Bagi ayah satu anak ini, misi kemanusiannya ke Gaza akan menjadi oleh-oleh hidup yang tidak terlupakan.
Berikut petikan wawancara detikcom dengan pria yang akrab disapa Ovi ini di Paviliun Kartika, RSPAD Gatot Subroto, Selasa (8/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya sama istri memang punya komitmen untuk hidup seimbang kerja, sosial, dan ibadah. Ini salah satu caranya menjadi relawan.
Bagaimana awal mula Anda bisa berangkat ke Gaza?
Ini kan bukan perjalanan pertama saya, setahun yang lalu saya juga sudah berangkat ke Gaza untuk misi kemanusiaan. Waktu itu kita berhasil menembus Israel lewat Raffah, lima hari di sana. Kemudian tahun ini saya ingin melanjutkan lagi misi kemanusiaan ini.
Bagaimana awal kejadian penyerangan Israel ke ke kapal Mavi Marmara?
Waktu itu kami sedang salat subuh berjamaah, sekitar jam 4 pagi. Tiba-tiba terdengar seperti ada suara ledakan. Lalu saya keluar jaga-jaga di dek. Saya langsung berusaha menghalau mereka (tentara Israel) dengan menyemprotkan gas pemadam kebakaran. Tapi tidak ada gunanya, karena mereka menyerang juga dari atas helikopter.
Bagaimana Anda bisa terkena tembakan?
Saya berada di bagian luar kapal, berusaha menghalau kapal-kapal Israel. Tapi ternyata kapal-kapal itu hanya untuk mengalihkan perhatian kami. Mereka terus-terusan menembak dari atas helikopter. Saya tidak bisa menghindar. Dari sekian banyak peluru yang mereka tembakkan kena tangan saya.
Setelah tertembak, apa yang dilakukan?
Sudah tidak bisa apa-apa. Kapal sudah dikuasai oleh pihak Israel. Akhirnya kami para relawan dibawa ke dalam kapal dan semuanya diborgol. Yang saya ingat, setelah siang, dalam perjalanan kami dibawa ke Israel, kapal kami dikawal oleh dua kapal perang besar, dua kapal sedang, dan banyak speedboat.
Setelah dikumpulkan di dalam kapal, apa yang dilakukan tentara Israel?
Saya tidak lihat semuanya. Yang pasti yang saya lihat, orang Turki di depan saya ditendangi sama tentara Israel. Mungkin juga yang lain-lainnya dipukuli atau dianiaya.
Setelah sampai di Israel, apa yang dilakukan Israel pada relawan?
Setelah merapat di Israel, kami diinterogasi satu-satu. Lama itu, bisa sampai satu
jam per orang.
Apa yang ditanyakan Israel?
Mereka bertanya pakai bahasa Inggris. Lalu saya pura-pura saja tidak mengerti bahasa Inggris. Saya berbicara pakai bahasa Indonesia, mereka juga tidak mengerti. Akhirnya,saya diminta untuk menandatangani berkas-berkas berbahasa Ibrani, tapi saya tidak mau.
Mengapa Anda tidak mau menandatangani?
Karena ada seorang Palestina dalam kapal yang pernah ditangkap juga oleh Israel. Dia memberitahukan kami, kalau diminta tanda tangan berkas apapun jangan mau. Saya juga tidak mengerti, berkas itu pakai bahasa Ibrani. Jangan-jangan perjanjian yang merugikan, kita kan tidak tahu.
Setelah diinterogasi, Anda dibawa kemana?
Saya dan relawan lain yang terluka di bawa ke rumah sakit sementara yang lainnya dibawa ke penjara.
Apa Israel memberikan pengobatan?
Di sana, saya sempat diberi antibiotik dan disuntikkan serum. Tapi saya sempat tidak dikasih makan. Setelah siang saya baru dikasih makan. Gerakan saya juga sangat dibatasi. Mau ke toilet saja tidak boleh.
Berapa lama anda di rumah sakit?
Sehari, lalu dibawa ke penjara. Saya sempat dipindah ke dua penjara.
Bagaimana kondisi di penjara?
Suasananya gelap, sempit, kami berdua di dalam penjara. Kebetulan saya dengan orang Turki. Kami sesama WNI dipisahkan.
Apa ada perlakuan buruk dari Israel selama di penjara?
Yang pasti gerak kami sangat dibatasi. Seperti halnya orang dipenjaralah. Yang saya ingat sebelum ke penjara,saya sempat dijemur dalam mobil selama tiga jam saat menunggu dipindahkan dari rumah sakit ke penjara. Mobil tertutup, AC mati, padahal di situ panas.
Apa yang terpikir saat ditangkap oleh Israel?
Teringat keluarga pasti, tapi akhirnya saya berserah diri saja. Saya justru menyiapkan diri kalau saya lama dipenjara di sini (Israel). Saya buat program-program kalau saya sampai dipenjara lama. Rencananya saya akan menuntut ilmu di sini. Saya akan cari orang yang pandai membaca Al- Quran dan saya akan belajar. Sebab, saya lihat di penjara itu banyak hafiz (Ahli) Al- Quran.
Bagaimana pendapat Anda mengenai cara pemerintah menangani peristiwa ini?
Ya, saya sangat berterimakasih pada semua pihak. Pada pemerintah juga tentunya dan masyarakat yang sudah membantu dan mendoakan sehingga kami semua bisa pulang ke Tanah Air.
Setelah pulang ke Indonesia, apa yang Anda rasakan?
Tentunya saya senang bisa bertemu istri, anak, keluarga, dan teman-teman lagi. Satu hal yang saya rasakan, pertolongan Allah itu sangat dekat. Saya merasakan keajaibannya. Pertolongan itu dekat, tinggal bagaimana kita bersabar menunggunya. Pasti, pertolonganNya pasti datang.
Apakah setelah kejadian ini Anda tetap punya keinginan berangkat ke Gaza lagi?
Pasti, keinginan itu tetap ada. Tidak akan berhenti sampai Palestina merdeka, atau setidaknya blokadenya dibuka. Presiden sendiri juga menyebutkan kalau dia mendukung para relawan yang mau membantu Palestina.
Ada imbauan untuk para relawan lain?
Ya, tidak perlu takut kalau kita ingin membantu saudara-saudara kita di Palestina, sampai mereka merdeka.
(nwk/nwk)











































