Yayat Supriyatna: Banyak JPO Tak Bersinergi dengan Pedestrian

Yayat Supriyatna: Banyak JPO Tak Bersinergi dengan Pedestrian

- detikNews
Senin, 10 Okt 2011 18:34 WIB
Yayat Supriyatna: Banyak JPO Tak Bersinergi dengan Pedestrian
Jakarta - Minggu (9/10) kemarin, 2 pejalan kaki tewas tertabrak bus TransJakarta. Pejalan kaki nekat menyeberang jalur khusus bus TransJakarta alias busway lantaran minimnya jembatan penyeberangan orang (JPO). Sangat disayangkan, masih banyak JPO yang tak bersinergi dengan pedestrian (pejalan kaki).

"Kita tidak pernah mensinergikan pembangunan busway dan pedestrian. Sepertinya tidak pernah dilihat apakah jembatan penyeberangan yang ada sudah cukup lengkap. Sebab saya lihat yang ada sekarang masih jauh memenuhi kebutuhan warga. Jembatan penyeberangan lebih ditujukan ke halte (bus TransJ). Jangan hanya salahkan, tapi tambah dan lengkapi. Jumlah jembatan ini masih sangat kurang," kata pengamat transportasi Yayat Supriyatna.

Berikut ini wawancara detikcom dengan akademisi Universitas Trisakti ini, Senin (10/10/2011):

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemarin dua pejalan kaki tewas tertabrak bus TransJakarta. Menurut Anda persoalan apa yang masih menjadi pekerjaan rumah?

Persoalannya kan begini, tidak semua jalur busway difasilitasi jembatan, tidak ada petugas pengawas lapangan. Lalu karena busway itu jalan khusus TransJ, bisa jadi pengemudinya merasa leluasa sehingga jadi kurang hati-hati.

Korban tabrakan dari waktu ke waktu terus meningkat. Seharusnya ada tindak lanjut bagi warga yang menyeberang jalan di tempat yang tidak ada jembatannya. Badan Layanan Umum (BLU) TransJ dan Dishub DKI Jakarta seharusnya memetakan kembali mana yang perlu dengan jembatan atau zebra cross plus petugasnya. Apalagi tempat dengan lampu penerangn minim di malam hari.

Tempat penyeberangan yang ada masih minim?

Jangan selalu menunjukkan yang menjadi korban disalahkan karena menggunakan busway. Kita perlu mengkaji ulang kembali soal jembatan penyeberangan ini. Seharusnya dibangun di kawasan yang sudah berkembang, di jalur yang dianggap cukup padat seperi di dekat pasar, dan sebagainya. Di tempat itu malah kadang nggak ada tempat menyeberangnya.

Kondisi sekarang ini harus dilihat kondisinya. Ada daerah yang sekarang berkembang jadi tempat bisnis atau tempat pemukiman. Di tempat yang begini harus dipasang jembatan yang jumlahnya memadai. Jangan sampai hanya tergantung fasilitas lama tanpa melihat kondisinya.

Mengenai masih adanya pemakai jalan yang kurang disiplin tidak menggunakan JPO meskipun JPO-nya tidak jauh dari tempatnya menyeberang?

Harus diingat, kadang orang menjadi malas naik ke jembatan untuk menyeberang karena jembatannya yang tidak humanis. Untuk orang kuat tidak masalah naik ke jembatan itu, tapi bagi yang sepuh dan masih kecil itu repot.

Tangga jembatan juga kadang sangat curam. Tak hanya itu, jembatan penyeberangan juga tidak bebas gangguan, sehingga harus dipetakan lagi. Saya lihat pembangunan busway tidak sinergi dengan pedestrian. Saya lihat pedestrian tidak dibangun lagi.

Kita lihat sekarang di kawasan protokoler seperti Kota-Blok M relatif lebih mudah diatur. Tapi yang padat pemukiman seperti Glodok, Buncit, banyak aktivitas seharusnya jembatan dibuat lebih banyak. Yang begini dievaluasi tidak?

Di samping JPO yang Anda nilai kurang humanis, apa lagi yang harus dibenahi?

Seharusnya JPO ini lebih manusiawi, bersih, nyaman, tidak berubah peruntukannya, sehingga penggunanya tidak mengalami gangguan. Saya katakan, kecelakaan terjadi ketika tidak disiplin.

Kita tidak pernah mensinergikan pembangunan busway dan pedestrian. Sepertinya tidak pernah dilihat apakah jembatan penyeberangan yang ada sudah cukup lengkap. Sebab saya lihat yang ada sekarang masih jauh memenuhi kebutuhan warga. Jembatan penyeberangan lebih ditujukan ke halte (bus TransJ). Jangan hanya salahkan, tapi tambah dan lengkapi. Jumlah jembatan ini masih sangat kurang.

Memang masih ada beberapa orang yang memiliki kedisiplinan sangat rendah. Padahal harus ada budaya tertib dan taat.

Evaluasi keberadaan JPO di sepanjang busway mendesak dilaksanakan?

Harus dipetakan di koridor I yang tewas tertabrak berapa, di koridor II berapa dan selanjutnya. Lalu mana yang paling tinggi angkanya untuk tahu jalur mana yang paling bahaya.

Harus dibangun jembatan yang memadai agar punya pilihan menyeberang di mana. Kalau tidak dibangun tempat-tempat penyeberangan maka memang jelas tidak ada kebijakan pedestrian. Padahal pemakai jalan bukan hanya pengendara kendaraan, tapi juga pedestrian.

Seharusnya jalur pedestrian dan rambu untuk mereka juga dibuat. Saya lihat ini pejalan kaki jadi nomor 18 dari 20. Sementara yang nomor 1 pengguna mobil pribadi. Apakah pejalan kaki tidak diperhatikan karena mereka kelompok kismin (miskin, -red)?

Sekarang juga trotoar untuk pejalan kaki banyak dipakai pedagang kaki lima, parkir motor, sehingga pejalan kaki makin sulit kalau mau berjalan di sekitar jalan raya.

(vit/nwk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini