Hariyadi Wirawan: Bisa Jadi Retorika dan Aksi AS Soal Mesir Beda

Hariyadi Wirawan: Bisa Jadi Retorika dan Aksi AS Soal Mesir Beda

- detikNews
Jumat, 11 Feb 2011 14:05 WIB
Hariyadi Wirawan: Bisa Jadi Retorika dan Aksi AS Soal Mesir Beda
Jakarta - AS telah menyerukan agar transisi damai dilakukan segera di Mesir. Namun Hosni Mubarak sepertinya tak terpengaruh. Dia masih kukuh bertengger di kursi presidennya.

Sulit dipercaya jika Mubarak tidak mendengar apa yang dikatakan AS. Maklum, AS dan Mesir memiliki hubungan yang mesra. Mesir merupakan sekutu kuat AS di kawasan Timur Tengah. Bisa jadi diam-diam AS mengamini tarik ulur yang dilakukan Mubarak.

"Bisa saja antara retorika Presiden Barack Obama dengan aksi AS berbeda," kata pengamat hubungan internasional Hariyadi Wirawan, Jumat (11/2/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini wawancara detikcom dengan Dekan Jurusan Hubungan Internasional UI yang pernah belajar di Universitas Jawaharlal Nehru, India, ini:

Tuntutan yang disuarakan rakyat Mesir tidak didengar Mubarak. Apakah upaya revolusi mereka jadi sia-sia?

Apa yang tengah terjadi sekarang menunjukkan kalau Mesir itu adalah negara yang sangat penting, bukan saja di antara negara Arab tapi juga geostrategi negeri-negeri besar. Mesir adalah negara yang pernah menandatangani perjanjian damai dengan Israel.

Kedudukan Mesir sangat vital bagi Barat karena kedekatannya dengan AS dan sejumlah negara Eropa. Apabila pergantian kekuasaan di Mesir terjadi secara serampangan menurut AS, artinya pemerintah sekarang digantikan siapa saja yang tidak sejalan dengan kepentingan Barat maka akan sulit dilakukan.

Jadi pasti ada kepentingan politik yang membuat Mubarak masih bertahan. Pertama karena kedekatan Mubarak dengan Barat. Kedua karena Mubarak adalah pemimpin yang mendukung arsitektur politik Timur Tengah. Jadi ketika ada negara yang anti Barat, berdiri Mesir sebagai salah satu yang pro Barat. Apalagi terkait dengan Israel-Palestina.

Ketiga, ada kepentingan AS di Timur Tengah, termasuk keseimbangan geostrategis dan masalah ekonomi. Ini terkait pula dengan energi karena pasokan energi AS itu dianggap banyak diperoleh dari Timur Tengah. Keamanan supply itu sangat tergantung negara yang kuat dan pro Barat. Karena ini, Mesir jadi begitu penting. Bisa saja antara retorika Presiden Barack Obama dengan aksi AS berbeda. Meskipun AS meminta transisi damai dalam retorikanya, namun aksinya tidak demikian.

Karena AS juga tengah mencari pengganti Mubarak?

Walaupun Obama meminta agar segera transisi damai, yang artinya kan Mubarak mundur saja, tapi saya curiga AS belum menemukan pengganti yang pas. Orang banyak bilang kalau Omar Suleiman yang akan dinaikkan. Tapi rasanya AS masih terlalu belum yakin Suleiman gantikan Mubarak. Itu yang paling utama. Kalau sudah lama temukan calon, Mubrak telah lama mental.

Mengapa tentara Mesir tidak mengambil alih pemerintahan?


AS punya pengaruh di tentara Mesir. Dalam keadaan amburadul, militer tidak melakukan kudeta, ini terlihat karena mereka menjaga kesetiaan pada Mubarak. Banyak perwira tinggi lulusan AS. Sejauh militer tidak melakukan apa pun maka tidak akan ada yang berubah.

Militer Mesir juga terpecah. Ada yang bertekad melindungi simbol-simbol negara sampai waktu yang ditentukan. Nah, kita lihat saja siapa yang masih kuat. Militer mesir masih cukup loyal pada Mubarak. Mereka tampaknya setuju ada skenario Mubarak akan bertahan hingga September 2011 dibanding penjatuhan.

AS juga masih melihat seberapa besar dukungan Ikhwanul Muslimin terhadap tokoh oposisi yang menonjol. Ada yang bilang ElBaradei kuat untuk menjadi presiden. Namun dia tidak punya pendukung di akar rumput. Nanti kalau naik jadi pemimpin, dikhawatirkan dia akan dibajak kelompok lain.

Masih banyak petinggi militer Mesir yang berkepentingan dengan bertahannya Mubarak?


Militer sekarang saya lihat terpecah. Jadi kapan pergantian dilakukan, bagaimana itu dilakukan juga terpecah. Tentara juga tidak ingin dianggap melindungi rezim buruk.

Suleiman yang juga mantan tentara sepertinya merasa pergantian tergesa-gesa membawa malapetaka. Situasi itu bisa membuat Mesir seperti Iran. Kalau gagal, maka kesempatan akan hilang semua.

AS ingin pastikan Suleiman bisa bertahan sebagai pemimpin. Sementara itu, oposisi tidak percaya pada Suleiman karena dianggap boneka (AS). Ada teori yang katakan elemen pro Mubarak mau pastikan tidak ada tuntutan tambahan dari masyarakat, misal minta diadili atas dugaan korupsi, pelanggaran HAM.

Karena biasanya kalau pemerintahan turun, ada tuntutan-tuntutan seperti itu. Petinggi militer yang terlibat pada korupsi atau pun pelanggaran HAM tentunya ingin mempertahankan diri. Mereka tidak mau diseret ke sana ke mari.

Mereka pasti maunya kebenaran dan rekonsiliasi, akui bersalah tapi lantas diampuni. Hanya saja Ikhwanul Muslimin kan bertekad mencari pihak-pihak yang bertanggung jawab. Yang ditakutkan AS, Ikhwanul Muslimin akan membalik kebijakan Mesir yang di bawah Anwar Sadat dan Hosni Mubarak, termasuk perjanjian damai dengan Israel.

Jika Suleiman menjadi transitional government, maka AS akan memastikan syarat demokrasi ala mereka di Mesir tetap berjalan. AS juga ingin memastikan reformasi di Mesir akan menjaga capaian itu. Bila tidak tentu akan menyulitkan.

AS menegaskan akan membantu transisi di Mesir merupakan upaya mengamankan kepentinganya?


Jelas ada agenda dan kepentingan. Ini tentu agar kepentingannya tidak terganggu. AS tentu ingin mengimplementasikan kaidah demokrasi ala mereka dan memastikan kepentingan material (aset kekayaan) selamat dan non materal (agenda politik) selamat.

Kalau misalnya Iran berubah menjadi Republik Islam seperti Iran setelah revolusi, tentu AS akan kehilangan teman. Di Iran dulu, saat berada di bawah Syeh Reza Pahlevi sangat pro AS. Pahlevi lalu tumbang, dan naiklah Ayatullah Khomaini. Naiknya Khomaini, hubungan baik Iran-AS lalu bubar.

Mesir penting bagi AS dan negara Barat lainnya karena memiliki Terusan Suez. Kalau Mesir sampai dipegang Ikhwanul Muslimin dan Terusan Suez dipegang mereka tentu akan ada krisis baru. Ini akan membuat AS dan Israel merugi.

Jangan sampai terjadi juga, ketika AS mendukung pemilu demokratis di Palestina, tapi ketika Hamas menang, AS marah.

Penunjukan Omar Suleiman sebagai wapres juga bagian dari tarik ulur yang dilakukan Mubarak?

AS akan berusaha keras prinsip demokrasi bisa dihormati. Mubarak mundur itu pasti, tinggal kapan lalu what next, what to be done. AS ingin Mesir tidak boleh jatuh ke kalangan yang keras terhadap mereka. Mereka juga berharap, pemimpin Mesir selanjutnya tetap mendukung kebijakan pemerintahan sebelumnya terkait skenario keamanan di kawasan Timur Tengah.

AS tidak mau apa yang terjadi di Iran terjadi juga di Mesir. AS tampaknya ingin mengulur waktu dengan keberadaan (wapres) Omar Suleiman. Saya rasa Suleiman diminta untuk memastikan oposisi yang ikut pemilu adalah yang setuju demokrasi ala mereka.

Dicurigai yang berada di balik demonstrasi besar menuntut Mubarak turun ini adalah Iran. Karena itu AS takut. Apalagi ada kejadian di Tunisia, AS juga belajar. Kalau revolusi seperti yang diinginkan rakyat terjadi lantas yang naik di pemerintahan adalah oposisi yang keras dengan AS maka bertambah dua pemerintahan yang anti AS. Aroma anti AS di Timur Tengah akan semakin tercium.

Tentunya oposisi menyadari benar skenario tarik ulur ini?

Saya yakin sekarang ini tengah terjadi pembicaraan-pembicaraan tingkat tinggi antara berbagai pihak di Mesir, yakni pemerintah Mesir termasuk militer, kalangan oposisi dan AS.

Mubarak berupaya bertahan hingga September. Selama itu AS bisa bermain dalam Pemilu. Kalau oposisi menyepakati dan menandatangani kesepakatan siap menang dan siap kalah, lalu kemudian Suleiman menang, repot kan. AS senang Suleiman akan mengikuti garisnya Mubarak. Oposisi tahu itu. Mereka ingin ada lembaran baru. Ini permainan tinggi yang luar biasa. Saya yakin, pembicaraan tingkat tinggi berlangsung dengan Ikhawanul Muslimin.

Pidato Mubarak semalam kita pikir adalah pidato pengunduran dirinya,tapi ternyata tidak. Saat ini Mesir lagi dielus-elus. Apalagi banyak pejabat militer di Mesir yang merupakan didikan AS, bisa jadi akan bersimpati ke AS sehingga tidak masalah dengan tarik ulur ini.

(vit/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads