Patrialis Akbar: Mafia Paspor di Belakang Gayus

Patrialis Akbar: Mafia Paspor di Belakang Gayus

- detikNews
Rabu, 12 Jan 2011 18:35 WIB
Patrialis Akbar: Mafia Paspor di Belakang Gayus
Jakarta - Gayus Tambunan terus menjadi buah bibir. Terakhir, dia menjadi tersangka dalam kasus pemalsuan paspor. Kemenkum HAM mengaku akan terus melacak kasus Gayus ini sampai tuntas. Bahkan, Menkum HAM Patrialis Akbar mengakui ada pihak-pihak di balik kasus Gayus.

Berikut wawancara lengkap wartawan dengan Menkum HAM Patrialis Akbar di Kantor Presiden usai mengikuti rapat bidang Polhukam, Rabu (12/1/2011):

Pak soal pintu khusus diplomatik untuk Gayus?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aduh saya tidak tahu dia di pintu khusus atau tidak. Yang penting sekarang Gayus itu mafianya yang kita kejar. Mafianya yang perlu kita kejar. Kan gayus mau membongkar, itu yang kita dukung. Ini masalah ke luar negeri, masalah pintu masuk pintu keluar, itu mah bikin energi kita habis.

Sindikatnya siapa?

Ini kan lagi didalami dan tidak boleh diberitahukan. Diberitahukan malah bubar.

Bentuk sindikatnya seperti apa?


Orang kerjasamalah.

Kongsi perusahaan atau seperti apa?

Nantilah, kayaknya sih enaknya topik lain. Itu topiknya tidak bermutu (sambil tertawa).

Sindikat dalam bidang apa?

Mafia-mafia paspor apa gitu.

Hanya mafia paspor?


Yang kami kan cuma itu, yang lain bukan tugas kita dong. Masalah apa nanti kan, sindikat pajak kan ada lembaga lain.

Presiden bilang ada gurita?


Itu yang perlu kita bongkar.

Pernyataan Presiden guritanya siapa?


Yah pokoknya saya tidak usah mengomentari pendapat Presidenlah. Kalau untuk hemat saya apa yang disampaikan presiden tentu sangat mendasar.

Menjelaskan lebih jauh?


Saya kan tidak di bidang itu, bidangnya kan lain-lain. Kawan-kawan terlalu percaya Kum HAM tahu semua, padahal tidak juga.

Mafia paspor bagaimana tadi?


Ya kan lagi diselidiki.

Disinyalir bukan sekadar mafia paspor tapi dukungan orang punya dana besar?

Itu kan media lebih tahu sudah dianalisa sendiri. Itu nanti ada Satgas Mafia Hukum, ada KPK. Nanti akan terungkap dengan sendirinya, ada kepolisian, ada kejaksaan. Itu lebih baik sama beliau-beliau yang lebih intens sama itunya. Kita tidak ikutan.

Pembagian tugas dengan Satgas, dibatasi?

Dibatasi bagaimana? Satgas boleh masuk ke mana-mana, justru Satgas hebat.

Satgas tidak berani minta data di PPATK?

Orang, Ketua PPATK Ketua Satgas masa tidak berani.

Gayus berusaha membayar semua pihak terlibat, Satgas berusaha dibayar juga tidak?


Pertanyaannya aneh, susah kita jawab. Tanya sama Gayus, kalau saya jadi Gayus baru saya jawab.

Perkembangan soal Gayus disinggung Presiden?


Tidak, saya hanya menggambarkan bagaimana grasi prosesnya, remisi prosesnya secara umum, aturan hukumnya, UU-nya, supaya lebih yakin kita, bekerja supaya tidak salah kita.

Pemberi tidak bakal kena ya?

Yang diberi apa? Suap mana?

Artinya sampai sekarang kasus Gayus si pemberi tidak diapa-apakan?

Kita tidak tahu dia beri apa, yang diberi siapa. Gayus ngasih siapa?

Kenapa uang sebesar itu tidak bisa?


Sama siapa uang.

Rp 900 Juta untuk paspor Gayus?

Ya itu kita gak tahulah dia kasih ke siapa.

Sampai sekarang tidak tahu uang dari mana?


Itu bukan urusan kita Gayus mau cari duit dari mana.

Pemberi juga tidak kena ya?


Bukan tidak kena, bukan itu persoalannya, duduk masalahnya juga tidak jelas, apa yang mau dikomentari.

Ada upaya penyuapan?

Menyuap siapa

Menyuap petugas penjara?


Ndak ada petugas penjara. Petugas penjara yang mana. Oh di Brimob itupolisi yang ngurusin.

Uang sebanyak itu kira-kira didapat dari mana?

Nanti saya tanya sama Gayus deh. Sayak ga usah mewakili Gayus dong.

Jadi kapan tanya ke Gayus?

Nantilah, kalau saya sudah ketemu, mungkin 10 tahun lagi, 15 tahun lagi.

(anw/vit)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini