Darmaningtyas: Agar Tak Ugal-ugalan, Sopir Kopaja AC Harus Digaji

Darmaningtyas: Agar Tak Ugal-ugalan, Sopir Kopaja AC Harus Digaji

- detikNews
Selasa, 02 Agu 2011 11:32 WIB
Darmaningtyas: Agar Tak Ugal-ugalan, Sopir Kopaja AC Harus Digaji
Jakarta - 20 Kopaja berpendingin udara akan mulai menjelajahi jalanan ibukota Jakarta pada 3 Agustus besok. Agar nyaman, sopir Kopaja harus mendapatkan gaji agar tak mengejar setoran. Tarif Kopaja pun harus ekonomis dan menguntungkan penumpang serta pihak Kopaja.

Kenyamanan itu mendatangkan konsekuensi tarif yang ekonomis, dalam artian tarif bisa naik asal masih dalam jangkauan penumpang serta cukup menguntungkan bagi pihak Kopaja.

"Contoh, selama ini konsumen itu bayar lebih dari 3 ribu. Bayar Kopaja 2 ribu, kemudian lima ratus sampai seribu dibayarkan pengamen sama pengemis. Hal ini harus disampaikan pada konsumen bagaimana mengalihkan kelebihan uang itu dari pengemis pada sopir dengan kenaikan tarif yang ekonomis," ujar Direktur Institut Studi Transportasi (Instrans) Darmaningtyas dengan mempertimbangkan pengamen dan pengemis tak akan bisa masuk ke Kopaja ber-AC itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut wawancara detikcom dengan Darmaningtyas, Selasa (2/8/2011):

Mengenai adanya Kopaja ber-AC ini akan ada 20 armada yang pertama akan diluncurkan, apakah akan bisa mengubah wajah transportasi di ibukota dengan sopir angkot yang tidak ugal-ugalan?

Kalau ugal-ugalan sama tidak itu hubungannya dengan sopirnya. Jadi sopirnya tidak boleh lagi sopir tembak. Kalau pernah naik Kopaja, ada sopir pokok, jalan tengah hari, setelah ngepas setoran, di tengah jalan sopir pokok limpahkan ke sopir tembakan.

Jadi sopir yang menjalankan Kopaja maupun Metromini mestinya sopir yang punya ikatan kerja dengan pihak pemilik kendaraan. Kasus-kasus di mana Kopaja atau Metromini menabrak (orang), sopirnya lari dan tidak ketemu, biasanya dijalankan sopir tembak atau sopir kocokan.

Jadi perlu memakai sistem seperti yang dipakai bus TransJakarta, sopirnya digaji?

Iya, pergantian sopir tembak atau kocokan harus diubah. Kalau Kopaja AC sopirnya tetap tembakan atau kocokan nggak akan mengubah perilaku kenyamanan pengguna.

Memang konsepnya sopir tidak perlu kejar setoran, buying the service, memberi pelayanan yang harus diberikan adalah layanan. Ada konsekuensinya kalau rugi, pemerintah berikan subsidi, subsidi pemeirintah itu berupa harga BBM yang lebih murah.

Bagaimana dengan tarifnya, apakah harus dinaikkan atau tetap saja?

Kopaja ini kan swasta ya, tarifnya harus ekonomis. Kalau misalnya tidak ekonomis itu tergantung, apa pemerintah mau memberinkan subsidi atau tidak, kalau tidak, tidak ada pengusaha yang mau.

Secara kalkulasi ekonomis itu menguntungkan kedua belah pihak, konsumen maupun operator. Angkutan umum kita sekarang ini menguntungkan konsumen, murah. Tapi tidak untungkan operator. Banyak angkot sebelumnya melakukan kanibalisasi spare part dari kendaraan yang tidak terpakai, berbahaya untuk keselamatan.

Saya kira kalau AC otomatis pintu tertutup ya, pengamen dan pengemis nggak bisa masuk. Nah kalau tarif Rp 3.000 tanpa ada pengamen dan pengemis, nggak jadi masalah buat konsumen. Sekarang tarifnya Rp 2.000 tapi pengamen dan pengemis hilir mudik, konsumen membayar lebih dari Rp 3.000, konsumen harus dididik. Memberi pengamen Rp 500 sampai Rp 1.000 nggak keberatan, tapi mengapa menambah untuk kenyamanan keberatan.

Apakah itu akan berhasil, mengingat sebagian konsumen Kopaja atau Metromini berasal dari kalangan menengah ke bawah sehingga sangat sensitif soal tarif?

Begini, di Yogyakarta saja yang biaya hidupnya lebih murah, UMR (Upah Minimum Regional) lebih murah dari di Jakarta, tarif bus kotanya saja Rp 2.500. Di Jakarta yang UMR jauh lebih tinggi, biaya hidup lebih tinggi malah tarifnya Rp 2.000, kan nggak benar.

(nwk/nrl)


Berita Terkait