Daniel Sparringa: Surat SBY pada Partai Pilihan Terbaik dan Rasional

Daniel Sparringa: Surat SBY pada Partai Pilihan Terbaik dan Rasional

- detikNews
Rabu, 02 Mar 2011 19:25 WIB
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegur keras anggota partai koalisi
yang mbalelo. Jika tetap berseberangan, Presiden mengancam akan memberikan
sanksi. Apakah ini langkah awal reshuffle?

Menurut Staf Khusus Presiden Bidang Politik Daniel Sparingga, Presiden akan
mengirimkan pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada para pimpinan parpol yang
mbalelo tersebut.

"Surat menjadi pilihan terbaik karena tidak menyertakan perasaan, emosi. Dan lebih penting dari semua itu adalah semuanya recorded dan tersimpan, dan saya kira itu memberi keleluasaan kepada Presiden untuk mengajukan pertanyaan mengenai komitmen itu," ujar Daniel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut wawancara wartawan dengan Daniel Sparringa di Gedung Binagraha, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (2/3/2011):

Tentang suratΒ  ke parpol yang mbalelo, jadi dikirimkan ke anggota koalisi?

Presiden memang dalam pernyataan kemarin, secara eksplisit bahwa dalam satu-dua
hari ini akan melakukan komunikasi secara maraton dan intensif. Dan, yang paling
penting dari pernyataan itu adalah pesan pada publik bahwa Presiden, ya
berkomunikasi dan saya tidak akan terkejut kalau bentuknya tidak hanya formal
tapi tertulis.

Dan itu lebih masuk akal dibayangkan, disampaikan dalam bentuk surat. Surat
menjadi pilihan terbaik karena tidak menyertakan perasaan, emosi. Dan, lebih penting dari semua itu adalah semuanya recorded dan tersimpan, dan saya kira itu memberi keleluasaan kepada presiden untuk mengajukan pertanyaan mengenai komitmen itu.

Dengan pertanyaan yang sangat sederhana dan jawabannya, harapannya akan sederhana pula, sesederhana pertanyaan itu. Yaitu apakah masih akan tetap tinggal sebagai bagian penting dari koalisi atau meninggalkannya. Pertanyaan saya kira kurang lebih seperti itu.

Kapan surat itu akan dikirim?

Saya tidak bisa membuat lebih spesifik dari itu, saya kira akan sangat segera.

Apakah jawabannya dalam bentuk surat juga. Bukan lebih baik mengundang datang (parpol koalisi)?

Ya, kenapa surat menjadi pilihan terbaik karena ia dapat menyelesaikan semua ekspresi yang tidak perlu. Dan, juga dengan niat yang tulus, bahwa surat itu sendiri dapat juga menyertakan apa yang disebut dengan tidak saja rasional tapi juga bermartabat.

Saya kira semua anggota partai menjadi bagian penting dan berkomitmen membangun pemerintahan yang efektif melalui koalisi itu, maka surat ini juga menjadikannya sebagai referensi. Jadi ini semacam pertanyaan ulang dan mungkin saja sekaligus satu pertanyaan final mengenai situasi sekarang ini.

Berapa lama jawaban yang diharapkan?

Tidak tahu.

Tidakkah lebih baik bertemu muka antara Presiden dengan para pimpinan parpol?

Saya kira tidak dalam format yang dipilih. Surat merupakan pilihan yang lebih
bermartabat.

Pada saat pidato presiden kemarin, kelihatannyaΒ  presiden sangat kecewa kepada partai politik yang tidak komitmen. Pada saat mengirim surat ini, kelihatannya memberikan kesempatan kembali kepada parpol?

Pertama, apa memang terlihat kecewa, terlihat gusar. Yang saya tangkap adalah
Presiden mencoba berbahasa terang, sederhana tapi publik mengerti. Karena
pernyataan kemarin memang pertama-tama ditujukan kepada rakyat Indonesia, di
antara mereka yang memilih Presiden SBY tapi pesannya adalah akan ada komunikasi
penting dengan anggota partai koalisi.

Surat itu, kan bertele-tele. Kenapa tidak langsung mengundang saja pimpinan parpol?

Saya punya pandangan berbeda mengenai hal itu.

Apakah isi surat berbeda ke masing-masing pimpinan parpol?

Saya kira pesan tunggalnya sama: menanyakan kembali komitmen dan apakah mereka untuk tinggal atau pergi. Nggak ada jawaban abu-abu. Saya kira, ada kata yang tidak mudah dimengerti oleh mereka yang tidak berbahasa jawa yaitu ditanting. Ditanyakan dengan bahasa yang lugas, saya kira menjadi spirit surat itu.

Apakah benar ada pertemuan antara Presiden dengan beberapa petinggi parpol
koalisi di Wisma Negara?


Mungkin. Tapi saya tidak mengikuti jadwal Presiden.

Hatta Rajasa bertemu Ibu Megawati, apakah itu utusan dari Istana, Presiden?

Saya membacanya seperti Anda dari media. Jadi, saya juga punya kesan yang sama.
Pasti menarik.

Tadi, Anda mengatakan, semacam meminta kepastian dari peserta koalisi? Apakah tidak akan berulang lagi pertanyaan-pertanyaan yang lain?

Saya kira tidak. Ada satu yang sangat mendesak. Dan kesegeraan yang mendesak
itu, ada di depan kita. Yaitu pemerintah ini usianya tinggal 3,5 tahun. Kalau
mau bicara lebih terang, tinggal 2,5 tahun.

Karena satu tahun akan terpakai untuk persiapan pemilu. Dan ini waktu emas, dan Presiden SBY dan Pak Boediono, saya kira tidak bisa membayar lebih mahal dari 1,5 tahun pertama ini. Mereka ingin memastikan ada pemerintahan yang lebih efektif dan itu mungkin terjadi di antaranya kalau koalisi ini bisa diandalkan.

Apakah ini bisa dikatakan sebagai awal dari reshuffle kabinet?

Saya kira reshuffle hanya implikasi sederhana dari perubahan konfigurasi bila
itu terjadi dan kompetitif. Dan itu percakapan yang mungkin menarik tetapi
hanyalah akibat dari apa yang terjadi dalam kerangka komunikasi.
(anw/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads