Menurut Anda, apakah Ahmad, pelaku peledakan di Kalimalang, Bekasi, terkait kelompok teroris?
Ada istilah lone wolf, serigala kesepian. Artinya bergerak sendiri, ada self radicalization karena punya ideologi yang sama. Misalnya saja Anda penggemar klub sepakbola Juventus. Saat Juve kalah, Anda sakit hati kan? Anda berpikir kalau punya duit dan bisa membantu Juve pasti akan Anda bantu.
Ini sama saja seperti lone wolf itu. Karena merasa perilaku polisi di ambang batas, misalnya saja dengan menangkap Abu Bakar Ba'asyir yang sudah 70 tahun, lalu ada berita tentang Muslim yang dianiaya, penyerangan saat salat maghrib. Hal itu direproduksi, sehingga entah benar atau tidak jadi sesuatu yang scary banget.
Ini bukan fenomena baru. Dulu di A&W (peledakan di restoran A&W Kramat Jati, Jakarta Timur pada 2006) kan begitu juga. Ada yang mengidentikkan diri dengan orang atau kelompok tertentu, padahal nggak ada hubungan. Ini menakutkan.
Lalu bagaimana mengantisipasi perkembangan serigala kesepian ini?
Kalau ada kabar atau pemberitaan polisi melanggar HAM, entah benar atau tidak seringkali dipandang benar oleh kalangan tertentu. Hal ini perlu dimitigasi. Misalnya dengan datang ke keluarga, mengundang keluarga, menjelaskan bagaimana persoalannya. Kerja public relations (PR) kepolisian perlu ditingkatkan.
Banyak yang tidak membedakan dugaan dengan fakta. Misalnya saja Abu Bakar Ba'asyir diduga penyandang dana, seharusnya harus bisa juga menampilkan fakta ini lho transfer dana dari Ba'asyir. Sehingga tidak ada dugaan miring.
Terkait dengan Abu Tholut, apakah mungkin dalam pelariannya, dia menjalin kerjasama dengan Umar Patek yang juga tengah dicari polisi?
Bisa saja. Segala kemungkinan itu ada, karena sudut pandang mereka sama. Tapi begini ya, orang yang disinyalir sebagai kelompok tertentu, terus disebut-sebut begitu, dia akan memiripkan sama apa yang disinyalir itu meskipun pada awalnya tidak begitu. Jadi mikirnya, ya sudahlah sekalian saja, karena saya sudah disebut begini.
Dalam pelariannya, mungkinkah Abu Tholut menggalang kekuatan?
Logika sederhananya ya bisa saja. Dulu saat buron, Noordin (Noordin M Top) kan bisa juga melakukan perekrutan.
Mengapa kelompok yang disebut teroris itu senang menggunakan senjata jenis AK?
Itu kan senjata yang banyak ada di polisi. Jadi di polisi itu ada gudang senjata bekas. Lalu ada pihak yang melakukan kanibalisasi, bagian senjata yang masih dipakai digabung dengan yang lain lalu dijual ke luar. Bisa saja ini yang beli kelompok itu. Selain juga mereka mendapatkan dari luar (negara lain, melalui penyelundupan).
Kelompok yang disebut teroris itu melakukan perubahan strategi, dari yang semula menggunakan bom, sekarang lebih cenderung menggunakan senjata api?
Itu lebih menakutkan. Karena kalau misalnya merekrut 10 orang, kesepuluhnya bisa dipakai. Kalau pakai bom hanya perlu beberapa 'pengantin', perlu penelitian tempat mana yang akan dibom.
Kalau pakai senjata api target yang ditakut-takuti menjadi jelas. Artinya masyarakat luas tidak ketakutan bukan?
Iya, tapi kelompok yang menjadi target juga ada hubungannya dengan masyarakat. Menurut mereka mungkin cara ini lebih efektif.
Mereka memilih kembali ke cara-cara awal teroris beraksi karena lebih suka tidak menggunakan bom?
Ya, dulu memang ada orang-orang yang menebarkan ketakutan dengan menggunakan sica atau dagger (belati) yang disembunyikan di balik jubahnya. Mereka adalah assassin. Mereka membunuh dengan senjata itu untuk menimbulkan kepanikan. Ini menunjukkan kenekatan dan keberanian juga.
(vit/nrl)











































