Menurut Direktur Eksekutif Institute for Defence Security dan Peace Studies (IDSPS) Mufti Makarim, hal-hal 'ajaib' itu muncul lantaran cara berpolitik di level masyarakat dan negara yang kasar. Di berbagai ranah, pemerintah 'mengajarkan' hal buruk yang diadopsi masyarakat.
"Cara berpolitik kita yang kasar di level masyarakat dan negara memunculkan hal-hal 'ajaib' yang tinggi. Ketika negara mendiamkan kekerasan di masyarakat maka kekerasan akan menjadi tren," ujar Mufti.
Berikut ini wawancara detikcom dengan mantan Sekjen Federasi Kontras ini, Rabu (16/3/2011):
Menurut analisa Anda, siapa pengirim 3 bom buku di Jakarta pada Selasa (15/3) kemarin?
Saya kira semua pihak punya potensi. Pertama dari sisi politik, sedang panas isu reshuffle, The Age, dan lainnya. Lalu ada pihak yang merasa terancam dengan gejolak politik yang ada kemudian memanfaatkannya untuk bermain. Kita lihat dulu sejauh mana di lapangan. Apakah temuan polisi mengarah ke kelompok atau individu.
Polisi sebelumnya telah menangkap 400 orang yang terlibat jaringan teroris. Saya kira polisi tahu bagaimana pola bom Poso, bom Ambon. Lalu kalau melihat bom ini, ada indikasi ke pola mana. Dalam bayangan saya, banyak pihak boleh bermain. Motifnya mungkin kriminal, politik, teror. Motif baru bisa diidentifikasi kalau menemukan hubungan antarperistiwa. Atau mungkin juga tidak ada hubungan.
Ketiga bom buku tersebut dikirim oleh pihak yang sama?
Saya yakin, sumbernya satu. Ketika bom ditujukan ke Ulil, saya kira urusannya dengan kampanye pluralistik. Lalu ketika dikirimkan ke Badan Narkotika Nasional, ini ada hubungan dengan jaringan narkoba yang dibongkar. Nah yang satu lagi yang dikirim Japto (Ketua Umum Partai Patriot Japto Soerjosoemarno) ini motifnya apa. Rangkaian pesan yang saya tangkap, pluralisme dan narkoba. Lalu yang satunya lagi, mungkin konteks kriminal atau apa.
Terdesain dengan baik?
Terdesain memang. Pertanyaan selanjutnya apakah ini bagian operasi besar atau kecil? Kalau operasi besar, di mana semua bom harus meledak, berarti ada yang tidak tercapai karena yang meledak hanya satu. Kalau tujuannya tidak harus meledak, ya berarti meneror saja.
Dari situ kelihatan, bom kecil pun bisa jadi teror jika masuk ke mall. Efek teror itu relatif. Dan setiap teror bom biasanya punya style. Kalau yang seperti ini style-nya siapa?
Beberapa kali Detasemen Khusus 88 Antiteror sudah menangani kasus teror bom. Densus 88 pasti tahu benar style bom dr Azahari, yang di Poso, dan lainnya. Kalau misalnya ini style baru, apakah pelakunya kelompok tertentu yang biasa beroperasi atau di luar itu.
Ditujukan ke 3 titik itu pasti punya nilai. Ada satu motif di luar bomnya itu sendiri, apa itu news-nya atau yang lain. Ini sifatnya spekulasi. Saya masih baca, apa ini karena politik memanas lalu ada yang memanfaatkan momentum kelemahan. Atau ada yang tidak suka dengan Ulil. Kemungkinan itu bisa disampaikan polisi.
Semua kemungkinan itu ada. Tinggal diteliti, dicocokkan dengan bukti dan fakta mana yang lebih kuat. Semua kelompok bisa melakukan aksi begini.
Teror bom kepada aktivis sudah ada sejak dulu kan?
Iya. Dulu rumah Munir (penggiat HAM, Munir) di Malang pernah dilempar bom. Kantor Kontras dulu juga pernah dilempari petasan besar. Lalu ada pula kami dapat teror lewat telepon, serangan fisik ke kantor Kontras. Kalau nggak suka dengan aktivitas seseorang atau organisasi, bisa terbuka main teror.
Yang terjadi hari ini tidak berbeda dengan zaman Gus Dur saat politik panas. Ada saja pihak yang menggunakan cara teror. Sejauh yang saya tahu, tidak ada pelaku yang tertangkap.
Sulit untuk mengungkap teror dengan cara begini?
Sulit tidak sulit itu tergantung pada political will dan capacity. Polisi sebaiknya mampu menggunakan metode yang tidak konvensional, harus menggunakan pendekatan yang lebih maju, pasti bisa. Political will ini penting.
Mengapa kekerasan dan teror selalu ada di masyarakat kita?
Cara berpolitik kita yang kasar di level masyarakat dan negara memunculkan hal-hal 'ajaib' yang tinggi. Ketika negara mendiamkan kekerasan di masyarakat maka kekerasan akan menjadi tren. Negara harus tegas agar masyakat juga tidak bingung melihat identitas negara.
Saya tertarik dengan logika yang dibangun salah satu surat kabar hari ini, di mana di negeri ini sudah terbolak-balik, yang dibela ditinggal. Dalam politik makro terjadi begini, yang mendapat tempat itu dilawan, yang bagian dari masalah jadi kekuatan dominan. Ada ketidakseimbangan. Di level masyarakat terjadi seperti itu, sehingga pasti ada upaya mencari keseimbangan, termasuk penggunaan kekerasan.
Ada pelanggaran yang kemudian dicontoh oleh masyarakat?
Kita bisa lihat di Bogor, misalnya. GKI Taman Yasmin Bogor sudah memperoleh SK Wali Kota Bogor tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tapi kemudian pembekuan IMB oleh dinas di pemerintah setempat. Lalu ada penyegelan dan permintaan untuk tidak melakukan kegiatan ibadah.
Kalau kayak begini seperti diajarkan untuk melawan hukum. Nanti ada orang yang bilang 'hukum kan cuma kertas' jadi boleh dilanggar. Banyak yang harus dibenahi.
Pelajarannya, jangan sampai yang di atas melanggar konstitusi sehingga ditiru oleh yang di bawah. Semuanya harus tunduk pada konstitusi tanpa terkecuali.
Perlu profesionalitas dari elemen negara dan penegak hukum juga. Kalau respek terhadap penegak hukum tidak ada, akan memunculkan sinisme dari publik. Butuh satu komitmen kuat terhadap hukum dan nilai. Selain itu juga butuh perilaku lebih beradab dari semua elemen.
(vit/fay)










































