Mustofa Nahrawardaya: Bom Cirebon Kloningan Aksi Sebelumnya

Mustofa Nahrawardaya: Bom Cirebon Kloningan Aksi Sebelumnya

- detikNews
Senin, 18 Apr 2011 13:09 WIB
Mustofa Nahrawardaya: Bom Cirebon Kloningan Aksi Sebelumnya
Jakarta - M Syarif (Sarip) hancur perutnya gara-gara melilitkan bom berdaya ledak rendah yang kemudian meledak di masjid kompleks Mapolresta Cirebon pada Jumat (15/4) lalu. Jamaah Islamiyah yang selama ini dituding sebagai pelaku teror bom di Indonesia belum tentu berada di belakang peristiwa ini. Bisa jadi bom Cirebon yang menewaskan pelaku ini hanya kloningan dari aksi sebelumnya.

"Pola dan bahan material yang dipakai dan apa dilakukan kelompok sebelumnya sudah bisa ditiru oleh pihak yang mengkloning. Saya duga ini kloning sebelumnya. Ini mudah sekali kalau mau meniru, lalu diklaim ini domain kelompok lama seperti JI atau Al Qaeda. Ini sengaja diciptakan untuk memfitnah dan memojokkan, bisa saja," kata Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Pusat Mustofa B Nahrawardaya.

Mustofa juga tercatat sebagai staf ahli DPR dan pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah. Berikut wawancara detikcom dengan pria kelahiran Klaten, 12 Juli 1975 yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Surabaya ini, Senin (18/4/2011):

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bom di Cirebon pada Jumat (15/4) lalu menurut Anda bisa dilakukan sendiri atau berkelompok dan bagian dari suatu jaringan?

Pola dan bahan material yang dipakai dan apa dilakukan kelompok sebelumnya sudah bisa ditiru oleh pihak yang mengkloning. Saya duga ini kloning sebelumnya. Ini mudah sekali kalau mau meniru, lalu diklaim ini domain kelompok lama seperti JI atau Al Qaeda. Ini sengaja diciptakan untuk memfitnah dan memojokkan, bisa saja.

Saya pernah berbincang dengan orang yang pernah mondok di Ngruki, tiba-tiba hilang dan tidak pulang. Saya curiga diculik dan di-brain wash, lalu ada indoktrinasi semacam NII atau pun JI, padahal bukan kelompok itu yang melakukan. Sangat mudah melakukan itu, tidak selalu mantan Afghanistan.

Mungkin M Syarif bisa saja tidak sadar bawa bom, karena ada orang lain yang mengendalikan bom yang dibawanya dengan semacam remote. M Syarif bisa saja tidak sadar karena berada dalam kondisi di bawah kesadaran. Saya curiga orang yang kehilangan anak, ini kerjaan intelijen asing dan mengkambinghitamkan kelompok Islam yang dianggap radikal.

Sengaja diciptakan kesan kalau ini dilakukan pelaku lama karena polanya sama dengan yang sebelumnya. Padahal kalau ambil buku di toko buku, dipelajari, ada apa saja dalam rangkaiannya, itu mudah saja ditiru dan dilakukan.

Anda menduga ini pekerjaan intelijen? Asing atau dalam negeri?

Ya saya kira ini lebih ke kerjaan intelijen. Mungkin saja asing, dan mungkin saja intelijen liar. Sengaja dimunculkan untuk membuat musuh bersama. Kalau intelijen, tidak ada masalah dengan nyawa. Tidak masalah jika harus menghilangkan nyawa sekalipun. Intelijen punya etika tidak mengaku dalam keadaan apa pun. Kalau harus membunuh tidak masalah yang penting tujuan tercapai.

Jika pelakunya intelijen asing, apa motivasinya?

Di Indonesia, dulu ketika presidennya dari kalangan non-militer, teroris ini dulu tidak begitu marak. Tapi ketika dari militer malah banyak dan sadis. Intelijen asing memanfaatkan ini agar masyarakat tidak percaya kepemimpinan militer. Selain itu juga dilakukan untuk memojokkan penganut Islam, karena mereka melihat ideologi Islam sangat kuat.

Dengan peristiwa begini, diharapkan takut pada Islam. Tapi sudah 10 tahun ada teror bom, orang Islam tetap saja dilihat tidak berubah. Karena itu, teror bom tetap diciptakan, sehingga di kalangan masyarakat saling membenci dan marah. Karena itu, masyakat harus hati-hati, jangan dilihat snap shot. Jangan terprovokasi.

Peristiwa bom Cirebon ini mungkin terulang?

Saya rasa bom Cirebon bukan yang terakhir. Ini pemanasan. Sebelumnya, kan ada bom buku yang sempat ramai, kemudian ketika ada orang hilang, ramai dibicarakan NII KW9. Saya lihat ini rangkaian dari suatu grand design yang berujung pada peristiwa besar seperti bom Marriott, sehingga bisa mengenai jantung umat Islam. Selama Ba'asyir belum divonis, akan terus ada pemfitnahan. Seolah ini merupakan wujud kemarahan kelompok pendukung Ba'asyir.

Bisa jadi ada bom lain lagi yang lebih besar, entah di tempat umum atau di mana. Karena yang sekarang ini masih terlalu kecil. Mungkin ada gong atau puncak seperti WTC. Saya menduga sedang dirancang bom yang efeknya menohok dan meluluhlantakkan umat Islam. Kalau bom sekarang ini sudah masuk ke lingkungan mapolres, bisa saja nanti masuk ke Mabes TNI atau Kantor Presiden.

Dalam video yang beberapa kali ditampilkan media televisi, terekam M Syarif dalam sejumlah aksi. Tampak dia ini seorang provokatif. Saya yakin setiap organisasi Islam telah disusupi, dan mungkin dia disusupkan dalam gerakan anti Ahmadiyah. Nah, ketika telah selesai aksinya, ada tindakan anarkis yang dulu pernah dia lakukan, lalu puncaknya dia melakukan bom bunuh diri. Bisa saja Syarif ini tidak sadar dimanfaatkan intelijen.

Biasanya, orang yang berasal dari ekonomi lemah sangat mudah dimanfaatkan kalangan ini dengan iming-iming imbalan. Apalagi dia sebelumnya menghilang selama 2 minggu. Bisa saja selama itu dia di-brain wash yang mengaku berasal dari kalangan kelompok  tertentu, lalu dia disuruh membawa sesuatu yang ternyata bom.

Jika ini merupakan satu keterkaitan, di bom buku tidak ada orang yang dikorbankan untuk meledak bersama bom. Kenapa ini harus ada orang yang dikorbankan?

Mereka memang perlu ada kambing hitam, dan orang bunuh diri dicari orang yang terkait dengan yang radikal. Ini sudah dipelajari betul. Si perekrut ini mencari siapa pemimpin demo yang paling keras dan radikal, lalu dicari alamatnya, dicari backgroundnya, sekolah di mana lalu apa pendidikannya. Atau dibalik ceritanya, si pelaku adalah mantan Ngruki, dia ini muda, miskin dan diculik. Yang menculik bilang saja kalau dirinya anak buah Ba'asyir, atau JI atau mana pun yang ngaku-ngaku. Mereka butuh orang yang dikambinghitamkan untuk berkorban sebagai bagian kloning.

Kalau ingin mengkambinghitamkan kelompok tertentu, mengapa memilih jenis bom low explosive dan diledakkan di masjid?

Pendanaan kelompok teroris kan katanya mulai menipis, tempat yang jadi sasaran bom masa lalu juga sudah dijaga ketat. Lalu intelijen dalam negeri katanya ketat. Agar prasangka itu betul, maka dipilihlah masjid sebagai target, supaya paradigma dugaan masa lalu kacau balau.

Ada yang bilang sasarannya adalah kapolres dan sasarannya itu adalah polisi. Yang bisa ditarik, otak peledakan ingin mengarahkan bahwa kelompok masa lalu diharapkan memilih target baru. Diciptakan anggapan bahwa aksi semacam itu tidak pandang bulu, dan polisi pun menjadi korban.

Ini hanya pengalihan, di mana target pengeboman tidak hanya mal, orang Barat. Padahal ini pelakukanya bukan teroris asli, melainkan kelompok sempalan intelijen  atau intelijen liar.

Mengapa Anda yakin ini bukan dilakukan oleh kelompok lama?

Saya yakin kelompok teroris sudah nggak ada. Densus itu dididik Amerika, mereka canggih dan hebat sekali. Kalau ada kelompok lama, saya pikir nggak mungkin karena Densus kita lebih pandai. Kalaupun masih ada, itu berarti Densus kita buruk. Saya lebih yakin ini kelompok baru yang didalangi intelijen.

Wajah pelaku yang masih utuh, itu bagian dari upaya meninggalkan jejak?

Ya. Ketika Bom Bali I jejak yang ditinggalkan adalah saksi, di mana ada yang masih hidup. Ketika Bom Bali II di Jimbaran, lalu Marriott I dan II, mereka memudahkan masyarakat dengan meninggalkan jejak kepala.

Di bom Jimbaran, kepala dikenali. Lalu di Bom Marriott I, mobil hancur di lantai 1 tapi kepalanya ada di lantai 4. Di Marriott II juga ditemukan kepalanya. Dan hebatnya di hotel sekelas Marriott, ada bom yang belum meledak di lantai 18. Saya kira ini sangat tidak mungkin, rekayasa. Karena ada kepala utuh, maka tetangga mengenali, keluarga mengenali, sehingga polisi mudah melacak. Ini sangat kasar permainannya. Sengaja dilakukan untuk memfitnah.

(vit/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini