Salah satu dokter Timnas Indonesia, dr Aditya Wahyudi, mengungkapkan bahwa kedokteran olahraga menjadi salah satu kunci kekuatan Tim Merah Putih. Tim dokter memutar otak untuk membantu timnas tampil dalam performa terbaiknya.
"Disiplin pemain oke banget, semangat pemain sedang tinggi-tingginya," kata dr Aditya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana awalnya terlibat dengan Timnas?
Waktu itu sekitar Juni 2010 kan dicari dokter untuk Timnas. Saya mengajukan diri, terus sampai diwawancara pelatih Alfred Riedl. Mereka setuju dan saya pun bergabung.
Bagaimana pengalaman mengurus kesehatan Timnas?
Kami kerja profesional sesuai bidang kami masing-masing. Dalam timnas ini ada 2 dokter, 2 fisioterapis dan 1 masseur. Salah satu dokter ada yang khusus menangani nutrisi pemain. Salah satu fisioterapis kita, Mattias Ibo adalah WN Belanda. Fisioterapis satu lagi dan masseurnya sudah berpengalaman lama di Timnas.
Saat pertandingan yang berada di bench adalah 1 dokter dan 1 fisioterapis. Fisioterapis lebih pada penanganan cedera muskuloskeletal. Yang lain juga bekerja keras di ruang ganti pemain pada sebelum, sesudah pertandingan dan saat istirahat antar babak.
Kami bekerja sebagai satu tim, apapun masalah medis dan cedera pada pemain selalu kita diskusikan lebih dahulu bersama dan dilakukan pengambilan keputusan bersama. Saya bilang tim medis Timnas mempunyai suasana kerja yang sangat baik, chemistry-nya sudah sama.
Apa saja perlengkapan tim dokter Timnas?
Kalau box di lapangan itu P3K, untuk tindakan di pinggir lapangan. Perlengkapan inti kami masih sangat standar. Kami hanya ada ultrasound diathermy, terapi listrik dan laser di ruang fisioterapi kita. Tapi bukan alat-alat yang penting. Kami mengandalkan terapi latihan bagi pemain cedera, yang dilakukan di lapangan latihan atau di gym hotel.
Mudah-mudahan kalau pusat latihan yang tanahnya diberikan keluarga Bakrie di Jonggol bisa terbentuk, saya memimpikan kita punya pusat latihan termasuk pusat sports rehabilitation dengan fasilitas mirip fasilitasnya klub-klub besar sepakbola di Eropa kayak Milan atau Madrid. Bakal jauh lebih majulah kita.
Perban di kepala pemain belakang M Nasuha bagaimana ceritanya?
Nasuha mengalami luka robekan di kepala, cukup panjang tetapi tidak dalam, sehingga tidak perlu dijahit. Cukup dibebat agak kuat untuk menghentikan perdarahannya dan bisa bermain lagi. Perbannya memang tampak besar, karena memang untuk menekan luka dan tidak bergeser dari tempatnya. Cukup aman kalau dia mau menyundul bola.
Nasuha sendiri bermain dengan determinasi yang sangat tinggi. Walaupun pada saat kejadian darah yang keluar cukup banyak, Nasuha langsung meminta agar luka ditutup. Dia bilang 'kalau perlu dijahit, jahit saja Dok. Saya mau main lagi'.
Siapa pemain Timnas yang pernah cedera paling parah?
Saat pertandingan kedua lawan Filipina, yang mengalami luka ya Nasuha. Firman cedera lutut lama yang kambuh dan Okto cedera hamstring. Mungkin tidak banyak yang tahu kalau Markus juga sempat mengalami dislokasi bahu (keluar dari bonggolnya), tapi langsung diperbaiki di tempat dan dia langsung main lagi.
Semangat juang para pemain timnas kita luar biasa. Saya kagum dan angkat jempol. Terluka pun mereka bersemangat tinggi. Kalau ibarat tentara, tertembak musuh pun mereka minta perang lagi.
Soal perban hitam di lutut Firman Utina?
Itu namanya kinesiotape, warnanya macam-macam. Berbeda dengan perban rigid warna putih yang biasa dipakai, perban ini lebih elastis. Fungsinya bisa untuk mengatur gerakan otot dan sendi, juga untuk mengurangi bengkak. Mungkin untuk tim sepakbola di Indonesia baru timnas yang pakai. Kalau di negera maju sih sudah lama.
Bagaimana dengan kondisi kesehatan terkini Timnas?
Yang sekarang masih cedera Firman, masih dengkul kanannya. Selain itu Oktovianus Maniani cedera hamstring, otot paha belakang. Kalau Irfan Bachdim sudah jauh relatif lebih baik.
Kapan suasana paling sibuk buat dokter Timnas?
Usai tanding pastinya. Tim medis Timnas bekerja sampai malam. Persiapan pertandingan berikutnya dimulai malam itu juga dengan upaya pemulihan pemain. Rendam kaki segala macam. Fisioterapis dan masseur kita yang paling sibuk malam itu.
Bagaimana pelatih Alfred Riedl terhadap kesehatan pemain?
Riedl sangat perhatikan kesehatan pemain. Dia bilang kesehatan nomor satu, sepakbola nomor sekian. Kesehatan pemain penting. Kalau pemain cedera, dia selalu sedia dengan line up dia. Dia bukan tipe pemaksa.
Yang penting masalah medis atau cedera ditangani dulu dengan baik. Hal ini sangat penting untuk karir pemain itu sendiri. Ini mata pencaharian mereka, hidup anak dan istri tergantung kaki mereka.
Siapa yang memutuskan main tidak main, jika ada yang cedera?
Keputusan main tetap di tangan Riedl. Kami tim medis memberikan masukan kepada pelatih berdasarkan pemeriksaan kami. Riedl juga akan menanyakan ke pemain, apa dia masih sanggup latihan atau bermain. Pengetahuan dia soal cedera olahraga sangat baik, saya cukup surprised. Pengalaman dia juga banyak. Jadi keputusan dibuat dengan pertimbangan tim medis dan pertimbangan pemain, keputusan akhir ada di dia.
Bagaimana Riedl membangun kesehatan psikologis pemain?
Riedl itu pelatih gaya Eropa. Dia kepala umum tim manajer. Dia tidak cuma mengurus strategi di lapangan, tapi juga banyak hal detil, makanan sampai psikologis. Dia mengajari pemain behave like sportsmen. Ini sangat berharga buat pemain kita, dari mental Indonesia jadi mental pemain Eropa. Itu sangat bagus.
Yang salah akan dia koreksi dan kadang dimarahi, yang bermain baik akan dia puji. Mungkin publik menganggap dia dingin, tapi nggak kok. Ia sangat humoris, dengan smart jokes-nya yang khas. Kita sering tertawa-tawa saat briefing di ruang ganti.
Disiplin pemain sekarang oke banget. Semangat pemain sedang tinggi-tingginya, nggak ada yang malas-malasan. Riedl juga tahu menjaga psikologis pemain. Yang down dia angkat, tapi dia juga ingatkan pemain untuk tetap menjejak tanah karena perjalanan belum selesai.
Persiapan tim dokter menghadapi final di Malaysia?
Persiapan ke Malaysia sih sama saja, cuaca juga kan sama. Yang cedera kita usahakan perbaikan semoga pulih, yang lain maintainance. Pelatih tahu kondisi fisik pemain, kapan latihan, kapan istirahat.
Soal aktivitas ringan di hotel, itu juga program kesehatan?
Rekreasi ringan itu juga bagian dari program, tapi tetap di hotel jangan pergi. Mereka bisa fitness, jacuzzi, pijat oleh masseur kami. Ini penting untuk pemulihan fisik dan psikologis mereka. Mereka lebih ke cedera olahraga dari pada sakit biasa kayak kita, kan mereka atlet.
Kaitan antara kondisi psikologis dan perhatian penggemar?
Awalnya atensi publik dan media yang mendadak sangat mengganggu pemain. Permintaan wawancara melonjak, bahkan dari infotainment dan majalah ABG. Tapi sekarang sudah dilakukan tindakan antisipasi. Riedl juga batasi wawancara, kalau nggak begitu kapan pemain tidur dan istrahat. Sampai-sampai penggemar naik ke lantai tempat kamar Irfan.
Kita sebagai dokter sangat memikirkan kondisi ini terhadap kesehatan pemain, bagaimana mereka mau tidur. Kalau kurang tidur dan istirahat, latihan dan pertandingan tidak dalam kondisi fit. Performa tidak optimal dan rentan cedera. Mohon dimaklumi kalau sekarang ada pembatasan ini. Ini demi mencapai tujuan kita bersama, juara piala AFF.
Bagaimana rasanya jauh dari keluarga?
Kangen, paling teleponan. Saya baru dapat libur setelah Indonesia mengalahkan Thailand. Saya langsung pulang ke Bandung. Kalau sekarang sampai final nggak ada libur.
Anak saya nonton setiap pertandingan di rumah di Bandung. Kalau pas menyanyi Indonesia Raya kan official disorot, dia bisa lihat papanya. Setelah itu bisa lihat papanya lagi pas ada pemain cedera, nanti papanya lari-lari ke lapangan, ha ha ha ha.
(fay/vit)











































