"Kita bisa memberikan penyadaran pada Darsem agar tidak disalahgunakan. Masyarakat bisa berpikir kalau begitu nggak ada gunanya saya menyumbang untuk tenaga kerja. Tiap ada kasus begitu kan masyarakat turun tangan, seharusnya kemudian diarahkan pada kegiatan atau usaha sosial atau membuat yayasan untuk kemajuan mereka (TKI)," jelas sosiolog Universitas Indonesia (UI) Musni Umar.
Berikut wawancara detikcom dengan Musni Umar, Jumat (5/8/2011) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini memang menarik, itu bentuk masyarakat kita sangat peduli pada orang yang dapat perlakuan kurang adil di luar negeri. Barangkali kita apresiasi pada masyarakat yang sangat peduli pada TKI di luar negeri terutama yang mendapat perlakuan tidak adil.
Kita ingatkan yang mendapatkan perlakuan seperti ini bukan hanya Darsem, banyak lagi yang lain supaya tidak terasa ada ketidakadilan para TKI.
Sebaiknya bantuan semacam ini dihimpun pada satu lembaga entah BNP2TKI, atau lembaga apapun yang bisa menghimpun bantuan hingga siapapun yang mendapat perlakuan tidak adil bisa diberikan bantuan yang serupa sehingga ada rasa keadilan. Kalau tidak maka akan ada kecemburuan.
Tidak baik hanya Darsem yang mendapat kepedulian masyarakat, harusnya ada semacam satu lembaga, yayasan, organisasi penggerak yang memberi perhatian pada TKI, dan uang yang dikumpulkan disalurkan pada setiap masalah-masalah seperti ini (TKI), karena TKI itu tidak akan berhenti bekerja bila kita belum punya pilihan di dalam negeri atau lapangan pekerjaan yang cukup bagi mereka.
Apakah bantuan uang ini mendidik?
Memang ini bisa membuat Darsem seperti orang kaya baru, OKB. Kita ingin mendorong, mengimbau, supaya dana itu tidak dihabiskan pada hal-hal yang sifatnya konsumtif, bisa membuat usaha-usaha apa, dipandu pemerintah atau NGO yang ada di kampungnya, melihat usaha apa yang bisa dikembangkan, merekrut orang-orang seperti dia itu tadi agar bisa bekerja di situ.
Bisa juga begini, kalau tidak, ini sebagian dana ini dibuatkan yayasan. Yayasan itu sendiri memberi pembelajaran, penyadaran pada perempuan Indonesia, di kampung-kampungnya untuk tidak ke luar negeri kalau tidak punya keterampilan yang cukup bahasa inggris, arab atau di Timur Tengah, ada budaya yang berbeda. Yayasan yang memberikan penyadaran atau pembelajaran, memberikan perhatian pada orang-orang agar jangan tertipu gara-gara diberi angin surga bekerja di luar negeri, membawa macam-macam sehinga banyak yang tertarik namun kenyataannya banyak yang mengeliminasi buruh.
Sehingga mudah-mudahan yang dia peroleh dari masyarakat bisa berkembang dan bertambah sebagai modal, jangan dihabiskan. Bisa untuk kegiatan-kegiatan sosial atau yang bersifat bisnis tapi itu lebih kena untuk menyadarkan masyarakat, para wanita untuk tidak terbuai janji-janji ke luar negeri.
Bagaimana sebaiknya menghadapi perilaku Darsem yang berubah karena mendapatkan uang yang begitu banyak dengan tiba-tiba ini?
Β
Harus ada yang menyadarkan, tokoh masyarakat, keluarganya, tidak boleh berubah itu. Mungkin ada berkah Ramadan, mendapatkan simpati orang, kalau berubah semuanya itu bisa berbalik, kutukan akan datang. Bisa dikatakan kalau di masa depan dia tidak hati-hati berbuat, dia bisa berubah menjadi sombong dan lain sebagainya. Tidak boleh dia dibiarkan jalan sendiri.
Apa fenomena ini membuat masyarakat kapok memberikan sumbangan?
Tidak, kan kita memberikan penyadaran pada Darsem, jangan disalahgunakan. Masyarakat bisa berpikir kalau begitu nggak ada gunanya saya menyumbang untuk tenaga kerja. Tiap ada kasus begitu kan masyarakat turun tangan, seharusnya kemudian diarahkan pada kegiatan atau usaha sosial atau membuat yayasan untuk kemajuan mereka (TKI).
Jadi sangat tergantung bagaimana perilaku Darsem bisa diperbaiki, dia akan sadar, kalau tidak TKI yang rugi, masyarakat bisa kapok nanti tidak mau membantu.
(nwk/anw)











































