Psikolog Liza M Djaprie: Bunuh Diri dari Gedung Tinggi Menular

Psikolog Liza M Djaprie: Bunuh Diri dari Gedung Tinggi Menular

- detikNews
Selasa, 04 Jan 2011 18:56 WIB
Jakarta - Kasus bunuh diri dengan cara melompat dari gedung tinggi belakangan ini kembali marak terjadi. Sebut saja Gendra yang mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 15 Apartemen Hampton Park, Cilandak, Jakarta Selatan pada akhir Desember 2010 lalu. Selain itu, Hendrik tewas setelah melompat dari lantai 3 Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat pada hari ini.

Menurut psikolog yang praktisi hipnoterapi, Liza Marielly Djaprie, bunuh diri sebenarnya menular, termasuk bunuh diri dengan cara melompat dari gedung. Namun jangan bayangkan menular seperti virus, tetapi menular lantaran menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa.

"Bunuh diri memang menular. Namun bukan menular seperti virus, tetapi lebih kepada menginsiprasi," ucap Liza.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini wawancara detikcom dengan penulis yang juga psikolog yang berpraktek di salah satu klinik kesehatan jiwa di Dharmawangsa ini, Selasa (4/1/2011):

Belakangan terjadi bunuh diri dengan motif serupa yakni terjun dari gedung tinggi. Mengapa?

Ada 2 kondisi. Pertama bunuh diri pasti ada satu proses, tidak ujuk-ujuk atau tidak tiba-tiba. Ada yang merasa depresi, tidak ada jalan keluar, hidupnya tidak berguna, segalanya susah lalu bunuh diri. Saat orang memutuskan bunuh diri pasti ada prosesnya. Ada sesuatu yang disadari atau tidak terjadi tiba-tiba.

Kedua, kenapa dilakukan dari gedung tinggi, karena banyak gedung tinggi. Kalau tinggal di pedesaan, tidak ada fasilitas gedung tinggi, mungkin cara yang dilakukan adalah dengan gantung diri atau minum racun. Karena ada fasilitas lalu melihat itu sukses dilakukan orang lain, jadi dilakukan juga. Orang belajar secara sosial tentang berita bunuh diri, mereka jadi terinspirasi. Karena fasilitas ada dan mudah untuk melakukannya.

Kenapa memilih apartemen atau mal?

Apartemen dan mal itu gampang dijangkau. Mudah untuk memasuki mal. Kalau gedung perkantoran mungkin ada yang mudah juga untuk masuk. Tapi kalau mau ke atas kadang butuh ID, ada penjagaan lebih ketat. Beda dengan mal, tidak butuh ID dan tinggal masuk saja.

Kalau bunuh diri dilakukan di apartemen, biasanya itu dilakukan oleh orang yang tinggal di situ atau kebetulan bertamu ke situ. Tidak sembarang orang juga bisa masuk.

Bunuh diri itu menular?


Bunuh diri memang menular. Namun bukan menular seperti virus, tetapi lebih kepada menginsiprasi. Dengan kehidupan yang penuh tekanan, merasa tidak ada jalan keluar, merasa merana, jadi terinspirasi oleh cara bunuh diri yang dilakukan orang lain. Sama seperti jaket bulu, kita melihat orang lain terlihat keren memakai jaket bulu, lalu kita terinspirasi dan ikut membelinya.

Mengapa memilih melakukan di tempat ramai dan tidak diam-diam?

Ada dua kemungkinan. Pertama, sengaja agar jadi pemberitaan sehingga menjadi perhatian orang terdekat. Misalnya kalau bunuh diri karena patah hati, mungkin maksudnya agar bunuh dirinya itu diketahui oleh mantan 'biar tahu rasa itu mantan' sehingga si mantan merasa menyesal dan berdosa karena membuat seseorang bunuh diri.

Dengan melompat biasanya lebih efektif menghilangkan nyawa daripada minum racun serangga, misalnya. Karena ada beberapa kasus minum racun serangga tidak menyebabkan meninggal.

Biasanya mengapa orang bunuh diri?

Beragam. Ada masalah ekonomi, juga karena hal-hal simpel. Kan ada kasus anak SMP dimarahi lalu bunuh diri. Di kehidupan sekarang ini, ada tuntutan yang beragam.

Mengapa yang banyak bunuh diri dengan melompat dari gedung adalah laki-laki?

Kemungkinannya adalah karena laki-laki paling jarang curhat. Kalau ada masalah dipendam. Menurut penelitian sebenarnya yang paling banyak melakukan usaha bunuh diri adalah perempuan. Namun usahanya tidak serius, misalnya dengan minum banyak obat (agar over dosis).

Tapi kalau paling banyak sukses melakukan bunuh diri itu laki-laki. Mereka sekalinya melakukan upaya bunuh diri itu serius. Soalnya laki-laki itu jarang curhat, kalau ada masalah dipendam sendiri, akhirnya frustrasi sendiri. Kalau perempuan kurang serius saat akan bunuh diri adalah lebih karena ingin menarik perhatian.

Cara untuk menekan kasus bunuh diri?


Keluarga harus menyadari. Kalau ada perubahan tingkah laku, misalnya kalau orangnya ramai kemudian diam, tadinya suka sekolah kemudian tidak, maka keluarga harus mengajak bicara. Itu yang paling penting, agar tahu apa yang dihadapi dan dicari penyelesaiannya.

Keluarga perlu mengamati perubahan tingkah laku. Karena sekali lagi, bunuh diri tidak terjadi tiba-tiba tetapi ada prosesnya.

(vit/asy)


Berita Terkait