Demikian disampaikan vulkanolog dari Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Yogyakarta, Dr Eko Teguh Paripurno. Berikut ini wawancara detikcom dengan penulis desertasi Karakter Lahar Gunung Api Merapi sebagai Respons Perbedaan Jenis Erupsi Sejak Holosen, Kamis (28/10/2010):
Sekarang ini Gunung Merapi yang relatif tenang karena sedang mengumpulkan energi. Artinya letusan selanjutnya tinggal menunggu waktu?
Sebelumnya ada guguran mulai kecil sampai besar sehingga memunculkan getaran/tremor. Kalau pada saat tenang memang pilihannya ada dua. Pilihan pertama, memang karena tidak ada energi atau stabil. Sedangkan pilihan kedua, ada pengumpulan energi.
Kalau dinyatakan sedang mengumpulkan energi, artinya lebih memilih pada pilihan kedua untuk mengurangi risiko. Karena kalau mengambil pilihan pertama, bilang aman, padahal energi belum keluar, maka akan habis. Ini prinsip kehati-hatian.
Deformasi puncak yang hingga 21 Oktober hanya 10,5 cm per hari menjadi 42 cm per hari. Ini menunjukkan magma semakin mendekati puncak?
Ketika ada deformasi ada getaran. Kalau getaran semakin dangkal berarti massa magma bergerak semakin ke atas. Gerak magma ditandai oleh perubahan letak pusat getaran. Jadi pusat tremor di mana, maka di situ pergerakan magma.
Secara awam aktivitas yang meningkat itu salah satunya ditengarai dengan bau belerang yang kuat tercium. Tapi kan indera kita juga terbatas. Tetap butuh alat pantau.
Disampaikan deformasi terfokus pada kubah lava erupsi 1911, rapuh karena usianya sudah lebih dari 100 tahun. Apakah akan terbentuk kubah baru di situ?
Yang naik ke atas adalah magma. Kalau naik ke atas dan energinya cukup maka akan dilontarkan. Kalau energinya terbatas maka disisipkan menjadi kubah. Sedangkan kalau lemah maka dilelehkan. Sebenarnya erupsi itu kan bukan hanya meletus, tapi itu bisa juga menyusup dan mengalir.
Wah Mbak, ada gempa sekarang ini (sekitar pukul 09.00 WIB). Ini sekitar 4 SR. Kalau kondisi Merapi sedang masak maka bisa memicu erupsi, tapi kalau sedang mengumpulkan energi maka tidak terjadi erupsi. Tapi dilihat dulu ini (gempa) asalnya (sumber) dari mana.
Biasanya Merapi memang membentuk kubah lava, tapi karena nggak stabil lalu longsor. Itu memang karakter umum Merapi. Tipe umumnya vulcano. Tapi ada kekhasan, yakni ada kubah lava di atas, dan itu menjadi tipe erupsi Merapi.
Ketika ada guguran kubah lava maka akan membentuk awan panas. Nah awan panas karena guguran ini arahnya sesuai dengan ketidakseimbangan pada kubah lava. Kalau sekarang tidak terjadi kubah lava, sehingga yang terjadi adalah erupsi umum (letusan), bukan kubah lava seperti misalnya tahun 2006 dan tahun beberapa tahun sebelumnya.
Ada kemungkinan Merapi bisa meletus lebih besar lagi?
Kalau terjadi pemekaran bibir kawah, puncak semakin merekah maka ini mengarah ke tidak stabil. Di banding dulu (2006), energi yang terkumpul lebih besar dari sebelumnya, atau proses cepat dan volume banyak. Kalau tadinya 3-4 km (jarak guguran lava) sekarang puluhan kilometer. Dan kita nggak tahu sudah selesai atau belum (pengeluaran energi). Jadi kita tunggu dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Merapi akan semakin stabil atau aman jika perkembangannya semakin nggak ada. Misalnya saja tremornya semakin nggak ada, guguran semakin nggak ada, sulfur turun. Kalau sudah begini biasanya akan ada penurunan status.
Dibanding gempa, erupsi gunung memang relatif mudah diprediksi. Makanya ada penetapan status seperti aktif normal, siaga dan awas. Tapi kalau sekarang kita nggak bisa menebak akankah segera meletus. Ini seperti belajar statistik. Harus diamati benar-benar datanya.
Jadi kecenderungannya saat ini Merapi akan eksplosif?
Sekarang kecenderungannya eksplosif. Ini karena kekentalan lava dan energi yang terkandung. Lava itu ada yang kental hingga sangat kental. Kekentalan ini berubah-ubah terkandung pada cairan dan gas. Lalu erupsi itu tergantung apa? Ada yang tergantung gasnya atau kedalaman kantung magma terakhir.
Sekarang masih ada luncuran lava. Tapi informasi menyebutkan yang meluncur bukanlah lava pijar. Apa artinya?
Kalau ada lava pijar artinya yang muncul lava baru. Kalau yang meluncur bukan lava pijar, itu karena belum ada pembentukan lava baru. Jadi yang tua yang meluncur, dan itu luncuran batu biasa.
Kondisinya tidak stabil karena ada penambahan kubah dari dalam. Kalau ada penambahan baru lagi akan bergeser, longsor lagi, stabil lagi. Itu siklus yang lazim pada gunung api dengan energi sedang yang modelnya menyusup.
Namun sekarang ini Merapi lebih eksplosif sehingga membentuk letusan. Dulu (2006) perubahan kegiatan Merapi berubah dalam bulan atau minggu, tapi sekarang kan hari. Jadi sekarang kita tunggu dulu, kita lihat data bagaimana Merapi sehingga bisa segera diinformasikan status selanjutnya.
Apa perbedaan erupsi sekarang dengan erupsi Merapi 2006?
Ada perbedaan akumulasi energi. Bentuk puncak juga berbeda karena itu erupsinya lebih besar dan lebih cepat, juga risiko lebih besar. Apalagi sekarang ada bukaan ke selatan, yang dulu nggak ada. Jarak penduduk di barat hingga ke puncak itu sekitar 8 km, sedangkan sekarang jarak di selatan ke Kali Adem adalah 4 km, dengan begitu risikonya lebih tinggi. Yang di sebelah selatan harus lebih waspada karena lebih dapat luncuran.
Erupsi Merapi saat ini sepertinya vulcano murni, cenderung vertikal dan pola letusannya menyembur ke berbagai arah. (vit/nrl)











































