dan koruptif itu. Harus punya good will untuk memperbaiki dan berani bertindak apapun risikonya, punya integritas dan merupakan orang yang bersih. Bersih ini bukan cuma dirinya sebagai individu tetapi juga pendukung dan keluarga.

Mungkin pertanyaannya apa ada orang yang seperti itu? Saya optimistis ada. Masa dari 230 juta orang nggak ada orang yang begitu.

(vit/nrl)


Berita Terkait