"Perlu diperbanyak program untuk pemanfaatan waktu, energi dan semangat dari para remaja atau pelajar. Jika disediakan event atau forum, ada medianya, ada aneka program untuk mereka, saya kira ada kecenderungan menurun. Juga diikuti dengan pembentukan karakter," kata Wakil Mendiknas Fasli Jalal.
Berikut ini wawancara detikcom dengan Fasli, Selasa (20/9/2011):
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa itu sangat kita sesalkan. Di mana terjadi kekerasan, apa pun alasannya, sifat kekerasan yang dilakukan satuan pendidikan dan siswa tidak bisa kita benarkan. Kenapa terjadi, apa yang menyebabkan, apakah sudah sampai yang pantas untuk disidik, kita serahkan pada aparat penegak hukum. Polres juga kan sudah masuk, sudah melakukan penyelidikan. Kita ikuti proses itu.
Sebagai bagian sistem pendidikan, kami berharap ada telaah khusus Pemprov DKI untuk melakukan penelitian mendalam tentang apa saja yang jadi faktor pencetus kembali SMA 70 dan SMA 6 itu kembali terlibat kekerasan. Apakah faktor penyebab itu bisa dicegah pada masa mendatang, apakah ke depannya mereka bisa berjalan berdampingan dan saling memahami?
Berdasar itu, kita bisa tahu apa saja pilihan untuk dijadikan solusi. Apakah merger kedua SMA akan menjadi pilihan untuk dijadikan solusi? Apa pun pilihannya, harus diajukan sesudah mendapat penelitian yang mendasar dan menyeluruh.
Kemdiknas sudah memerintahkan Disdik DKI melakukan penelitian penyebab tawuran?
Begitu ada kasus yang melibatkan murid, guru, maka pertanggungjawaban ada di sekolah. Semua informasi dikumpulkan lalu dilaporkan ke jenjang berikutnya. Kalau kasusnya di DKI maka otonominya di provinsi. Ada suku dinas juga, tapi tanggung jawab di tingkat provinsi.
Nanti kepala sekolah melaporkan ke Dinas Pendidikan didampingi Sudin Pendidikan. Lalu Kadis akan melihat apakah perlu penelitian yang lebih mendalam, tidak hanya melibatkan aparat pengawasan internal dari Dinas.
Kalau pemda mau menyelidiki, maka bisa dengan memanfaatkan Bawasda. Rekomendasi bisa digunakan sebagai usulan untuk tindak lanjut. Rekomendasi itu dipakai atau diperlukan pemeriksaan lebih intensif dari pihak yang tidak terlibat.
Kami masih menunggu verifikasi dan menunggu laporan. Kemdiknas juga proaktif mencari laporan melalui tim pendampingan dari Dirjen Pendidikan Menengah. Bersamaan dengan teman di DKI, sehingga yang diperoleh Tim DKI, juga didapat dengan tangan pertama oleh tim kita.
Dari dulu hingga kini tawuran ini masih kerap terjadi. Menurut Anda mengapa demikian?
Kalau kita lihat dari frekuensi, sebenarnya sudah jauh menurun dibandingkan dulu. Ini terjadi mungkin karena sering berbenturan. Menurunnya frekuensi ini menunjukkan upaya untuk mengurangi sudah agak lumayan.
Dulu di kedua SMA itu sempat muncul wacana merger, tapi kemudian menghilang, karena ternyata bisa berdampingan. Kalau tawuran yang belum lama ini, tidak tahu apa yang telah menjadi trigger baru menjadi pertengkaran.
Sebenarnya, tawuran antar pelajar pada Jumat lalu itu tidak besar, yang besar justru yang pada Senin itu (pelajar vs wartawan -red). Ini perlu penyelidikan intensif. Sebenarnya kan sudah ada dialog wakil wartawan, dan pihak sekolah dengan dimediasi polsek.
Saya kira ada provokasi, sehingga ada kekerasan itu. Wartawan kan juga pasti tidak datang dengan niat itu (tawuran). Saya berharap perilaku kekerasan tidak jadi bagian perilaku anak sekolah.
Adakah yang perlu dibenahi dari sistem pendidikan?
Karena berbagai kondisi riil di sekolah, atas instruki presiden, Menteri Pendidikan Nasional Pak M Nuh mendorong revitalisasi pendidikan karakter. Ini sedang berjalan, jadi tidak langsung berdampak, butuh waktu. Ini yang sekarang dikerjakan, semoga mengalir di sekolah, mempengaruhi murid, sifat yang antikarakter bisa dicegah dan bisa dikurangi.
Pak menteri juga melihat, bakat minat dan potensi pelajar sangat bervariasi. Di usianya, remaja ingin menunjukkan dirinya, dan itu tidak selalu direfleksikan dengan indeks prestasi (IP) dan nilai yang menunjukkan kognitif. Karena nilai akademisnya tidak tinggi, kadang dia merasa sebagai orang kalah, loser. Padahal dia bukan orang kalah, hanya saja medan untuk berprestasinya yang tidak cukup. Tapi begitu lapangannya disediakan, maka akan muncul harga-menghargai karena masing-masing punya potensi di bidangnya masing-masing.
Perlu diperbanyak program untuk pemanfaatan waktu, energi dan semangat dari para remaja atau pelajar. Jika disediakan event atau forum, ada medianya, ada aneka program untuk mereka, saya kira ada kecenderungan menurun. Juga diikuti dengan pembentukan karakter.
Pendidikan karakter seperti apa yang telah dilakukan?
Ini bukan mata pelajaran terpisah. Pendidikan karakter masuk ke semua mata pelajaran. Jadi guru mendefiniskan nilai karakter apa yang diperkenalkan, lalu diinternalisasi dan kemudian dipraktikkan sebagai budaya sekolah. Digunakan semua pendekatan di kurikuler dan ekstrakurikuler serta disertai keteladanan guru.
Pendidikan ini tidak dipaksakan waktunya dan tergantung kondisi riil di sekolah. Nggak usah banyak nilai dulu, tapi bisa diterapkan. Guru juga harus menerapkan nilai-nilai yang disepakati. Kalau sekali tidak menerapkan, akhirnya apa yang diteorikan ternyata dalam praktiknya bertentangan, maka konsep ini sangat kacau. Anak-anak menjadi sinis karena apa yang dikatakan dan dipraktikan tidak cocok.
Untuk memberikan pendidikan karakter ini perlu juga memvideokan berbagai model terkait nilai, empati, kerja keras. Lalu diadakan forum untuk berbagi. Kami juga menggelar pelatihan untuk lebih dari 650 ribu kepala sekolah, komite sekolah, guru senior, termasuk pengawas. Tapi bukan pelatihan saja yang penting, tapi pastikan apa yang dilakukan di sekolah, membangun konsensus nilai karakter apa yang diterapkan, internalisasi, praktik, saling jaga, bila ada pelanggaran maka ada sanksi berbau pendidikan, sehingga nantinya tindakan yang berkarakter ini menjadi kebiasaan.
Jadi nantinya, kegiatan untuk siswa bukan hanya olimpiade pengetahuan, tapi juga seni, fotografi, pencaksilat, dan lainnya yang menjadi minat. Ini harus bisa dimulai di sekolah, lalu ke level kabupaten/kota.
Maraknya tawuran ini juga terjadi karena remaja itu kurang perhatian?Β
Darah muda itu kan selalu begitu ya. Kalau ada triger sedikit, kesamaan tujuan tapi dilakukan orang yang beda, ada rasa ingin dahulu-mendahului. Tapi kalau sistem terkontrol baik, seperti dari OSIS, guru kelas, guru BK, bisa memunculkan kultur sekolah yang mampu mendeteksi adanya tanda-tanda yang mengarah ke sana (tawuran) sebagai informasi awal. Ini yang harus secara lebih tepat dan sensitif ditangkap.
Seharusnya memang ada ketahanan sekolah untuk bersama-sama menjaga. Dengan ini maka tidak akan mudah terprovokasi, sebab segala hal selalu disertai cek dan ricek, lalu kalau ada keinginan liar bisa dilembutkan. Sistem early warning harus dilakukan.
Masih berat kerja ini. Peran orangtua dan media tentu sangat besar juga. Pendidikan dengan sekolah di dalamnya adalah dunia yang selalu menjadi tempat yang ramah pada nilai kebaikan yang anti kekerasan. Dunia wartawan pun sangat mungkin berdamai dengan dunia ini. Karena tujuannya sama-sama mulia.
Semoga yang terjadi kemarin hanya letupan kecil saja. Jadi yang salah ya ditindak, dan selanjunya kita harus mencegah, jangan sampai terjadi lagi yang demikian.
Bagaimana dengan pelajar yang menjadi pelaku dan penyebar dalam video asusila?
Kalau mereka terjerembab pada perilaku itu, guru dan sekolah harus waspada. Harus dilihat apakah hal itu karena tekanan ekonomi. Soal narkoba, video porno, kekerasan perlu pencegahan.
Kalau mereka melakukan itu lantaran tekanan ekonomi, maka hendaknya diupayakan beasiswa dan sekolah memudahan para siswanya dengan tidak memberikan tekanan ekonomi selama sekolah. Kedua, melihat tidankan tersebut dilakukan semata-mata untuk memberikan kesan macho, yakni ketika anak seusianya belum melakukan, dia sudah berani melakukannya. Padahal ini adalah keberanian yang absurd.
Untuk itu, saya rasa perlu obeservasi individual dari guru. Kita kan mengenal ada guru wali kelas. Nah, untuk mengobservasi individual muridnya, perlu kerjasama dengan BK.
Sekolah itu tempat yang terus menerus dilakukan interaksi antara guru, murid dan orangtua. Makin intens interaksi, jika saling percaya, nggak mungkin siswa lari ke tempat itu (negatif-red). Kalau minat dan potensi bisa ditunjukkan, bisa diwadahi, nggak perlu lari ke hal yang di luar itu.
Memang pelaksanaannya nggak mudah dilaksanakan. Tidak segampang yang diomongkan. Tapi perlahan-lahan pasti bisa. Ini kerja keras bersama.
(vit/fay)











































