Yon Machmudi: Senjata & Serangan Militer ke Libya Harus Selalu Dikaji

Yon Machmudi: Senjata & Serangan Militer ke Libya Harus Selalu Dikaji

- detikNews
Selasa, 22 Mar 2011 12:35 WIB
Yon Machmudi: Senjata & Serangan Militer ke Libya Harus Selalu Dikaji
Jakarta - Sejak 19 Maret lalu, pasukan sekutu membombardir Libya. Serangan ini berdasar pada resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB No 1973. Meski demikian senjata dan serangan militer terhadap Libya harus selalu dikaji untuk meminimalisir korban sipil.

"Ini harus selalu dikaji. Senjata dan serangan harus sesedikit mungkin berdampak pada korban massal. Kalau untuk menghancurkan eskalasi militer, harus yang cocok untuk itu. Sejauh ini saya tidak tahu, senjata yang dimiliki Khadafi seperti apa. Belum diekspose senjatanya apa," ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi.

Berikut ini wawancara detikcom dengan alumnus Australian National University ini, Selasa (22/3/2011):

Sekutu menembakkan lebih dari 100 rudal Tomahawk dan menggunakan jet tempur untuk menyerang Libya. Ini akan seperti apa?

Sekarang ini kondisi Libya sudah semakin kompleks sekali. Pertama, Khadafi itu kan habis-habisan mempertahankan posisinya. Kedua, dunia internasional tidak sabar dengan perkembangan di Libya. Ini dipengaruhi dengan kondisi di Libya sendiri, di mana rakyat tidak bermain di tataran demonstrasi. Rakyat dipersenjatai, sehingga dengan mudah Khadafi mengklaim memerangi pemberontak. Apalagi dia pernah mengatakan ada Al Qaeda di dalam gerakan rakyat.

Ini berbeda dengan di Mesir yang merupakan demonstrasi murni. Di Libya ini menggunakan kekuatan fisik dan senjata. Rakyat menggunakan senjata dan pemerintah juga. Lalu dunia internasional masuk dengan tekanan militer yang dilakukan kelompok koalisi (sekutu).

Khadafi akan mempertahankan posisinya dan melawan pasukan koalisi. Kondisinya bisa jadi seperti di Irak, serangan dilakukan hingga Khadafi menyerahkan kekuasaan yang dia nikmati selama 42 tahun.

Ada yang menuding serangan ini dilakukan karena Barat hanya tertarik dengan kepentingan minyak?

Sebenarnya negara Barat, terutama AS di Timur Tengah, tindakannya tidak akan lepas melindungi kepentingan mereka untuk mendapat akses minyak. Libya selama ini telah mengekspor minyak ke Eropa. Kalau bisa masuk lebih dalam dan kondisi politiknya mengizinkan, maka kemudian kepentingan mereka (Barat) lebih aman, daripada saat Khadafi bebas berkuasa.

Kita bisa melihat kepentingan Barat, berusaha mencuri kesempatan itu, sehingga bisa masuk kembali dengan posisi lebih kuat. Termasuk ada keinginan mereka agar kebijakan yang dihasilkan pemerintahan yang baru nantinya lebih pro dengan Barat.

Khadafi masih bisa bertahan di Libya karena selama ini dirinya mempersenjatai rakyatnya, sehingga hal itu menguntungkan dalam situasi perang?


Kondisi di Libya sebenarnya ada segementasi. Di luar Tripoli ada daerah yang sudah dikuasi anti-Khadafi. Sedangkan pendukung Khadafi terkonsentrasi di Tripoli. Dan kelompok dari Khadafi juga cukup besar. Ini bisa digerakkan untuk jadi tameng.

Tapi kalau rakyat yang awalnya menentang lalu ikut melawan pasukan koalisi, kemungkinannya kecil. Mereka juga berharap pihak asing masuk untuk membebaskan Libya dari khadafi yang cukup kuat.

Di negara yang otoriter, segala keputusan berada di dalam kendali Khadafi. Kemungkinan adanya kekuatan oposisi tidak berkembang. Tidak ada oposisi sipil yang kuat. Khadafi pun leluasa mengandalkan kekuatan militer yang ada.

Agar tidak berlarut-larut, perlu penyelesaian seperti apa?

Tentu harus berhati-hati, menghindari sekecil mungkin korban dari sipil. Target harus terukur, jadi legitimasi tidak turun karena berperang di Libya. Kalau tidak malah menimbulkan simpati dari sisi sipil. Serangan harus sekecil mungkin menghindari sipil.

Jangan seperti Irak, yang kemudian jadi melawan kebijakan PBB. Kasus Libya berbeda dengan Irak, karena komunitas masyarakat internasional menolak dan menentang Khadafi. Mereka ingin agar Khadafi segera turun sehingga dapat memberikan politik yang lebih baik di negara itu.

Ini harus selalu dikaji. Senjata dan serangan harus sesedikit mungkin berdampak pada korban massal. Kalau untuk menghancurkan eskalasi militer, harus yang cocok untuk itu. Sejauh ini saya tidak tahu, senjata yang dimiliki Khadafi seperti apa. Belum dieksopese senjatanya apa.

Sudah ada negara Arab yang bergabung dengan pasukan koalisi dan sikap Liga Arab yang semula tidak menginginkan serangan militer dari negara Barat, kini menghormati resolusi PBB. Pendapat Anda?

Kondoisi Khadafi semakin terjepit. Eropa dan Barat menentang Khadafi. Di dunia Arab sendiri, posisi Khadafi sejak dulu memang tidak disukai. Pemimpin Arab tentu menginginkan pula perubahan politik di Libya. Libya itu merupakan negara yang kekuatan sosialisnya kuat. Dan ini yang jadi musuh kelompok Amerika.

Khadafi akan berapa lama bertahan?

Ini tergantung sejuah mana kekuatan Khadafi. Dikhawatirkan dia akan menggunakan rakyatnya untuk melawan pasukan koalisi. Kalau begini bisa semakin parah. Ini yang mengundang persoalan karena terkait dengan hak asasi manusia.

Indonesia sendiri harus bagaimana? Kemarin Menlu sudah menyampaikan Indonesia mendukung hak warga Libya menentukan nasib sendiri. Namun, di sisi lain, Marty juga mengatakan resolusi 1973 memberi jalan penyelesaian (militer) asalkan tepat?


Indonesia harus mulai menunjukkan kepemimpinannya, terkait dengan dunia Islam dan Timur Tengah. Ini harus dimainkan. Pemerintah kita perlu melakukan tekanan atau imbau Khadafi untuk memperhatikan nasib rakyat. Jangan sampai Khadafi terus menerus mengorbankan rakyat untuk kepentingannya sendiri.

Tekanan Indonesia, bisa melalui ASEAN. Kepemimpinan Indonesia di ASEAN diperlukan untuk bersikap dan bertindak lebih tegas. DK PBB sendiri juga harus memantau terus dan mengawasi agar dalam menyerang ke Libya tidak sampai mengorbankan rakyat sipil.

(vit/fay)


Berita Terkait