Hal ini disampaikan Dubes Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh dalam perbincangan dengan detikcom di Kedubes Iran, Jl HOS Cokroaminoto, Jakarta, Rabu (9/2/2011). Menurut dia, apa yang terjadi di Timur Tengah adalah awal dari proses demokratisasi.
"Saatnya yang ditindas menang atas yang menindas," kata Farazandeh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana kondisi hubungan Indonesia dengan Iran?
Hubungan Indonesia dan Iran terus berkembang sejak revolusi Iran dan terus tumbuh. Banyak pemahaman satu sama lain dan kebersamaan yang dibangun karena basis ideologi dan sifat rakyatnya.
2 Negara ini hubungannya sangat baik, secara bilateral maupun internasional. Kita sama-sama anggota Non Blok dan kami sangat menghargai semangat Non Blok.
Hubungan perekonomian kita berkembang. Neraca perdagangan kedua negara mencapai US$ 1 miliar dan potensi ini bisa terus dikembangkan kapabilitasnya. Ada joint venture antara pihak Indonesia dan Iran dan banyak hal yang bisa dieksplor.
Nanti rencananya ada delegasi perdagangan ke Iran. Pihak swasta dari Indonesia akan bertemu dengan pihak dari Iran.
Bagaimana hubungan politik Indonesia dan Iran sekarang?
Kami menikmati hubungan bilateral Indonesia dan Iran. Kita saling mendukung di dalam forum internasional. Di Forum PBB kita juga saling mendukung. Kami berharap lebih banyak pembangunan perekonomian untuk meningkatkan kesejahteraan.
Bagaimana anda melihat Indonesia terhadap situasi politik internasional?
Dari pemahaman saya dari masyarakat anda, saya juga baru di negara ini, ada semangat tidak memihak dari orang Indonesia. Kalian juga punya pemikiran yang jelas soal kondisi internasional, tahu siapa pemain besar dalam politik internasional. Punya latar penjajahan kolonial yang kuat, kalian juga sudah tahu kalau pemikiran itu bisa disetir dan ada yang namanya mesin propaganda.
Indonesia adalah negara besar, demokratis dan berkembang setiap hari. Ideologi Pancasila jadi pilar bangsa kalian dengan nilai persatuan dan kemerdekaan.
Iran melihat bagaimana terhadap sikap Indonesia soal isu Timur Tengah?
Sikap Indonesia soal Timur Tengah sudah jelas. Sikap politisnya soal Palestina juga sudah jelas. Soal masalah lain juga jelas. Indonesia telah memainkan perannya.
Lantas bagaimana Anda melihat situasi Timur Tengah sekarang, terutama Mesir?
Imam Khumaini Rahmatullah pernah bilang, ini adalah abad kemenangan yang ditindas terhadap yang menindas. Ini juga waktunya kebangkitan Islam. Seperti juga Indonesia, dari Perang Dunia I, Perang Dunia II, lalu Indonesia merdeka dan menyebarkan kebangkitan ini ke seluruh negara.
Selama ini (di Timur Tengah), mesin propaganda bekerja, uang telah dibayar dan otot militer telah dikencangkan. Rakyat selama ini menunggu, lalu mereka bangkit dan menuntut haknya. Cepat atau lambat mereka akan meraih apa yang menjadi keinginan mereka. Mungkin butuh waktu, tapi nanti mereka meraihnya.
Anda percaya yang terjadi di Mesir akan seperti Revolusi Iran?
Saya belum tahu akan seperti apa hasilnya. Ini tergantung rakyat Mesir memutuskan dan meraihnya.
Sepengetahuan Anda, sepenting apakah Mesir untuk AS dan Israel?
Coba anda pikir, apakah rakyat Mesir sebenarnya mau berteman dengan AS? Indonesia mungkin jauh dari Timur Tengah, kan kalian nggak punya akses ke Gaza. Orang Palestina kan menggunakan terowongan untuk memasukan barang-barang dari Mesir ke Gaza. Jadi situasinya sangat berbeda di Mesir.
Saya percaya orang Mesir akan menentukan nasibnya sendiri dan mereka sedang berusaha meraihnya. Tapi AS dan Israel ingin status quo bertahan di Mesir. Tapi rakyat Mesir melihat situasinya dan mereka ingin sesuatu yang berbeda. Keinginan rakyat Mesir kontras dengan kekuatan hegemoni di sana.
Revolusi Islam adalah satu-satunya revolusi Islam di dunia setelah era Nabi Muhammad. Revolusi Islam adalah gerakan berkelanjutan dari rakyat Iran. Setelah 32 tahun, semua berusaha menghentikan Iran, semua dikaitkan dengan isu fundamentalisme. Terutama setelah peristiwa 11 September sampai dengan Guantanamo dan Abu Gharaib.
Revolusi Iran adalah pesan 32 tahun lalu oleh orang Iran. Ada sebuah kerajaan yang didukung AS, menjadi polisi untuk kawasan Timur Tengah, lokasinya strategis di Timur Tengah, AS bilang tempat yang damai. Begitu revolusi, semuanya habis. Ini adalah keputusan rakyat.
Sekarang, kita dihukum AS atas apa yang kita lakukan. Semua tuduhan ditujukan terhadap Iran. Kami bangsa berbudaya, religius, bangsa cinta dan puisi. Sekarang kami dibilang yang paling buruk.
Siapa kira-kira yang akan menjadi pemimpin di Mesir kalau Hosni Mubarak jatuh? Wapres Omar Suleiman atau oposisi El Baradei?
Saya pikir kita harus wait and see. Ini kan cuma bagian awalnya. Iran juga revolusinya kan diawalai dari Juni 1973 saat Imam Khumaini berpidato, lalu menjadi gerakan di seluruh Iran. Semua orang bangkit. Termasuk juga tentara, tanpa pertempuran dan pembunuhan, tentara lepas baju dan mereka pulang ke rumah.
Lalu Saddam Hussein menjadi boneka AS dan memerangi kita, membom kita. Lihat apa yang dialami Saddam sekarang.
Apa revolusi di Mesir akan sama dengan di Iran?
Beda. Revolusi Iran berbeda karena ada Imam Khumaini sebagai pemimpin. Pemerintah yang ditentang pasti menawari rekonsiliasi, silakan anda menjalankan pemerintahan. Imam Khumaini bilang tidak. Shah harus pergi, raja harus pergi. Lalu dia tunjuk orang jadi Perdana Menteri dan membangun pemerintahan dan membentuk parlemen. Mereka semua menerima perintah Imam Khumaini termasuk militer yang menganggap dia sebagai panglima tertinggi militer.
Apakah Timur Tengah kekurangan kepemimpinan?
Saya bisa asumsikan demikian.
Setelah Tunisia, Mesir dan lalu Yaman, apakah gelombang demonstrasi ini akan menyebar di Timur Tengah?
Saya tidak punya analisa untuk setiap negara. Tapi anda bisa lihat kalau rakyat tidak mau menjadi boneka untuk negara lain. Mereka juga ingin dihargai bangsa lain.
Apakah kesan anda dengan Indonesia?
Yang terkesan pertama kali adalah angin yang sepoi-sepoi, lalu hujan. Negeri kalian diberkati Allah. Kekayaan alamnya melimpah, ada minyak, gas, pertanian. Orang-orangnya cantik dan tampan. Mereka pekerja keras dan tidak banyak menuntut, ramah, baik, sopan. Hati rakyat Indonesia terbuka, kalian juga punya pemahaman yang jelas, orang-orangnya bertoleransi, agama menjadi panduan hidup. Pandangan kalian tajam soal perkembangan di dunia.
Saya ingin lebih banyak kontak di antara rakyat ke dua negara. Saat ini hanya ada sekitar 150 orang Iran di Indonesia, kebanyakan bekerja sisanya kuliah. Saya ingin lebih banyak mahasiswa Iran kuliah di Indonesia, tapi bahasa menjadi kendala. Untung sekarang banyak universitas di Indonesia membuka kelas internasional sehingga lebih memudahkan.
(fay/vit)











































