Babak pertama kisah naiknya Timur jadi Kapolri telah usai, ditandai dengan persetujuan DPR atas jabatan Kapolri bagi pria berkumis itu. PR yang harus segera dikerjakan Timur ketika resmi duduk di kursi paling atas Polri adalah merangkul jenderal yang kecewa.
Demikian disampaikan pengamat komunikasi politik Prof Tjipta Lesmana dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (15/10/2010. Berikut ini wawancaranya:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ya, ada semacam beban psikologis. Puluhan tahun polisi itu ada di bawah tentara, jadi sikap mental hampir sama dengan tentara, anak buah taat pada atasan, pimpinan.
Di permukaan semua jenderal, perwira menengah taat dan turut perintah. Tapi di bawah
banyak yang dongkol, kecewa, kesal karena proses itu menabrak sistem, mekanisme yang ada. Ini bisa menimbulkan sejumlah pihak kecewa tapi nggak bisa apa-apa.
Adakah kendala psikologis? Awalnya pasti ada. Maka itu tugas prioritas untuk secepat mungkin merangkul pihak-pihak yang kecewa dan mungkin berdialog. Penting untuk mengkonsolidasikan diri. Itu PR pertama.
Konsolidasinya seperti apa?
Bisa merangkul Pak Nanan (Komjen Pol Nanan Soekarna) sebagai wakapolri ini untuk menghilangkan adanya blok dikotomi. Mungkin banyak yang menyangkal adanya blok-blok ini, tapi sepernarnya ini terjadi.
Bisa bicara empat mata dengan Pak Nanan. Lalu menempatkan orang-orang Pak Nanan yang cakap di posisi yang strategis. Dengan begini, kendala psikologis (dari dalam tubuh Polri) akan mencair.
Kenapa Nanan? Semua sependapat Nanan lebih cakap, Nanan lebih unggul. Meskipun Timur masuk dalam nominasi, tapi dia ranking bawah. Secara matematika Nanan jauh lebih unggul karena sudah menjadi bintang 3 selama 8 bulan.
Diajukannya Timur oleh Presiden ini sebenarnya melanggar UU No 2/2002 tentang Kepolisian RI. Andaikata ini terjadi pada 2001/2002, ini bisa jatuh seperti Gus Dur dulu. Pelanggaran dilakukan pada pasal 11 butir ke-6. Padahal jelas disebutkan, pemilihan calon Kapolri harus mempertimbangkan jenjang kepangkatan dan karir.
Mereka memang seangkatan, sama-sama angkatan 78. Tapi Nanan bintang 3-nya sudah 8 bulan. Kalau Timur baru 3 jam jadi bintang 3 lalu diumumkan jadi calon kapolri. Soal penempatan (karir), Nanan pernah jadi Kapolda di Sumut juga pernah jadi Irwasum. Irwasum itu jabatan yang stategis.
Soal pendidikan juga Nanan lebih unggul. Dia pernah dikirim ke Bosnia dan Kamboja ikut Pasukan Garuda. Dia juga dua kali pendidikan di FBI.
Mestinya sesuai UU No 2/2002, maka memerintahkan Presiden untuk memilih calon Kapolri dengan prinsip kepangkatan dan karir. Seharusnya lebih melihat calon Kapolri yang seperti itu. Tapi memang melihat konstelasi politik, Senayan saat ini dikuasai fraksi koalisi SBY-Boediono. Kuat mereka. Kalau Partai Demokrat dan Golkar bersatu sudah mayoritas, maka tidak bisa oposisi menjatuhkan SBY. Ini karena parlemen dikuasai pemerintah.
Ada yang berpendapat fit and proper test hanyalah formalitas. Pendapat Anda?
Jelas. Sebelum fit and proper test, ada anggota DPR yang bilang ini semacam sinetron. Dia bilang, persoalan Timur sudah lolos, sudah jadi Kapolri terpilih. Ini artinya calon Kapolri yang lolos uji kelayakan, padahal uji kelayakan belum dimulai. Ini basa-basi.
Fraksi DPR anggota Setgab sudah diperintahkan untuk mengamankan Timur Pradopo. Mengamankan artinya berpihak kepada Timur. Bayangkan, setgab itu ada 6 parpol. Artinya mereka menduduki 80 persen dari kursi DPR.
Gayus Lumbuun dari PDIP mengatakan, PDIP nggak bisa apa-apa tapi akan tetap kritis. Walaupun mengakui realitas politik PDIP akan kalah tapi akan tetap kritis. Politik itu kan soal hitung-hitangan kekuatan.
Bagaimana Anda melihat jawaban Timur dalam fit and proper test?
Banyak sekali pertanyaan anggota Dewan tidak dijawab Timur. Kalau ujian sama saya, Timur tidak lulus. Ada kemungkinan pertanyaan sudah dikasih tau. Ibarat ujian, soalnya sudah dibocorkan. Orang kan kalau ujian nggak boleh baca. Kalau menguasai nggak akan lihat buku.
Soal pernyataan kalau budaya pungutan liar dan setoran ke atasan di Polri sudah tidak ada, saya tidak percaya. Sedikit banyak pasti masih ada.
Bagaimana dengan 10 program janji Kapolri yang disampaikan Timur?
Itu berat. Kemarin PPP dan PDIP memberikan catatan kritis. Karena itu Timur harus betul-betul melakukan komitmen. Yang pertama itu kan dia akan membongkar, membuka kembali kasus berat yang jadi sorotan publik. Berat tapi harus dilakukan.
Minggu depan Timur akan dilantik dan resmi duduk jadi Kapolri. LSM, media, Tjipta Lesmana, semua akan terus memantau dan mengkritisi apakah melaksanakan komitmennya. Orang ngomong di depan DPR kan sama dengan ngomong di depan rakyat Indonesia. Jadi nanti kita awasi apakah ini benar-benar atau sekadar ngibul atau asbun.
Meski ada yang kecewa dengan naiknya Timur, tapi harus tetap didukung kan?
Ya bagaimana lagi kan. Sekarang semua memberikan kesempatan kepada Timur untuk
melaksanakan. Babak pertama sudah selesai, selanjutnya semua harus mengawasi.
Kemarin 200 orang lebih menyaksikan, memantau fit and proper test. Artinya proses pencalonan ini mendapat perhatian sangat besar dari masyarakat luas. Karena semua punya mimpi, obsesi bisa membenahi institusi Polri yang belakangan ini hampir ambruk, istilahnya, karena borok-boroknya terbuka. Tapi saya percaya, sebagian besar LSM, media, masih mencintai polisi dan mengingkan Timur cepat membenahi segudang masalah internal.
Semua negara mempunyai institusi polisi. Kalau polisi memble, hukum jelek, kacau semua. Semua berkepentingan, jadi harus benar-benar dibenahi karena pasti akan selalu disorot dan diawasi.
(vit/nrl)











































