"Kemampuan mereka untuk melakukan regenerasi pemimpin sangat cepat. Setelah Abu Tholut ini pasti akan muncul pemimpin baru yang akan mengambil alih, setidaknya pengendalian sel militer dari kelompok teror," ujar pengamat pertahanan, Andi Widjajanto.
Berikut ini wawancara dengan staf pengajar UI ini usai diskusi soal Krisis Semenanjung Korea di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jaksel, Jumat (10/12/2010)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biasanya belum, kepemimpinan bukan pusat kekuatan jejaring teror di Indonesia. Kemampuan mereka untuk melakukan regenerasi pemimpin sangat cepat. Setelah Abu Tholut ini pasti akan muncul pemimpin baru yang akan mengambil alih, setidaknya pengendalian sel militer dari kelompok teror.
Di masa pelariannya, Abu Tholut sudah bisa menghasilkan pemimpin baru?
Iya (hasilkan pemimpin baru). Karena teror bergerak dalam jejaring sistem sel. Satu sel yang terungkap, sel lain yang biasanya tidur selama sel Abu Tholut bekerja, sekarang akan bangun dan akan mengambil alih rencana-rencana yang akan disusun sebelumnya.
Butuh waktu berapa lama sampai sel itu bisa melakukan aksi teror lagi?
Sebelum Juli 2009 itu rata-ratanya dari satu serangan lain, mereka butuh waktu 1,5 bulan. Sejak Juli 2009, waktunya jauh lebih cepat. Setelah Juli 2009 segera muncul rencana Jati Asih hanya 1 bulan jaraknya, Agustus 2009, mereka sudah merencanakan serangan lain.
Lalu kelihatan Dulmatin, setelah kamp militer di Aceh digrebek, itu biasanya mereka akan lenyap lama. Tapi ini tidak lenyap lama. Langsung muncul perampokan berencana di Medan, penembakan di Deli Serdang. Ini satu sel yang bergeraknya jauh lebih cepat, jauh lebih aktif daripada ketika masih berada kendali Azhari dan Noordin M Top.
Artinya perencanaan aksi teror cenderung lebih cepat?
Ya, ada kecenderungan mereka tidak lagi menggunakan serangan-serangan bom bunuh
diri. Tapi mulai mengandalkan penggunaan senjata-senjata konvensional. Itu terutama
dilihat dari kebutuhan mereka untuk melakukan latihan kamp militer di Aceh, jenis
senjata yang ditemukan untuk penyerbuan Deli Serdang yang adalah senapan serbu MK-3. Jadi memang mungkin terjadi metamorfosis taktik.
Apakah ada hubungannya metamorfis ke serangan senjata dengan telah tewasnya beberapa gembong seperti Noordin dan Azhari?
Ya. Itu salah satunya ya. Noordin M Top dan Azhari dari doktrinasi dari ideologi,
keahlian mereka memang bom, peledak. Kalau Dulmatin, Abu Tholut, dan nanti kalau
yang dicemaskan datang adalah Umar Pathek, maka mereka akan cenderung melakukan
taktik-taktik insurgency. Kayak Abu Tholut sendiri, dia pernah mengikuti pelatihan
militer di Afganistan, dia pernah menjadi pelatih militer di Filipina, yang semuanya
mengandalkan strategi-strategi insurgency daripada bom bunuh diri.
Kemampuan mereka berbeda-beda. Kalau Noordin dan Azhari mereka memang ahli bahan peledak. Tapi begitu sudah ke kelompok Filipina Selatan yang lebih didominasi
orang-orang yang pernah di Filipina Selatan, tampaknya kecenderungannya mereka akan
lebih ke hal-hal yang insurgency.
Antisipasi selanjutnya bagi Polri berarti Umar Pathek?
Umar Pathek tetap ditunggu-tunggu sejak Dulmatin ditewaskan polisi. Dugaannya Umar
Pathek akan mengambil alih kepemimpinan. Tapi karena dia diduga berada di Filipina,
mungkin tidak menemukan jalan tembus untuk Indonesia. Lalu muncul Abu Tholut yang
cenderung mengejutkan.
Karena biasanya, kalau ada seorang teroris yang pernah dipenjara (Abu Tholut), dia sulit sekali menjelma menjadi tokoh yang signifikan. Ada kecurigaan dia sudah disusupi nilai-nilai tertentu dari pemerintah, tapi ternyata Abu Tholut mampu mengambil kepemimpinan itu.
Jadi tidak terduga Abu Tholut jadi seorang pemimpin?
Tidak terduga. Karena biasanya langsung dicoret dari potensi jadi pemimpin karena
dia pernah di penjara.
(vit/fay)











































