Sang Ibuda, Gusti Kanjeng Ratu Hemas menyebut, baju pengantin yang akan dipakai sang putri tidak mewah. Pun tidak dibuat oleh desainer mahal. Baju yang akan dipakai pengantin ataupun keluarga dipesan di tukang jahit langganan Keraton Yogyakarta.
"Kita sih nggak ada yang mewah. Yang jelas itu konsep pakaian tradisional tetap tradisional dan itu tidak ada yang berubah dan anak kami tidak menggunakan desain mahal, tetap tukang jahit langganan kami," kata Ratu Hemas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti apa konsep royal wedding ala Yogyakarta?
Royal wedding dalam arti perkawinan di keraton harus melakukan tradisi upacara yang perlu kita lakukan. Yang diharapkan banyak hal juga menjadi salah satu yang ditunggu masyarakat, yang ditunggu masyarakat keraton.
Seperti apa respons masyarakat terhadap the royal wedding ini?
Mereka ikut mendoakan dan ikut merayakan. Mereka ingin ikut berpesta di jalan-jalan dan sudut kota, jadi ada pesta rakyat. Nanti mereka akan dihibur sejumlah hiburan rakyat sambil menunggu lewatnya kereta royal wedding.
Jadi pasangan akan diarak kereta kencana?
Jadi nanti diarak kereta kencana. Karena ini konsepnya Sultan HB VII, sebenarnya zaman Sultan HB VII pengantin perempuan ditandu dan laki-laki naik kuda. Tapi nanti dibilang feodal, jadi naik kereta dua-duanya dari keraton diarak ke lokasi pernikahan di Kepatihan.
Ada yang spesial dalam acara ini?
Dalam acara ini kita upayakan ada layar di sudut-sudut jalan, kita pasang di beberapa sudut supaya masyarakat Yogya dapat melihat jalannya acara.
Kebetulan juga acara acara diskusi di UGM dengan tema masalah reproduksi dihadiri peserta dari seluruh dunia.
Apakah harapannya the royal wedding ini mampu mengembalikan dan meningkatkan pariwisata Yogya?
Dengan adanya acara seremonial anak kami ini tentunya menjadi satu awal daripada hadirnya turis dari mancanegara. Juga, mungkin bisa diadaptasi peserta seminar seluruh dunia nanti bisa jadi isu yang bisa disampaikan ke negara mereka.
Apakah diharapkan masyarakat Yogyakarta ikut mempromosikan?
Tentunya perlu juga kesadaran masyarakat mempromosikan kepada turis dengan bisa menyediakan sarana untuk dikunjungi masyarakat dari luar.
Apakah baju pernikahan mahal seperti istri Pangeran William, Kate Middleton?
Kita sih nggak ada yang mewah. Yang jelas itu konsep pakaian tradisional tetap tradisional dan itu tidak ada yang berubah, dan anak kami tidak menggunakan desain mahal tetap tukang jahit langganan kami.
Baju apa yang akan dipakai?
Yang digunakan pakaian pakem beludru dan bordiran, pakaian pakem dan kebaya-kebaya tidak yang modern karena temanya Sultan HB X, jadi mengembalikan konsep itu pada yang sudah ada pakemnya.
Ibu kan sibuk, siapa yang mengurus pernikahan ini?
Kalau acara itu biasanya yang tanggung jawab saya, kemudian pelaksananya karena sudah ada ketentuannya jadi semua kerabat Keraton membantu persiapan perkawinanya termasuk adik Pak Sultan yang membawahi persiapan perkawinan. Sebagian dibantu masyarakat dari luar keraton. Juga dari event organizer (EO).
Masalah keamanannya bagaimana?
Keamanan kami meminta semua ada polisi aparat keamanan juga dari luar. Masyarakat juga membantu agar acara lancar.
(ken/vit)











































