DetikNews
Senin 03 Januari 2011, 18:31 WIB

Ketua KPAI: Remaja Bebas Beli Miras, di Negara Ini Banyak Salah Kaprah

- detikNews
Ketua KPAI: Remaja Bebas Beli Miras, di Negara Ini Banyak Salah Kaprah
Jakarta - Bagi yang berusia di bawah umur 21 tahun tidak boleh mengkonsumsi minuman keras. Peringatan itu tertempel di setiap minuman beralkohol yang dijual bebas di minimarket. Meski begitu, larangan tersebut kerap tidak ditaati.

Di beberapa minimarket, remaja bebas membeli minuman tersebut. Penjaga minimarket pun melayani pembelian itu tanpa mengkroscek lebih dulu berapa umur si pembeli. Hal ini menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Hadi Supeno terjadi lantaran di Negeri ini banyak yang sudah salah kaprah.

\\\"Ini sudah salah kaprah. Sesuatu yang salah dilakukan sehingga jadi terbiasa. Karena itu penjaga (toko) pun tidak merasa ada kesalahan ketika menjual minuman itu kepada remaja,\\\" cetus Hadi.

Berikut ini wawancara detikcom dengan pria kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 14 April 1959 ini, Senin (3\/12\/2010):

Anak di bawah 21 tahun bebas membeli minuman keras. Ini karena peringatan sebatas slogan atau karena penjualnya tidak tahu aturan itu?<\/strong>

Ini sudah salah kaprah. Sesuatu yang salah dilakukan sehingga jadi terbiasa. Karena itu penjaga (toko) pun tidak merasa ada kesalahan ketika menjual minuman itu kepada remaja. Tidak hanya minuman keras, film yang seharusnya boleh ditonton oleh 18 tahun ke atas misalnya, juga tiketnya masih dijual kepada yang di bawah 18 tahun tanpa merasa bersalah.

Juga tontonan sinetron, ada tanda itu tontonan dewasa dan bukan untuk semua umur, namun orangtua membiarkan anak-anaknya menonton. Termasuk pula tentang pornografi, di mana oarang di bawah umur sangat gampang mengakses. Ini kembali kepada disiplin negara yang tidak punya karakter jelas, anak muda mau dibawa ke mana.

Tidak bisa hanya menyalahkan penjaga toko. Tapi mindset orang dewasa dan pemimpin negara juga harus bertanggung jawab. Pemimpin negara tidak memberi guidance dan direction ke mana harus menuju, sehingga yang terjadi ya seperti itu.

Di Eropa juga ada pornografi, ada film porno yang diputar. Tapi kalau ada anak di bawah umur yang mau menonton tidak dibolehkan. Dan kalau melanggar hukumannya berat.

Sama saja dengan minuman keras. Minuman keras itu untuk orang dewasa. Di Eropa mungkin dibolehkan minum karena di sana dingin. Tapi di kita, tidak jelas. Pemimpin tidak jelas dalam memberikan arahan kepada masyarakat.

Orangtua seharusnya mengawasi ketat anaknya?<\/strong>

Orangtua mengawasi itu pasti. Di dalam rumah, orangtua bisa mengawasi. Tapi kalau di luar rumah kan tidak bisa diawasi terus. Pertama yang harus dilakukan saya kira adalah sosialisasi masif tidak boleh menjual minuman keras kepada yang di bawah umur.

Setelah itu bagi yang kedapatan menjual harus ada hukuman berat. Tapi ingat, harus sosialisasi dulu sebelumnya dan jangan hangat-hangat tahi ayam. Kalau Toko A dihukum maka Toko B juga harus dihukum. Penindakan ini harus cepat dan pasti.

Selain minuman keras, penjualan rokok juga harus diawasi. Ada larangan keras menjual rokok kepada anak-anak tapi praktiknya, rokok dijual bebas. Anak yang jelas-jelas beli rokok pakai seragam sekolah masih dilayani. Jual rokok oke, tapi begitu menjual kepada yang di bawah umur harus ditindak keras.

Bagi remaja apa yang membuat minuman keras menarik bagi mereka?<\/strong>

Mitos. Ada mitos yang mereka dengar bahwa dengan minum minuman keras akan membuat kelihatan gagah, keren, gaul dan macho. Awalnya coba-coba lalu jadi terbiasa dan adiktif.

Juga karena minuman keras mudah dibeli?<\/strong>

Sebenarnya bukan hanya itu saja. Yang tidak punya uang kemudian mengoplos sendiri. Kadang orang sekitar juga membiarkan. Awalnya coba-coba, karena adiktif lalu kebablasan.

Tidak hanya menimpa remaja perkotaan?<\/strong>

Dengan adanya media, kota dan desa jadi beda tipis. Bedanya di desa mungkin nggak ada mal saja. Listrik juga ada di desa, handphone ada juga, televisi juga sehingga untuk mengakses informasi nyaris tidak ada bedanya. Sama saja paparan hedonismenya.

Remaja kurang tahu bahaya minuman keras?<\/strong>

Remaja ini adalah kelompok usia paling terlantar karena tidak ada yang menggarap. Ketika masih di dalam kandungan lalu lahir ada yang mengurusi. Ada program ASI eksklusif dan segala macam. Mau masuk sekolah ada pendidikan anak usia dini (PAUD), ada yang mengawal. Tapi ketika usianya 13-18 tahun tidak ada yang mengawal.

Tidak ada lembaga yang khusus mengurusi remaja. Bagaimana bergaul, membentuk diri, termasuk soal perilaku seks remaja sampai gaya hidup nyaris tidak ada yang mengawal. Tidak ada lembaga atau instansi yang mengawal remaja. Ini lampu kuning betul karena negara tidak memberi perhatian secara khusus. Program remaja di televisi juga isinya sinetron.

Kemendag harus lebih giat sosialisasikan larang menjual minuman keras pada yang di bawah umur?<\/strong>

Itu mutlak. Juga lembaga konsumen untuk ikut membantu mengawal. Kemendag jangan hanya mengukur tinggi rendah omzet, tapi juga melihat manfaatnya. Mungkin memberikan keuntungan besar tetapi kalau mendegradasi harus dihitung sebagai kerugian yang invisible, yang bukan dalam wujud uang.

Akibat jika dibiarkan saja atau ditunda penyelesaiannya?<\/strong>

Yang akan terjadi adalah lost generation. Generasi yang seharusnya dipersiapkan menggantikan generasi akan datang, akan larut dalam hedonisme. Ini persoalan juga. Mungkin ada gegap gempita bagaimana negara mengurus ekonomi, sepakbola, korupsi, tapi jangan dilupakan juga bagaimana hal-hal buruk dihindarkan dari remaja dan anak.




(vit/fay)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed